by

Tuntaskan Perkara Kabel Bawah Laut, ASKALSI Beri Penghargaan Polres Karimun

KARIMUN (HK)-Asosiasi Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (ASKALSI) memberi penghargaan kepada Polres Karimun terkait penanganan perkara kerusakan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) Palapa Ring Barat yang terjadi di perairan Tanjungbalai Karimun pada 4 Juli 2019.

Penghargaan tersebut diserahkan Ketua Umum ASKALSI, Lukman Hakim kepada Kasat Reskrim Polres Karimun AKP Herie Pramono di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2020).

“Penghargaan ini bentuk apresiasi kepada Polri, khususnya Polres Karimun atas kinerja dalam penanganan perkara I (Pertama) bidang telekomunikasi terkait pengrusakan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) Palapa Ring Barat,” ujar Lukman Hakim.

Kata Lukman, kasus ini berawal pada 4 Juli 2019, terpantau dari sistem monitoring PT Ketrosden Triasmitra telah terjadi gangguan disebabkan putusnya koneksi pada SKKL PRB di sekitar perairan Tanjungbalai Karimun.

“Tim patroli Triasmitra kemudian menemukan ada kapal tugboat TB Bintang Ocean 3 dan tongkang Winbuild 2312 berbendera Singapura milik Hai Seng Marine Pte Ltd yang sedang berlabuh jangkar di lokasi yang diperkirakan terjadi kerusakan,” ujar Lukman Hakim.

Kemudian saat dimintai keterangan, nahkoda tugboat TB Bintang Ocean 3 bernama Djunaidi Tan yang menarik tongkang tersebut mengakui bahwa kapal tersebut tidak bisa bergerak karena jangkar tongkang tersangkut sesuatu. Nakhoda tugboat menduga itu wire, sehingga nakhoda kapal akhirnya terpaksa memutus tali jangkar tongkang tersebut.

Dikatakan, setelah melakukan penyelaman di sekitar lokasi yang diperkirakan terjadi kerusakan telah ditemukan jangkar tongkang Winbuild 2312 yang ditarik oleh Kapal tugboat TB Bintang Ocean 3 milik Hai Seng Marine Pte Ltd.

“Saat ditemukan jangkar tersebut dalam kondisi tersangkut pada kabel fiber optik Palapa Ring Barat dan kondisi kabel sudah dalam keadaan terputus atau rusak. Tim Triasmitra kemudian melaporkan hal tersebut kepada Polres Karimun,” jelasnya.

Polisi akhirnya menetapkan Djunaidi Tan sebagai tersangka atas rusaknya SKKL PRB yang menimbulkan gangguan fisik dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi.

Perjalanan kasus tertabraknya kabel optik oleh kapal asing berbendera Singapura tersebut cukup panjang. Nakhoda kapal tugboat, Djunaidi Tan akhirnya divonis 2 tahun penjara pada sidang putusan di Pengadilan Negeri Karimun pada 18 Mei 2020 lalu. Sementara, eksekusinya baru berlangsung awal Juni 2020.

Dia dituntut dengan Pasal 55 Jo. pasal 38 Undang-undang No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi dengan hukuman penjara 3 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. (ham)

News Feed