by

Waduk di Batam Milik Siapa?

Salah satu faktor dijadikannya Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, alih kapal, dan juga pariwisata adalah karena adanya air di pulau ini. Air-air tersebut terkumpul di sejumlah waduk. Air inilah yang disebut air baku yang kemudian diolah menjadi air bersih dan didistribusikan ke seluruh sektor guna menunjang semua aktifitas masyarakat.

Berdasarkan data yang dikutip dari Badan Pengusahaan (BP) Batam, ada sejumlah waduk di Batam, diantaranya:
– Waduk Duriangkang, volume 78.180.080 m3 dengan kapasitas 2.122,53 liter per detik;
– Muka Kuning, volume 12.270.000 m3 dengan kapasitas 284,35 liter per detik; – Nongsa, volume 720.000 m3 kapasitas 34,82 liter per detik;
– Sei Harapan, volume 3.600.000 m3 dengan kapasitas 210, 91 liter per detik;
– Sei Ladi, volume 9.490.000 m3 dengan kapasitas 240,68 liter per detik;
– Tembesi, volume 41.876.080 m3 dengan kapasitas 600 liter per detik;
– Rempang, volume 5.166.400 m3 dengan kapasitas 232 liter per detik.

Lalu, ada satu waduk yang tidak bisa difungsikan lagi yakni Waduk Baloi. Waduk ini memiliki volume 270.000 m3 dengan kapasitas 60 liter/detik. Kenapa tidak bisa difungsikan lagi? Menurut Manajer Air Baku Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Hadjad Widagdo, hal itu dikarenakan aktifitas di sekitar waduk begitu banyak yang berdampak tidak baiknya kualitas air baku yang ada di waduk tersebut.

Saat ini, ucap Hadjad, ada sekitar 1,3 juta jiwa penduduk di Batam, 24 kawasan industri, dengan rata-rata konsumsi air 199 liter per hari per kapita.

Hadjad mengungkapkan, waduk-waduk yang ada saat ini merupakan andalan bagi Batam dalam menampung air baku.

“Waduk ini hanya mengandalkan air hujan, karena Batam tidak memiliki mata air dan sungai. Sebab itu, waduk di Batam hanya memiliki satu fungsi (single purpose) yakni penampung air baku. Sebab itu, aktifitas di sekitar waduk tidak diperbolehkan. Jika ada aktifitas, akan berdampak buruk terhadap kualitas air baku,” ucap Hadjad.

Namun, fakta di lapangan, lanjutnya, ada saja aktifitas yang terjadi area waduk.

“Ada yang memancing ikan di waduk, membuat keramba ikan di area waduk, membabat pohon di catchment area, berkebun di sekitar waduk, memelihara hewan ternak, membakar lahan, mendirikan bangunan, menggali pasir secara ilegal, dan bahkan ada yang mengkapling lahan di sekitar waduk untuk dijual dengan menggunakan dokumen ilegal.”

Aktifitas ini ilegal. “Sangat tidak diperbolehkan,” tegas Hadjad.

Dia mengambil contoh, membuat keramba ikan dan memelihara ternak di sekitar waduk, akan menyebabkan air tercemar. “Sementara air ini merupakan air baku yang akan dikonsumsi. Bayangkan jika air baku sudah tercemar,” terangnya.

Begitu pula jika ada penebangan pohon, penambangan pasir ilegal, dan lainnya. Hal itu akan berdampak buruk pada waduk.

“Waduk akan kering. Jika waduk kering, dari mana sumber air baku? Dari mana kita bisa mendapatkan air bersih?” paparnya lagi.

Aktifitas-aktifitas ilegal ini, ucap Hadjad, sudah sering dirazia. “Namun, pelakunya selalu kucing-kucingan dengan petugas. Ada juga yang tertangkap tangan, langsung diproses hukum. Tapi, masih ada saja yang melakukan aktifitas ilegal di waduk dan area sekitarnya,” ungkap Hadjad.

Dia mengatakan, keberadaan air di waduk ini kerap mengalami penurunan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat dan musim panas yang panjang.

“Pernah akan dilakukan penggiliran pasokan air pada pelanggan (rationing). Ketika kebijakan ini akan dilakukan, semua masyarakat resah. Sementara di sisi lain, debit air di waduk tidak mencukupi. Makanya, untuk menutup kekurangan itu, solusi dicarikan seperti membuat hujan buatan di sekitar waduk yang dilakukan akhir-akhir ini,” jelasnya lagi.

Waduk dan air bagi Batam, tambah Hadjad, bagaikan sebuah “jantung”. “Tanpa air, seluruh aktifitas masyarakat akan lumpuh,” paparnya lagi.

“Sekarang pertanyaannya, apakah kita membiarkan waduk dan area sekitarnya rusak? Air baku yang ada dicemari? Lalu, apakah kita membiarkan ulah segelintir orang membuat masyarakat banyak jadi korban?”

Waduk-waduk di Batam, lanjut Hadjad, adalah milik masyarakat Batam. “Tidak boleh dirusak. Waduk dan airnya sumber kehidupan.”

“Waduk merupakan objek vital. Waduk adalah jantung kehidupan seluruh warga Batam. Jika ada yang merusaknya, maka seluruh masyarakat punya hak untuk mencegahnya,” ujarnya lagi.

“Untuk itu, mari kita jaga waduk-waduk ini,” pungkas Hadjad. (hkc/adv)

News Feed