by

Simpul Kedalaman Makna Haji Mabrur

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag, M.H, Kakan Kemenag Lingga

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu orang-orang yang sanggup perjalanannya ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (terhadap Haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari Semesta Alam.” (QS. Ali Imran ayat 97).

Tertundanya melaksanakan ibadah Haji tahun ini, tidak berarti menggoyahkan niat umat Islam terhadap makna Rukun Islam yang kelima ini. Di seluruh dunia umat Islam menyadari bahwa pandemi global akibat Covid-19, merupakan dharurah syariyah yang dapat membatalkan hukum wajib dalam ibadah. Namun, demikian tahun haji atau bulan haji tetap menjadi momentum penting yang tak akan pernah hilang di bumi. Seluruh rangkaian ibadah sunnah di bulan haji tetap dilaksanakan seperti ibadah qurban dan sholat Idhul Adha.

Ibadah haji adalah ibadah yang bersifat istimewa yang tidak dapat dikerkajakan setiap waktu, tetapi ibadah dilaksanakan dalam waktu yang ditentukan dan di tempat yang disyari’atkan. Ibadah haji diperintahkan kepada manusia, pada mulanya dipraktikan oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Walaupun diperintahkan kepada seluruh manusia, namun tidak semua yang diseru dapat melaksanakannya.

Pada prinsipnya Haji merupakan perintah untuk melaksanakan perjalanan menuju Makkah dan Madinah yang di dalamnya terdapat kumpulan tata cara ibadah yang memerlukan tenaga, biaya, waktu, Ilmu, dan niat untuk beribadah. Di dalam ibadah haji terkumpul berbagai rangkaian ibadah yang sudah kita laksanakan selama di tnah air. Umpamanya, ibadah sholat, zakat, nazar, qurban dan berdo’a.

Ibadah haji merupakan ibadah yang mengandung dua perintah yang secara universal ditujukan kepada eksistensi kemanusiaan yaitu perintah kepada unsur keimanan (ruhiyah) dan unsur-unsur kemanusiaan (jasadiyah). Kedua unsur ini dipanggil sekaligus untuk melakukan perjalanan spiritual ke Baitullah untuk beraudiensi secara langsung. Sebab itulah Allah SWT menegaskan bahwa jika kita melaksanakan ibadah haji, maka musim haji itu adalah bulan yang dimaklumi, yaitu bulan Zulhijjah. Barangsiapa menetapkan niat dalam bulan itu akan melaksanakan haji maka tidak boleh bagi mereka Rofas (menimbulkan birahi/nafsu), Fusuk (Fasik rusak/kerusakan), Jidal (berbantah-bantahan) . karena semua itu diketahui Allah SWT. Berbekallah: “Sebaik-baik bekal adalah taqwa, hal itu nasihat bagi orang-orang yang berakal.”(QS. Al-Baqarah 197).

Rofas, fusuq dan Jidal adalah stadium ketaqwaan yang menjadi pondasi agama. Ketiga sifat ini mejadi penghancur tonggak keimanan seseorang. Ibadah haji mengingatkan kembali kepada manusia agar perjalanan hidup manusia tidak rusak oleh ketiga sifat tersebut. Untuk memperkuat kesiapan dan mematangkan rencana ibadah , maka rangkaian perjalanan ibadah haji di awali dengan niat.

Niat adalah komitmen hati yang paling dalam untuk menyatakan persetujuan dengan Allah swt, untuk melaksanakan perintah dan larangan yang telah di tentukan. Mulai dari awal keberangkatan, proses pelaksanakaan dan sampai pulang kembali ke tanah air. Mengawali perjalanan ibadah haji dengan niat artinya bahwa secara jasmanyah dan ruhaniyah kita telah menyatakan dihadapan Allah swt kesiapan dan keikhlasan untuk memenuhi panggilan ibadah yang ditentukan.

Perjalanan Ibadah haji merupakan perjalanan suci. Perjalanan yang menghendaki kesiapan Fisik-biologis dan fsikhis-fsikologis (istito’ah). Kesiapan itu harus dibarengi dengan ilmu pengetahuan, penghayatan dan pengamalan sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan (manasik). Panggilan haji adalah panggilan memenuhi perintah Allah SWT. Karena itu Ibadah haji mengisyaratkan kepada manusia untuk mempertegas kembali ke-Esaan Allah dalam bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang dibentangkan Allah dalam kehidupan manusia. Menunjukan bahwa segala pujian hanya layak untuk Allah SWT, tidak satupun makhluk di dunia ini yang layak dipuji. Memenuhi panggilah haji adalah komitmen manusia datang membawa janjinya untuk memenuhi amanat penciptaanya di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Pada hakikatnya perjalan Haji merupakan perjalan untuk datang kembali menemui wujud esensi fitrah manusia, yaitu fitrah ketika kita bersaksi dengan kebenaran al-Haq sebagai wujud Yang Maha Esa. Menurut Ibnu Arabi , perjalanan manusia dalam memenuhi panggilan untuk melaksanakan perjanjian suci itu ada dua macam yaitu;
Pertama disebut dengan Juzu’ Ikhtiyari. Yaitu panggilan kepada manusia yang mana manusia diberikan kesempatan untuk memilih dalam bentuk usaha melakukan pilihan. Manusia diberikan kesempatan memilih untuk datang atau tidak dalam memenuhi panggilan itu. Menurut Ibnu Arabi panggilan ini termasuk panggilan haji dan panggilan untuk melaksanakan ibadah lainnya seperti sholat, Zakat dan beramal lainnya. Manusia bisa berkehendak untuk tidak datang memenuhinya atau melaksanakannya.

Memenuhi atau tidak memenuhi panggilan Allah SWT dalam bentuk yang pertama ini sangat tergantung kepada motivasi dan potensi yang menggerakkan hati manusia. Apabila motivasi dan potensi yang menggerakkan didominasi oleh dorongan nafsu, maka yang akan terjadi adalah penolakan akan panggilan Allah SWT. Dan sebaliknya apabila motivasi dan potensi yang menggerakan adalah potensi nurani maka panggilan Allah SWT akan segera dipenuhi oleh manusia. Tentu saja kita sangat berkeinginan bahwa motivasi dan potensi yang menggerakan dalam memenuhi panggilan Allah SWT adalah potensi ruhani.

Kedua, disebut dengan Juzu’ ihdhirari, yaitu panggilan kepada manusia yang mana panggilan ini manusia tidak dapat lari darinya. Juzu’ ihkdhirari adalah panggilan untuk kembali kepada asal penciptaan. Panggilan ini adalah pangilan maut alias kematian. Sebab itulah Al-Quran mengajarkan bahwa apabila ditimba musibah kematian maka orang yang masih hidup mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun. Sebagai mama di jelaskan dalam Qs : al-Baqarah 155 ).Yang artinya : “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kata Rajiun, bermakna kembali yaitu kembalinya roh yang dititipkan yang dulu ditiupkan Allah SWT, kedalam jasad manusia. Manusia tidak tidak memiliki kekuatan apa-apa terhatap keberadaan roh yang dimilikinya. Karena ruh adalah urusan Allah SWT, dan hanya Dialah yang Maha berkehendak untuk mengendalikan kapan ruh itu dikembalikan dan kapan di tiupkan hanyalah semata-mata kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Panggilan Haji adalah panggilan ikhtiyari , maka panggilan ini menuntut manusia untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia mengikuti kehendak nurani dan menolak kehendak nafsu. Dengan demikian perjalanan haji menjadi perjalanan suci yang dipenuhi dengan cahaya-cahaya Rabbaniyah yang bagitu indah dimata Allah swt. Kemampuan manusia untuk memenuhi panggilan Haji melalui dorongan pancaran cahaya Ilahiyah adalah wujud dari makna panggilan haji. Inilah haji yang Mabrur, haji yang mencerminkan kebaikan dalam setiap perilaku dan langkah hidup seseorang.

Sebab itu, Haji yang Mabrur adalah haji yang memberikan banyak kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain, baik kebaikan jasmaniyah maupun kebaikan ruhaniyah dan yang paling esensi adalah kebaikan duniawi dan ukhrawi. Haji mabrur adalah haji yang membimbing hidup manusia kepada jalan kedekatan kepada Allah swt. Dia dekat dengan Allah dan Allah pun dekat dengan dia. Kesanalah tujuan ibadah haji, dan itulah simpul kehidupan yaitu kehidupan surga yang indah yang membahagiakan manusia dengan segala kenikmatan. Allahu a’lam bi – al- shawab.***

News Feed