by

Renungan Ibadah Haji

  • Oleh: Dr.H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”(Q.S.22:27)

Di dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwasanya ayat di atas ditujukan
kepada Nabi Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As berkata kepada Allah SWT: “Wahai Tuhan! Bagaimana suaraku akan sampai kepada manusia yang jauh?”, Allah SWT berfirman, “Serulah! Aku yang akan membuat suaramu sampai!”.

Nabi Ibrahim kemudian naik ke gunung Abu Qubais dan kemudian menyerukan:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk berhaji ke Baitullah agar kalian mendapatkan syurga dan mengelakkan/menjauhkan kalian dari azab api neraka. Oleh Karena itu, laksanakanlah haji’ Maka para janin manusia yang (masih ada) di dalam tulang rusuk pria dan rahim wanita menjawab, ’Labbaik Allahumma Labbaik’. Siapa yang pada saat itu menjawab panggilan sekali, dia akan berhaji sekali, dan sesiapa yang menjawab lebih banyak, dia akan berangkat haji sebanyak jawabannya, dan berlakulah talbiyah dalam ibadah haji” (Al-Qortoby (Tt). (Malik bin Anas (Tt :271)

Perjalanan ibadah haji disebut sebagai Rihlah Ruhiyyah atau “Spiritual Journey” yang bermakna Perjalanan Rohani, di samping menjadi sejarah dan perjuangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar serta anaknya Ismail. Ibadah haji juga merupakan perjalanan ke arah keabadian.

Ibadah haji berfungsi untuk mengembalikan manusia pada kesadaran fitrahnya, sekaligus peneguhan bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.

Haji adalah satu perjalanan yang akan membawa seseorang kepada tujuan “al –
hajat” dan karenanya orang yang telah sampai pada tujuannya dipanggil al – Hajj atau hajun atau haji.

Tidak mudah untuk mencapai matlamat (Haji) ini. Seseorang musti menempuh satu perjalanan yang panjang, yang penuh dengan ujian dan rintangan. Karena itu, ada yang gagal di tengah jalan dan ada juga gagal sebelum berangkat.

Orang yang pergi haji harus mampu dalam hal keuangan, kesehatan, dan aman dalam perjalanan. Kalau saat ini pemerintah tidak memberangkatkan jamaah untuk pergi haji akibat adanya pandemi Covid-19, itu adalah keputusan yang tepat.

Namun, ibadah haji bukanlah monopoli orang kaya, yang paling utama sesungguhnya adalah adanya Niat, karena Innamal’amalu binniat, kemudian tekat dan kemauan, tentunya juga usaha. Pepatah mengatakan, dimana ada kemauan di situ ada jalan.

Jangan berkecil hati bagi saudara-saudara yang belum pernah ke Tanah Suci, karena Allah SWT punya cara untuk menyampaikan hajat kita, sudah banyak buktinya. Kalau di tv ada kisah tukang bubur naik haji, didunia nyata saya juga pernah bertemu petugas kebersihan naik haji, karena kerjanya bagus lalu diberikan hadiah sebagai Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) oleh Pemerintah daerahnya. Ada juga pemulung yang mengais rezeki dari tumpukan-tumpukan sampah ternyata Februari 2020 kemarin berangkat umroh bersama saya. Bila kita memosisikan diri sebagai orang yang mampu, maka Insyaallah akan ada usaha dan jalan untuk menunaikan niat mulia itu.

Buatlah “Allah tersenyum” dan selalulah minta do’a kebajikan pada sesama insan, karena kita tidak tahu dari mulut siapa akan Allah SWT kabulkan.**

Tarempa, 09 Juli 2020

News Feed