by

Membangun Iklim Ilmiah di Era Baru Pendidikan pada Madrasah

  • Oleh. H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Berkembangnya paradigma demokrasi ilmiah dalam dunia persaingan mutu pada lembaga-lembaga pendidikan saat ini memberikan dampak signifikan terhadap tingginya animo masyarakat di berbagai negara. Para ilmuwan telah berkomitmen bahwa mutu pendidikan, apakah pendidikan umum ataupun agama dapat bersaing dengan mutu yang lebih baik apabila dapat mempertahankan kualitas dengan berorientasi kepada mutu. Paradigma domograsi ilmiah merupakan salah satu upaya mewujudkan persaingan mutu dalam dunia pendidikan.

Madrasah merupakan sekolah umum berciri khas agama Islam. Kekhasan madrasah bukan saja pada jumlah mata pelajaran agama Islam yang lebih banyak dari yang ada di sekolah. Lebih dari itu kekhasan madrasah adalah tata nilai yang menjiwai proses pendidikan pada madrasah yang berorientasi pada pengamalan ajaran agama Islam yang moderat dan holistik, berdimensi ibadah, berorientasi duniawi sekaligus ukhrawi sebagaimana telah terejawantahkan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan formal, madrasah adalah lembaga yang berfungsi membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melahirkan generasi-generasi unggul di masa depan. Untuk itu Madrasah harus mampu melakukan inovasi untuk berubah kearah yang lebih baik. Sudah saatnya masdrasah memiliki strategi yang tepat untuk mewujudkan program-program terpadu untuk menghadapi era baru pendidikan di masa datang. Madrasah harus berbenah untuk menghadapi perubahan, harus fokus pada modal yang tidak kasat mata (intangible capital) dari pada modal yang kasat mata (tangible capital).
Modal yang tidak kasat mata (intangible capital) yang kita maksudkan adalah perubahan orientasi pada visi, semangat, kemauan, idealisme, the need for achievement , kemampuan membangun network, branding, trust, dan modal social lainnya.

Secara prinsip madrasah memilki potensi yang cukup strategis untuk membangun mutu di era perubahan baru pendidikan saat ini. Diantara potensi yang dapat kita kembangkan adalah semangat reformasi dan inovasi dalam pengelolaan lembaga madrasah dan membangun budaya akademik. Kedua alasan tersebut sangat mendesak harus dilakukan, karena era baru pendidikan akan dipengaruhi oleh poros-poros globalisasi yang terus melaju menuju perubahan yaitu ; perubahan pola fikir masyarakat, perubahan dunia yang sangat cepat, kemajuan tehnologi, perubahan standar hidup, perkembangan ekonomi akan semakin mengglobal, peran wanita sangat kuat, tidak ada diskriminasipekerjaan, dan peran media masa terus menguat ( William J.Mathis : 2010 ).

Untuk itu reformasi pendidikan masdrasah mesti dilakukan dalam dua karakteristik mendasar yaitu secara terprogram dan secara sistematik. Reformasi terprogram menunjuk pada kurikulum dan program institusi madrasah yang di dalamnya sarat dengan inovasi-inovasi yang membangun. Inovasi ini merupakan tindakan memperkenalkan ide-ide baru, ataupun metode baru dalam pencapaian tujuan pendidikan. Untuk saat ini sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama yang memberlakukan KMA Nomor : 183 Tahun 2019 Tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan bahasa arab pada madrasah . KMA Nomor : 183 Tahun 2019 ini urgenensinya adalah mempertegas kembali beberapa hal terhadap dimensi kurikulum yaitu pertama ; mengenai rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran. Sedangkan yang kedua ; adalah cara yang digunakan untuk penyelenggaraan pembelajaran.

Sebagai sebuah inovasi dalam pemcapaian mutu pembelajaran , maka ruang lingkup yang menjadi sasaran dalam KMA Nomor : 183 Tahun 2019 ini adalah menyangkut dengan kerangka dasar kurikulum PAI dan bahasa arab, standar kompetensi lulusan dan standar isi PAI dan bahasa arab, pembelajaran PAI dan bahasa arab, penilaian PAI dan bahasa arab, kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) PAI dan bahasa arab pada madrasah ( KMA : No. 183, Bab 1 Poin D). Langkah demikian merupakan bagian dari upaya untuk membangun iklim ilmiyah menuju madrasah yang lebih handal.

Madrasah harus dikembangkan mengacu kepada beberapa pilar sebagai berikut; 1) pilar keagamaan, yakni nilai-nilai agama Islam harus menjiwai dan mewarnai praktik pendidikan madrasah; 2) kebangsaan yaitu praktik pendidikan madrasah tidak boleh lepas dari konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta ber-Bhinneka Tunggal Eka; 3) kemandirian, berarti pola pegelolaan dan pengembangan pendidikan madrasah bertumpu pada kekuatan dan kepercayaan diri sendiri, tampa bergantung kepada fihak lain sebagai manifestasi dari pendidikan dari, oleh dan untuk umat sebagaimana awal perkembangan madrasah; 4) keumatan, yaitu pendidikan madrasah harus dekat dengan umat, bisa merasakan denyut nadi kehidupan umat dan melayani kebutuhan umat; dan 5) kemodernan, berarti pengelolahan madrasah selalu mengikuti perkembangan zaman, mengadaptasi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi, namun tetap menjaga tradisi yang sudah baik dan terns secara berkelanjutan mengembangkan tradisi lebih baik lagi sebagai jati diri bangsa Indonesia. Ke lima pilar tersebut menjadi pertimbangan dalam tata kelola pengembangan madrasah di era baru pendidikan. Secara sistematik reformasi pendidikan masdrasah mengacu kepada managemn berbasis sekolah. Hal ini merupakan bentuk tuntutan perubahan masyarakat yang terus berkembang maju.

Selanjutnya untuk membangun iklim ilmiyah pendidikan madrasah kedepan, dapat pula dilakukan dengan mereformasi budaya akademik. Selama ini budaya akademik madrasah terfokus pada fungsi-fungsi formal beban tugas masing-masing tenaga pendidikan. Baik guru ataupun tenaga pengeelola lembaga. Sehingga mutu madrasah terkesan sangat sulit ditingkatkan. Budaya akademik ( academic culture ) harus dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai, dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik di lingkungan madrasah. Masyarakat akademik yang dimaksud adalah guru, siswa, orang tua dan seluruh masyarakat atau orang-orang yang ada kaitannya dengan pelaksana fungsi-fungsi lembaga madrasah. Budaya ini mestilah dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan diri dalam aktivitas pendidikan di madrasah. Dalam budaya akademik pendidikan madrasah dilakukan dalam beberapa karakteristik yaitu ; penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif, pemikiran rasional dan kritis-analitis dengan tanggung jawab moral, kebiasaan membaca, penambahan ilmu dan wawasan, kebiasaan meneliti dan pengabdian masyarakat, penulisan artikel, makalah dan buku, diskusi ilmiyah, proses belajar mengajar, dan selalu mengembangkan diri dengan berbagai ketrampilan ( Darmaningtyas : 1999 ).

Karekteristik demikian, harus dibudayakan secara terus menerus dengan motivasi yang tinggi oleh setiap peribadi tanpa kecuali. Dengan demikian mudah-mudahan mutu madrasah terus dapat ditingkatkan dengan kuatnya basis iklim budaya ilmiyah di madrasah. Selamat memasuki era baru pendidikan semoga madrasah tetap hebat dan bermartabat.***

News Feed