by

Pendidikan Transformatif di Masa Pandemi Global

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Terinspirasi dari gagasan Mendikbud yang mengambil tema Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 dengan tema “Belajar Dari Covid-19”, sebagaimana yang dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 42518/MPK.A/TU/2020, tertanggal 29 April 2020, memberikan gambaran bahwa proses pendidikan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana pendidikan dilaksanakan.

Di Indonesia, pendidikan dari tahun ke tahun terus berbenah untuk meningkatkan kualitas. Untuk peningkatan mutu, kebijakan pendidikan di Indonesia menetapkan dan mengembangkan standar pendidikan sebagaimana di tuangkan dalam UU Pendidikan Nasional Nomor; 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam Pasal 35 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berskala, sementara dalam ayat dua dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Keberhasilan pendidikan harus diawali dengan keinginan yang kuat untuk melakukan berbagai strategi dan upaya pengembangan secara terpadu dan berkelanjutan. Hal ini sedang berlangsung secara periodik dan bertahap sesuai dengan kebijakan pembangunan nasional. Saat ini pendidikan kita sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang terus mengalami perubahan. Perubahan pada masyarakat terjadi secara berkesimbangunan dan berjalan relatif cepat. Perubahan yang terjadi lebih cepat dari perubahan pada pendidikan itu sendiri.

Dalam masa pandemi, dunia pendidikan tidak berdaya melawan arus kejahatan virus yang terus menjalar melalui kontak hubungan fisik dalam komunal sosial masyarakat. Seakan-akan kita pasrah dan menunggu terbitnya era baru pasca covid-19. Untuk menghadapi ketidakberdayaan itu pemerintah dengan tangkas mesti melakukan langkah-langkah strategis agar pendidikan nasional tetap eksis dan dapat dihandalkan.

Dengan kebijakan pemerintah dan didorong oleh situasi global yang sangat mendesak, negara-negara yang dilanda pandemik melakukan jump strategy dan memberlakukan new normal sebagai era baru peradaban dunia. Dalam kondisi atau era baru ini pendidikan harus mendapat tempat dan perhatian khusus untuk di bangun secara maksimal dan bertahap, agar generasi muda dapat terselamatkan dari ketertinggalan dan kebodohan. Untuk membangun generasi muda (SDM) melalui pendidikan, pemerintah harus meningkatkan kualitas dengan daya saing yang kuat dan bermutu. Daya saing pendidikan sekaligus akan menjadi daya saing bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Itulah sebabnya mengapa perlu tranformasi pendidikan segera dan penting untuk di lakukan.

Untuk meningkatkan daya saing pendidikan, secara nasional bangsa Indonesia harus berupaya untuk mampu mendorong daya penguat argument filosofis pembangunan dalam pendidikan. Sekurang-kurangnya pendidikan di Indonesia memiliki dua argument filosofis yang sangat strategis yaitu ; Filosofis-sosiologis dan filosofis-demografis. Secara filosofis-sosiologis , pendidikan di Indonesia harus mampu menjadi elevator social. Yaitu kemampuan mendorong dan memobilisasi warga mesyarakat secara vertical menuju status social , ekonomi, kemanusiaan, dan peradaban yang tinggi. Sementara secara demografis, pendidikan Indonesia harus mampu mengubah dan menggerakkan populasi penduduk produktif yang begitu besar. Dalam data sementara, anak-anak bangsa Indonesia yang produktif sekitar 45,93 juta pada usia 0-9 tahun, 43,55 juta pada usia 10-19 tahun (Prof. H. Sutrisno dkk: 2015). Merekalah yang akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) manakala mereka memiliki kualitas SDM yang handal di masa depan.

Untuk memacu kualitas mutu pendidikan di masa pandemik global saat ini , pendidikan di Indonesia harus menerapkan pola pendidikan secara holistic-strategic, baik dalam penerapan metode, pengelalolaan kelembagaan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, ataupun orientasi mutu yang lebih komprehensif dan terjamin. Untuk itu pendidikan nasional sudah saatnya lebih memperkuat dan menyempurnakan managemen mutu yang lebih efektif.

Istilah holistic pada awalnya digunakan dalam ilmu psikologi yang kemudian berkembang dalam khazanah ilmu pengetahuan lain, termasuk dalam dunia pendidikan. Secara mendasar holistik berarti berpikir secara menyeluruh dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin mempengaruhi tingkah laku manusia atau suatu kejadian (KBBI: 2008). Untuk itu, dalam dunia pendidikan istilah holistic merupakan upaya pendekatan strategi managemen mutu yang harus diarahkan kepada substansi nilai yang menyentuh kebutuhan manusia secara utuh dan mendasar. Kepentingan dan kebutuhan manusia secara mendasar tersebut tidak lain adalah terpenuhinya kebutuhan akan perubahan yang lebih baik secara jasmaniyah dan ruhaniyah (dalam paradigma lama disebut psikologis dan biologis).

Mutu pendidikan akan ditentukan oleh input dan output serta seluruh kombinasi pelaksanaan pendidikan. Untuk menuju kearah itu pendidikan di Indonesia harus di mulai dengan penerapan paradigma kombinasi baru. Paradigma kombinasi merupakan kemampuan menggunakan kombinasi teknologi, teologi dan eskatologi dalam satu kepaduan yang utuh. Dalam kombinasi paradigm ini tehnologi menjadi medium pembelajaran dengan pengawasan theologis secara ketat, sehingga proses pendidikan tidak terganggu dalam menuju cita-cita kehidupan manusia. Kita tidak akan menguraikan ketiga istilah itu satu persatu, yang pasti adalah , bahwa mengembangkan pendidikan secara holistik merupakan strategi kolektif dengan memadukan fungsi-fungsi pendukung dalam proses pendidikan. Dari kombinasi strategi ini diharapkan mutu pendidikan dapat tercapai dan dipertahankan sejalan dengan pertumbuhan masa depan generasi di Indonesia.

Disamping itu pendidikan juga harus berfungsi menjadi pemandu perkembangan fisik – jasmaniyah dan pembentukan psikhis –ruhaniyah. Kedua komponen ini adalah unsur kemanusiaan yang menjadi tujuan terbangunnya mutu pendidikan. Timbul pertanyaan mengapa harus terpadu dengan eskatologi.

Selama ini eskatologi hanya di fungsikan untuk membicarakan ajaran teologi mengenai akhir zaman seperti hari kiamat, kebangkitan segala manusia, dan surga atau neraka. Padahal eskatologi juga dapat dikembangkan untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap persoalan kepentingan dan kebutuhan manusia dalam kaitannya dengan pendidikan. Karena manusia sebagai makhluk Tuhan, maka manusia akan menghadapi kehidupan dan kematian. Pendidikan merupakan alat atau intsrumen terpenting untuk membangun manusia dalam kaitannya dengan proses kehidupan menuju kematian. Disilah urgensinya keterpaduan eskatologi dengan teologi dan tehnologi.

Penetrasi pendidikan dimasa pandemic global adalah suatu kemestian yang tak dapat diabaikan. Institusi pendidikan merupakan urat nadi pembangunan di bidang budaya dan kemanusiaan. Dari pembangunan budaya akan lahir peradaban manusia unggul yaitu sumberdaya manusia yang mampu bersaing, maju dan modern.
Oleh karena itu, indikator kemajuan pendidikan tidak lagi semata di ukur dengan statistik angka partisipasi siswa, tetapi lebih pada tingkat literasi nasional dan internasional seperti penguasaan baca tulis, pengembangan ilmu pengetahuan dan pengamalan serta kemampuan berinovasi dalam pengembangan sain dan tehnologi. Semoga saja pendidikan di Indonesia tetap berkembang dan maju meskipun pandemik vovid-19 belum berlalu. Aamiin. ***

News Feed