by

Artikulasi Nilai Qurban untuk Kemanusiaan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag.,M.H, Kakan Kemenag Lingga

Sebentar lagi umat Islam akan bertemu kembali dengan Hari Raya Haji atau yang sering disebut dengan Hari Raya Qurban. Perintah berqurban merupakan ibadah yang memiliki nilai transendental ketuhanan dan nilai sosial kemanusiaan. Perintah qurban berawal dari sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail, ketika Ibrahim as, sampai kepada puncak keyakinannya bahwa Allah SWT memerintahkan untuk menyemblih anaknya Ismail as. Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah perintah qurban dalam syariat Islam. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS:37:102, yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S. ash-Shaffāt [37]: 102).

Qurban adalah Syariat ibadah yang diajarkan Islam melalui sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail as, yang diwahyukan Allah SWT untuk kepentingan manusia. Melalui bimbingan wahyu Ibrahim as dan manusia mendapatkan pegangan yang pasti dan benar dalam menjalani hidupnya, untuk membangun iman yang kokoh dan utuh. Syariat Qurban memiliki dua dimensi penting dalam kaitannya dengan fungsi kehadiran manusia di bumi ini.

Dimensi pertama adalah bersifat vertical dimentional yaitu dimensi ibadah yang bersifat ritual keagamaan berbasis personal hubungan manusia dengan penciptanya. Dalam hal ini manusia hadir ke bumi membawa misi ketuhanan. Meng-Esakan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya. Manusia memiliki sent of belonging untuk mengakui bahwa dirinya adalah makhluk Allah SWT. Dia telah menciptakan manusia agar manusia menyembahnya. Melalui keimanan, manusia menyandarkan hidupnya kepada Allah SWT, satu-satunya Zat Yang Maha Absolut dan Maha kasih.

Bila iman diawali dengan hubungan intim antara seseorang dengan Tuhannya yang bersifat amat pribadi, maka implikasi keimanan seseorang cenderung bersifat sosial. Karena bersifat sosial, maka seseorang yang mengakui beriman semestinya senantiasa memegang teguh amanah yang dipercayakan kepadanya. Diantara amanah yang diamanahkan itu adalah amanah menjaga kehidupan ini.

Kedua dimensi vertical dimentional, yaitu dimensi sosial. Dimensi ini manusia dituntut menunjukkan konsekuensi iman. Dalam dimensi ini manusia diminta menunjukkan aktualitas iman dalam bentuk nyata. Inilah keberagamaan yang fungsional. Yaitu keberagamaan yang nyata bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk lainnya. Di sini iman di apresiasi dalam kata kerja, sehingga mendekati Allah SWT, tidak cukup hanya sekedar mengucapkan kalimah kesaksian (syahadah) secara verbal. Dalam pandangan theologis telah berulang dikatakan bahwa Tuhan itu dekat dengan kita. Ia adalah lautan kasih tak bertepi. Ia adalah Sang Surya yang senantiasa meancarkan kehangatan dan sumber kehidupan bagi semua makhluk-Nya. Dari sinilah ibadah qurban akan berfungsi sosial yaitu fungsi kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh orang lain akan manfaat ibadah yang dilakukan.

Ibadah qurban adalah ibadah fungsional yang manfaatnya dapat dirasakan oleh fakir miskin. Karena qurban adalah perintah ibadah, maka melaksanakan qurban sejatinya semata-mata karena Allah dan untuk Allah SWT. Namun, wujud material dagingnya disampaikan dan dinikmati oleh fakir miskin. Dari sini lahirnya formulasi semangat ibadah, bahwa dalam Islam pengabdian atau penghambaan kepada Allah SWT yang bersifat vertikal mesti membawa dampak nyata untuk kebaikan bagi kehidupan sosial yang bersifat horizontal. Ini juga tercermin dalam berbagai ibadah lain, seperti puasa, zakat dan lain sebagainya.

Dengan demikian qurban, yang derivasi katanya berarti “dekat” telah menjadi bahasa Indonesia seperti dalam kata teman karib atau kekerabatan. Dengan menyembelih hewan qurban, berarti untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, adalah dengan jalan mendekati dan menyayangi fakir miskin yang disimbolisasikan dengan pemberian daging hewan qurban. Sebab itu Al-Quran Surat Al-Hajj : 36 menyebutkan bahwa ; “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (QS Al-Hajji:36). Dalam ayat ini yang sampai kepada Allah SWT adalah ketaqwaan, adapun daging qurban untuk dinikmati manusia.

Jadi semangat berqurban adalah semangat berbagi. Semangat untuk membangun kebersamaan dalam senang dan susah. Tentunya jika kita lihat dari kontek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, apalagi saat negeri ini dilanda pandemi covid-19 yang belum kunjung selesai. Kita sangat membutuhkan pola beragama fungsional yang menekankan orientasi kemanusiaan. Hidup beragama harus bermuara pada komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemnasiaan, tanpa harus terhambat oleh sentiment apa saja yang dapat menghambat ataupun membatasinya.

Dengan demikian Ibadah qurban merupakan ibadah kemanusiaan, yang menyentuh nilai-nilai kehidupan sosial untuk menuju kehidupan yang adil dan sejahtera. Kehidupan yang saling berbagi bukan kehidupan yang saling mencaci dan membenci.

Semoga ibadah qurban yang sebentar lagi kita laksanakan memberi peluang dan semangat untuk mewujudkan rasa kebersamaan dalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda negeri ini sebagai dampak pandemi global yang belum kunjung teratasi. ***

News Feed