by

Andrei, Suryani, dan Bakhtiar, Siapa Dapat SK Presiden PKS?

  • Oleh: Ibnu Syakir, Ketua Forum Kajian Politik dan Agama (Forkalima)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kepri dan Batam sangat menarik diikuti meskipun di tengah pandemik Corona Virus Disease 19 (Covid 19). Apalagi ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai saat ini masih bertahan dalam memutuskan 9 Desember 2020 adalah waktu yang dipilih sebagai hari pencoblosan pilkada serentak se-Indonesia.

Dari sekian banyak tahapan, yang paling menarik adalah pada 4 hingga 6 September 2020. Mengapa? Karena hari-hari itu adalah masa pendaftaran pasangan calon (paslon) peserta pilkada, baik tingkat kota/kabupaten maupun provinsi seluruh Indonesia. Pada masa inilah semua prediksi, spekulasi, perdebatan, sampai bongkar pasang calon peserta yang panas dan intens di bulan-bulan sebelumnya akan terjawab. Dan penetapan paslon pada tanggal 23 September adalah finalisasi dari jawaban itu. Tidak akan ada lagi gonjang-ganjing dan teka-teki setelahnya.

Sebagai pemerhati politik, penulis ingin menganalisis siapa kandidat yang bakal dimajukan oleh partai dakwah (PKS). Kira-kira posisi apa yang paling “realistis” untuk jadi bidikan PKS pada ajang pesta demokrasi serentak ini, baik di hajatan pemilihan gubernur Kepri, maupun pemilihan Walikota Batam.

Dari nama yang masuk terjaring tiga terpopoler dalam Pemilihan Raya (Pemira) PKS adalah Suryani, Raden Hari Tjahyono dan Bakhtiar. Nama Suryani dan Raden Hari Tjahyono masuk untuk bursa pemilihan gubernur dan juga Pilwako Batam. Sedang Bakhtiar yakni kandidat yang disetujui untuk maju di pilkada walikota versi DPW PKS Kepri.

Dari tiga nama di atas, sepertinya Raden Hari Tjahyono “mengalah” untuk tetap menjaga parlemen di DPRD Kepri. Sehingga muncul dua nama dari pemira yaitu Suryani dan Bakhtiar.

Selain dari dua nama tersebut ada tokoh baru PKS yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu Andrei Simanjuntak. Meski Andrei Simanjuntak bukan produk pemira namun tetap saja keberadaannya bisa menjadi kuda hitam, baik untuk dimajukan di Pilgub Kepri maupun Pilwako Batam, karena beliau adalah caleg PKS untuk DPR RI di Kepri pada Pileg 2019 yang belum lama silam, dan sudah mempunyai jaringan pendukung yang nyata.

Penulis akan menuangkan analisanya terhadap tiga kandidat yang setidaknya saat ini keberadaannya layak untuk digosipkan. Mengingat PKS adalah partai yang cukup besar dan layak diperhitungkan di Batam maupun di Kepri. Dan menyertakan PKS berarti tidak sekedar menyewa perahu, namun juga sepenuh penumpangnya (baca: pemilih).

Analisis Kandidat

Pertama, Andrei Simanjuntak. Pria berdarah Batak yang merupakan putra Marsilam Simanjuntak, Jaksa Agung era Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini kiprah politik pertamanya di Kepri adalah sebagai Calon Anggota DPR RI dari PKS di Pileg 2019. Meski muka baru di Kepri, namun mendapat perolehan suara tertinggi diantara Caleg PKS. Dan secara kumulatif (suara caleg dan partai) menempati urutan kelima (dari empat kursi yang tersedia).

Sejak itu, sudah kira-kira setahun lalu tetap aktif bersosialisasi menyapa warga Kepri, terutama Batam. Balihonya tersebar dan aktivitas sosialnya dirasakan oleh masyarakat.

Kekuatan lain yang dimiliki Andrei Simanjuntak juga yaitu jaringan nasional dan internasional. Beliau pada saat ini adalah anggota dari Badan Pengembangan Luar Negeri di Dewan Pengurus Pusat PKS (DPP PKS) di Jakarta.

Namun, kelemahannya adalah tempat tinggalnya yang tidak di Kepri membuat dirinya tidak leluasa untuk melakukan sosialisasi.

Kedua, Suryani. Inilah tokoh perempuan PKS Kepri yang paling moncer. Sudah hampir 15 tahun sebagai anggota dewan Provinsi Kepri. Bahkan tingkat perolehan suara yang ia raih pada pemilu 2019 begitu fantastis. Hingga di dapilnya mampu menyumbangkan dua kursi. Tentu juga atas kinerja caleg lain yang suaranya merata.

Karena sudah malang melintang sebagai wakil rakyat, Suryani juga sudah memahami peluang dan tantangan serta solusi untuk memajukan Batam maupun Kepri.

Sebagai tokoh perempuan ia punya kans besar untuk meraup suara dari kalangan kaum hawa. Aktivitas keagamaan dan politiknya yang melekat cukup bisa diandalkan sebagai modal untuk mengerek popularitas dan juga elektabiltas kelak sebagai kandidat.

Kelemahannya adalah belum terlalu agresif dalam proses pencalonan. Penulis tidak tahu apakah ini strategi yang diterapkan atau memang bergaya low profile. Bagi penulis beliau pasti memegang prinsip sami’na wa atho’na (patuh) terhadap keputusan partai.

Ketiga, Bakhtiar. Bagi kalangan aktivis Islam nama Bakhtiar cukup dikenal. Kemampuan menyampaikan pesan-pesan agama Islam membuat dirinya dikenal sebagai dai yang juga sebagai pengurus MUI Kota Batam maupun Kepri.

Angin “politik kanan” (baca: islami) yang masih bertahan hingga saat ini di Kepri maupun Indonesia membuat keberadaannya cukup diperhitungkan.

Keberadaannya sebagai dai yang cukup kesohor membuat dirinya bisa lebih mudah untuk bersosialisasi di setiap acara keagamaan sebagai upaya duniawi untuk “dinilai” oleh jamaahnya.

Namun kelemahannya adalah masih terkesan eksklusif untuk pemilih dengan latar keberagaman yang majemuk seperti di Batam. Dan tingkat popularitasnya perlu untuk digenjot kembali.

Kesimpulan

Pilkada 2020 adalah masa yang paling percaya diri bagi PKS. Jika pada ajang pilkada yang telah terjadi, PKS terlalu sering sebagai “penggembira”, untuk momen pilkada serentak ini sepertinya bakal berbeda strateginya.

Mengingatkan penulis pada beberapa pilkada lalu, di mana dua kader PKS saat itu Ria Saptarika dan Mastur Taher terpilih sebagai Wakil Walikota Batam dan Wakil Bupati Bintan.

Dan kepercayaan diri PKS pada ajang pemilukada kali ini di Kepri penulis rasa lebih tinggi.

Penulis memahami antusiame kader dan simpatisan PKS Kepri yang sangat berharap kader PKS ikut berlaga di ajang pilkada seperti di Lingga, Karimun, apalagi Pilwako Batam dan Pilgub Kepri.

Namun tetap posisi yang paling realistis adalah wakil. Dan mengambil kader PKS di ajang Pilgub Kepri dan Pilwako Batam adalah sangat mungkin. Siapa dari keduanya yang akan dilamar? Anda boleh menebak sendiri. Dan hemat penulis jika komunikasi struktur terhadap calon dan partai-partai lain bagus, maka sekali lagi tidak menutup kemungkinan dua dari tiga nama di atas adalah kandidat Walikota Batam dan Calon Wakil Gubernur Kepri.

Apalagi fakta membuktikan mengikut sertakan PKS sebagai kandidat adalah tidak sekedar mendapat Surat Keputusan (SK) yang ditanda tangani oleh Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman, namun juga akan mendapat kekuatan lahir batin dari seluruh kader dan simpatisannya. Dan siapa mereka yang akan dilamar? Tunggu tanggal mainnya. Wallahua’lam.***

News Feed