by

Pengembangan Apa yang Dilakukan BUP BP Batam?

Ada sejumlah pengembangan akan dilakukan oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Badan Pengusahaan (BP) Batam saat ini.

Direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, Nelson Idris, dalam sebuah kesempatan mengungkapkan, salah satu yang akan dilakukan pihaknya adalah membangun depo kontainer di Pelabuhan Batuampar.

“Pembangunan ini akan dilakukan di lahan seluas 10 ha,” ucapnya.

Ia menjelaskan, depo kontainer atau area penampungan kontainer sementara, sangat diperlukan guna menekan biaya logistik yang selama ini dikeluhkan para pengusaha.

Salah satu penyebab tingginya biaya logistik karena tidak tersedianya area kontainer kosong yang memenuhi standar internasional.

Makanya, ujar Nelson, pihaknya akan memfokuskan pembangunan ini.

“Lahan ini sekitar 10 ha dengan jarak ke pelabuhan Batuampar hanya sekitar 750 meter. Lahan dapat dimanfaatkan sebagai area depo peti kemas, stuffing/stripping, cleaning, dan repairing container,” ucapnya menjelaskan

Selain pembangunan depo kontainer tersebut, BUP BP Batam juga akan mengembangkan fasilitas Ship to Ship (STS) yang sudah dimulai sejak Maret 2020 lalu.

STS adalah kegiatan proses alih muatan antarkapal atau bongkar dan transfer muatan antar dua kapal yang diposisikan berdekatan.

Fasilitas ini, ucap Nelson, berpotensi meningkatkan pendapatan negara yang selama ini belum tergarap.

Pemasukan yang dapat diperoleh dari penerapan STS ini, lanjutnya, berupa tarif bongkar muat dari kapal induk ke kapal anak dan sebaliknya, serta biaya labuh yang dibebankan per kapal.

“Lewat kegiatan ini, BUP BP Batam dapat meraup penerimaan negara dalam bentuk biaya labuh dan sharing untuk kegiatan bongkar muat,” tuturnya lagi.

Tidak hanya itu, BUP BP Batam juga melihat adanya potensi pemasukan cukup besar dari kegiatan pemanduan kapal.

“Ini mengingat strategisnya perairan Batam yang kurang lebih dilalui 70 ribu kapal tiap bulannya. Penyediaan fasilitas pemanduan ini dirasa cukup potensial menjadi sumber pendapatan,” tuturnya.

Jika dihitung, pendapatan dari jasa pemanduan (TSS) bisa mencapai tiga kali lipat dibanding sumber pemasukan lainnya.

“Pemanduan ini luar biasa penghasilannya. Satu kapal yang lewat di sini dari selat Singapura ke selat Malaka itu, kita bisa memperoleh pendapatan mulai dari USD 6 ribu sampai USD 12 ribu,” tambah Nelson.

“Kita tengah melakukan kajian terhadap hal ini. Kita punya sekitar 1000 hektare laut di perairan Batu Ampar. Ini jelas sebuah potensi besar dalam mendatangkan pendapatan negara. Untuk fasilitas ini, kita butuh SDM-SDM yang benar-benar menguasai keahlian ini,” tuturnya lagi.

Nelson menambahkan, pihaknya juga akan membangun Reception Fasility (RF) atau tempat penampungan limbah yang berasal dari kapal yang berlabuh di Pelabuhan Batu Ampar.

Diungkapkannya, pembangunan RF tersebut sesuai Undang-Undang Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008 Pasal 237 Ayat 1 yang berbunyi “Untuk menampung limbah yang berasal dari kapal di pelabuhan, otoritas pelabuhan, unit penyelenggaran pelabuhan badan usaha pelabuhan dan pengelola terminal khusus wajib bertanggung jawab menyediakan penampungan limbah”.

Dijelaskannya, oli-oli bekas yang tidak terpakai itu akan diturunkan di pelabuhan.

“Limbah akan diolah lagi dan hasilnya dapat dimanfaatkan kembali,” tuturnya.

“Fasilitas ini yang belum dimiliki pelabuhan Batuampar. Kini tempatnya sudah kami siapkan. Insya Allah tahun 2020 ini akan diupayakan diterealisasikan,” pungkasnya. (hkc/adv)

News Feed