by

Apa Program BP Batam Atasi Krisis Air di Batam?

Sejak beberapa waktu terakhir, Batam kerap mengalami krisis air akibat musim kemarau. Kondisi itu sangat berdampak terhadap aktifitas masyarakat di daerah ini. Diketahui, air merupakan “jantung” bagi Batam. Tanpa ada air, kawasan industri ini tidak akan bernilai kompetitif bagi kalangan investor.

Seringnya Batam mengalami krisis air, membuat Badan Pengusahaan (BP) Batam melakukan sejumlah program untuk mengatasi masalah tersebut. Apa saja program yang dibuat?

Salah satunya adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL merupakan sebuah proyek yang bertujuan untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air, terutama limbah dari perumahan masyarakat sehingga air yang diolah tersebut dapat dialirkan ke waduk sebagai air baku dan dapat digunakan untuk aktivitas yang lain.

Dengan adanya IPAL, air yang masuk ke waduk-waduk merupakan air yang baik. Dalam arti sederhana, air yang dialirkan ke waduk adalah air yang sudah tidak bercampur dengan zat-zat kimia dan biologis.

Untuk tahap awal, proyek ini sudah hampir rampung. Dan diperkirakan akan beroperasi awal 2021 mendatang.

Bagaimana IPAL ini dijalankan? Manajer Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, menjelaskan, setiap rumah di Batam akan disambungkan dua pipa, yaitu pipa air tinja dan pipa air cucian (dapur).

“Air limbah berupa air tinja, air bekas mandi, dan air cucian (dapur) akan mengalir melalui pipa yang dipasang di setiap rumah menuju ke bak kontrol. Dari bak kontrol, limbah ini akan dikirim ke IPAL yang ada di kawasan Bengkong Sadai. Dari IPAL inilah air yang sudah bebas dari bahan kimia dan biologis dialirkan ke waduk-waduk sebagai air baku,” terang Iyus melanjutkan.

“Dengan adanya air bersih usai diolah di IPAL, maka, waduk-waduk di Batam tidak akan kekurangan pasokan air baku untuk diolah jadi air layak digunakan masyarakat. Dengan begitu, krisis air di Batam dapat diatasi meskipun musim kemarau terjadi,” jelasnya.

Iyus juga menjelaskan, dari proses pengolahan air limbah itu, akan dihasilkan air baku dengan kapasitas 20 ribu meter kubik per hari atau setara dengan 230 liter per detik.

“Selain itu, juga akan menghasilkan kompos 18 meter kubik per hari,” tambahnya.

Dia juga mengatakan, setelah IPAL dioperasikan, rumah-rumah di Batam tidak akan ada lagi septic tank. Soalnya, saluran pipa yang dipasang akan terkoneksi secara otomatis ke pengolahan air limbah.

Dia mengungkapkan, proyek IPAL ini akan dibuat di tujuh kawasan di Batam, yakni, Batam Centre, Tanjung Uma, Bengkong, Telaga Punggur, Tembesi, Sekupang, dan di Kabil.

“Untuk tahap awal, proyek dilaksanakan di Batam Centre. Hal ini dikarenakan air limbah di kawasan ini langsung menuju waduk Duriangkang yang merupakan waduk terbesar di Batam. Kita ingin, sebelum air itu menuju waduk tersebut, limbahnya disaring dahulu agar kualitas air baku di waduk Duriangkang tetap terjaga,” tuturnya lagi.

Program kedua adalah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang biasa disebut hujan buatan. Dalam hal ini, BP Batam bekerjasama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sutrisno, Koordinator Lapangan TMC Batam, mengatakan, TMC atau dikenal hujan buatan ini, merupakan intervensi proses pertumbuhan awan.

“Bisa untuk menambah atau mengurangi curah hujan di satu wilayah,” jelasnya.

Untuk di Batam, lanjut Sutrisno, pihaknya fokus menambah curah hujan dengan melakukan penyemaian awan di atas waduk-waduk yang ada di Batam.

“Kenapa awan-awan yang ada di sekitar waduk? Ini berkaitan dengan geografis Batam yang rata-rata datar. Saat awan di atas waduk disemai, harapannya, hujan yang turun bisa di area waduk-waduk di Batam. Dengan turunnya hujan di area waduk, maka diharapkan volume air di waduk-waduk di Batam bisa bertambah. Ini bisa mengatasi krisis air yang kerap terjadi di daerah ini,” tambahnya lagi.

Dia mengungkapkan, kegiatan TMC yang baru-baru ini dilaksanakan di Batam berlangsung selama 30 hari.

“Sejak teknologi ini diterapkan, debit air di sejumlah waduk di Batam menunjukan peningkatan,” paparnya.

Dia memberi contoh, sampai Rabu (24/6/2020) lalu, debit air di Waduk Duriangkang naik setinggi 37 cm, Waduk Muka Kuning 46 cm, waduk Nongsa 35 cm, dan Waduk Sei Harapan 83 cm,” jelasnya, Rabu siang (24/6/2020) lalu di Bandara Hang Nadim Batam.

Manajer Air Baku Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Hadjad Widagdo, dalam sejumlah kesempatan, mengungkapkan, titik fokus penerapan TMC ini adalah hujan di area waduk.

“Dengan begitu diharapkan debit air waduk di Batam bisa naik lagi,” ucap Hadjad. (hkc/adv)

News Feed