by

Pengawasan Seperti Apa yang Dilakukan pada Waduk di Batam?

Waduk di Batam merupakan aset utama. Soalnya, waduk inilah yang menampung air baku.
Air baku inilah yang diolah menjadi air bersih dan dapat digunakan untuk seluruh
aktifitas masyarakat di Batam.

Guna menjaga waduk dari aktifitas ilegal, seperti memancing di area waduk, berkebun,
mendirikan bangunan, beternak, membakar lahan, mengeruk pasirnya, apalagi sampai
membabat hutannya, termasuk membersihkan waduk dari tumbuhan enceng gondok, dilakukan
pengawasan dan razia rutin oleh Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Direktorat Pengamanan Aset (Ditpam) BP Batam, dan pihak terkait lainnya.

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, dalam satu kesempatan mengatakan, pembersihan waduk dari enceng gondok merupakan peran pemerintah dalam menjaga ketersedian air di kota Batam.

“Ini sekaligus menunjukkan kepada masyarakat untuk bersama melestarikan lingkungan terutama waduk di Batam. Kegiatan ini juga sebagai upaya menyelamatkan air agar tidak berkurang dan bisa dinikmati, digunakan untuk keperluan masyarakat,” kata Rudi

Hal serupa dikatakan Kepala Kantor Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan. Dia mengungkapkan, pihaknya akan terus berupaya menjaga ketersediaan air waduk.

“Salah satu caranya adalah dengan alat harvester eceng gondok. Dengan adanya alat ini, dapat memulihkan waduk dari eceng gondok yang ada di waduk Duriangkang. Kita tahu, waduk ini merupakan waduk terbesar di Batam dan di dalamnya ada sumber air baku yang 70 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku di kota Batam,” jelasnya.

Tidak hanya itu, di area sekitar waduk, pengawasan rutin juga dilakukan dari pembalakan liar, penambangan pasir ilegal, dan lainnya. Salah satu dapat dilihat saat Ditpam BP Batam menghentikan kegiatan penambangan pasir ilegal di daerah tangkapan air Tembesi, sekaligus mengamankan pelakunya pada, Selasa (28/4/2020) lalu.

Penambangan pasir ilegal ini dapat mengganggu kelestarian lingkungan sekitar waduk yang berujung pada pencemaran lingkungan dan kerusakan sumber air di waduk.

Lalu, saat patroli pada Jumat (29/5/2020) lalu, tim Patroli Area Tangkapan Air (ATA) Ditpam Aset BP Batam juga menemukan adanya aktifitas illegal logging di kawasan hutan lindung Daerah Tangkapan Air Duriangkang.

Tim Patroli ATA Ditpam BP Batam yang dipimpin oleh Komandan Patroli ATA Dam Duriangkang Pius Sega, menemukan 30 batang kayu olahan dengan ukuran 10 x 20 cm dan panjang 4 meter.

Kasubdit Pengamanan Lingkungan dan Hutan Ditpam BP Batam, Tony Febri mengatakan, aktivitas illegal di daerah tangkapan air waduk Duriangkang akan merusak ketahanan waduk sebagai satu-satunya sumber air di Batam.

Demikian pula pada, Selasa (2/6/2020) lalu. Dalam patroli rutin, tim Patroli ATA Ditpam Aset BP Batam menangkap pelaku illegal logging sekaligus mengamankan barang bukti berupa kayu olahan di kawasan hutan lindung Daerah Tangkapan Air Duriangkang.

Penangkapan dipimpin langsung oleh Kasubdit Pengamanan Lingkungan dan Hutan, Tony Febri bersama Kasubdit Pengamanan Aset dan Objek Vital, Gunadi.

Waduk-waduk di Batam merupakan satu-satunya sumber air baku. Makanya, waduk ini sudah menjadi aset utama yang perlu dijaga. Jika waduk rusak, maka akan rusak pula sumber air di dalamnya.

Karena itu pula, Direktur Pengamanan Aset BP Batam Brigjen Pol. Mohammad Badrus, selalu mengingatkan jajarannya meningkatkan patroli pengamanan di seluruh hutan lindung daerah tangkapan air waduk.

Hal ini untuk memelihara zona ketahanan waduk dan menjaga sumber air di Batam dari aktifitas ilegal yang dapat merusak waduk dan air yang ada di dalamnya.

Dia juga menegaskan agar masyarakat tidak melakukan aktifitas ilegal di daerah tangkapan air di waduk-waduk di Batam. Sebab, kalau waduk rusak, maka Batam akan bisa krisis air. Ini jelas memberi dampak buruk bagi aktifitas masyarakat. (hkc/adv)

News Feed