by

Tetap Membaik, Meski Penyaluran Kredit BPR Dibayangi Pandemi

JAKARTA (HK)-Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total kredit bank perkreditan rakyat Rp111,40 triliun naik 8,11 persen secara tahunan. Kinerja fungsi intermediasi bank perkreditan rakyat (BPR) diperkirakan masih dapat positif pada tahun ini meski melambat.

Pandemi virus corona diakui memberi tekanan pada penyaluran kredit, tetapi masih banyak industri segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membutuhkan pembiayaan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kredit bank perkreditan rakyat Rp111,40 triliun naik 8,11 persen secara tahunan.

Meski masih tinggi dibandingkan dengan industri perbankan secara keseluruhan, fungsi intermediasi ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tahun lalu yang masih berada di atas 10 persen.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Djoko Suyanto cukup yakin kinerja bank wong cilik ini masih mampu tumbuh positif.

“Pasti akan tetap positif. Bahkan sampai semester pertama juga masih psositif dan akan bertahan hingga akhir tahun,” ujarnya belum lama ini.

Ia mengatakan, BPR pada paruh pertama tahun ini cukup fokus pada restrukturisasi kredit. Namun, BPR telah mendapat keringanan karena otoritas pengawas memberi relaksasi aturan restrukturisasi.

Selain itu, OJK pun memberi relaksasi lanjutan berupa pelonggaran aturan perhitungan batas maksimum penyaluran dana (BMPD), penghentian penilaian aset yang diambil alih (AYDA), sekaligus efisiensi beban pendidikan karyawan.

“Dari sisi ini, BPR mendapat keringanan untuk dapat terus melanjutkan bisnisnya, sehingga debitur potensial pun masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelanjutan bisnisnya,” ucapnya.

Di samping itu, dia menyebutkan pengelolaan kepercayaan masyarakat dari OJK dan otoritas terkait selama masa pandemi juga cukup baik. Hal ini juga berdampak baik bagi BPR untuk terus menjaga dana serta tak terdampak pada kondisi likuiditas kritis. [*]

sumber:bisnis

News Feed