by

Ditetapkan Tersangka, Pemukul Mualim Tugboat Vaquita Dolphin Tidak Ditahan

KARIMUN (HK)-Polisi akhirnya menetapkan satu orang tersangka kasus dugaan pemukulan Iswandika, Mualim I kapal tugboat TB Vaquita Dolphin di sekitar perairan Pulau Tembelas, Kecamatan Meral, Minggu, 7 Juni 2020 lalu. Satu orang tersangka itu berinisial An (41) warga Teluk Kecik, RT 07 RW 04, Kelurahan Gemuruh, Kecamatan Kundur Barat.

“Kami sudah menetapkan satu orang tersangka dengan inisial An berusia 41 tahun,” ujar Kasat Reskrim Polres Karimun, AKP Herie Pramono di ruang kerjanya, Jumat (26/6/2020).

Kata Herie, barang bukti dari kasus tersebut adalah hasil visum korban yakni Iswandika berupa luka memar di pipi sebelah kiri atau adanya luka lecet. Barang bukti lainnya adalah baju yang digunakan pelaku saat melakukan aksi pemukulan.

Herie menyebut, pihaknya telah memeriksa 7 orang saksi dalam kasus tersebut. Empat saksi merupakan rekan-rekan tersangka yang ikut naik dari atas kapal ambulance Baznas ke atas kapal tugboat Vaquita Dolphin, sementara tiga saksi lainnya adalah rekan-rekan korban atau awak kapal tugboat Vaquita Dolphin.

Menurut dia, meski sudah ditetapkan tersangka, namun yang bersangkutan tidak ditahan karena ada jaminan dari istri tersangka, sebab tersangka ini merupakan tulang punggung keluarga. Selain itu, ada jaminan dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan aparat pemerintahan setempat.

“Tersangka tidak ditahan karena ada pengajuan jaminan dari istrinya yang meminta agar tidak ditahan. Kemudian, pertimbangan penyidik tersangka ini tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan barang bukti dan juga selalu kooperatif kepada penyidik selama proses penyidikan,” jelas Herie.

Dikatakan, tersangka dijerat dengan Pasal 351 ayat 2 KUH Pidana dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Herie mengatakan, dalam kasus ini pihaknya masih akan mempertimbangkan untuk memeriksa oknum anggota DPRD Karimun inisial Rs, yang saat itu memang berada di lokasi kejadian.

“Kami juga akan memproses apakah ada dugaan keterlibatan oknum anggota DPRD Karimun dalam kasus tersebut, terkait dengan pasal 55 KUHP atau menyuruh melakukan perbuatan itu. Kalau memang ada, maka kami akan tetap melakukan penegakan hukum yang berkeadilan. Siapapun yang bersalah, harus menerima konsekwensi dari apa yang dilakukan,” tegasnya.

Insiden Pemukulan

Dua pelaut Karimun, yakni Hermanto seorang nakhoda dan Iswandika sebagai mualim I, kapal tugboat TB Vaquita Dolphin yang menarik tongkang Coastal Bay 2304 menjadi korban pemukulan beberapa orang pemancing di sekitar Pulau Tembelas, Kecamatan Meral, Minggu (7/6/2020) sekitar pukul 17.00 WIB.

Iswandika di Tanjungbalai Karimun, Senin (8/6/2020) mengatakan, kejadian itu berawal ketika kapal tugboat yang mereka bawa berlayar dari Butong, Siak menuju ke Karimun. Sekitar 1 mil dari Pulau Burung atau ke arah Rangsang terlihat berjejer perahu nelayan, sementara jaring mereka tebar di sekitar Pulau Burung.

“Saat itu, kami sudah berlayar di jalur pelayaran atau di melalui garis haluan, namun demi menghindari jaring nelayan, maka tugboat kami tetap menghindari jaring nelayan tersebut dengan melewati di tengah-tengah pelampung dan mungkin memutar haluan ke kiri,” ujar Iswandika atau kerap disapa Chip Eka.

Kata Eka, begitu melewati jaring nelayan pihaknya melihat ada satu perahu di tengah laut. Perahu tersebut berada di tengah garis haluan tugboat tersebut. Saat itu, dirinya tidak mengetahui kondisi perahu tersebut, apakah dalam kedaaan berlabuh, memancing atau menebar jaring. Sebab, perahu tersebut tidak memasang rambu-rambu.

“Meski perahu itu tidak memasang rambu-rambu, namun kami tetap mengindar dengan mengarahkan kapal ke kanan. Saat itu, tongkang yang terpukul angin dan arus, kemudian sisi kiri tongkang menyenggol pinggiran perahu. Orang yang ada di perahu tersebut sempat mendorong body tongkang,” terang Eka.

Eka yang melihat kondisi itu menggunakan teropong dari dalam tugboat tidak melihat adanya upaya dari orang yang berada diatas perahu untuk meminta tolong. Saat itu, dirinya mengira kalau perahu dan orang yang berada di atasnya tidak memiliki masalah yang fatal. Dia kemudian terus berlayar hingga di depan PT MOS.

Selang sekitar 2 jam setelah itu, mereka kemudian didatangi petugas Baznas bersama orang yang di atas perahu tersebut. Orang-orang itu, kemudian berteriak dan mencaci maki mereka. Sebagian diantara mereka bahkan sempat naik ke atas tugboat dan mencari nakhoda kapal.

“Baju nakhoda kemudian ditarik oleh sejumlah orang itu. Untung saja, di dekat ruang kemudia ada pagar kalau tidak bisa saja nakhoda kapal jatuh ke bawah. Karena bertahan sampai bajunya robek. Saya berusaha menjelaskan, kalau saya yang bawa kapal. Kemudian, saya dipukul. Bagian bawah mata saya bengkak dan membiru,” jelasnya.

Eka menyebut, orang di atas perahu tersebut berjumlah sekitar 8 orang termasuk diantaranya Wakil Ketua DPRD Karimun, Rasno. Usai memukul nakhoda dan mualim tugboat TB Vaquita Dolphin, mereka kemudian meminta ganti rugi atas insiden penyenggolan perahu mereka.

“Usai memukul kami, mereka meminta uang atas insiden penyenggolan perahu. Saya bilang cuma sanggup membayar Rp2 juta, itupun bayarnya cicilan. Mereka kemudian meminta uang Rp10 juta. Saya cuma bilang kalau uang Rp10 juta jelas saya tak sanggup. Tapi kalau cuma Rp2 juta bisa saya bantu dengan cara cicil,” terang Eka.

Selanjutnya, salah seorang dari mereka yang berada di atas kapal ambulance Baznas berteriak kalau tak mau membayar Rp15 juta (bukan Rp10 juta lagi), maka mereka akan melaporkan kasus tersebut kepada perusahaan atau pemilik tugboat dan juga mereka akan membuat laporan kepada pihak kepolsian.

“Bahkan, oknum Wakil Ketua DPRD Karimun yang berada diatas kapal ambulance Baznas tersebut mengatakan, pihaknya akan membawa persoalan ini ke DPRD Karimun,” ujar Eka.

Merasa tak terima dengan aksi pemukulan yang mereka alami, maka nakhoda dan mualaim I TB Vaquita Dolphin, melaporkan kejadian tersebut kepada Polres Karimun, Minggu (8/6/2020) malam. Laporan mereka sudah diproses di SPK Polres Karimun, bahkan malam itu juga mereka sudah di visum. (ham)

News Feed