by

Pesan-Pesan Idul Fitri untuk Kemenangan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah SWT. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa.

Kita menangis karena mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan kita, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan rahmat kasih sayang Allah SWT, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.

Idul Fitri datang, di tengah-tengah kita umat Islam sedang ditimpa musibah dan ujian wabah pandemi global. Yang tidak hanya meruntuhkan sendi-sendi ketahanan kesehatan masyarakat tetapi juga sendi-sendi ketahanan ekonomi dunia. Pandemi global telah memporak porandakan system kehidupan social yang telah ada selama ini.

Tata kehidupan berkelompok dengan komunitas banyak orang harus dibatasi, kesempatan dan aktifitas di luar rumah harus dihentikan dan pekerjaan di luar rumah yang selama ini dilakukan harus dihentikan. Saling berkunjung dan berkumpul antara sanak family , keluarga dan kerabat yang menjadi tradisi lebaran tak lagi dapat di lakukan .Dalam kondisi seperti ini tidak ada satupun orang yang tidak merasa sedih, mengeluh dan bahkan ada yang tidak menerima kenyataan ini.

Dibalik kenyataan itu pada hakikatnya Allah SWT, sedang mengingatkan kita akan kehidupan ini. Yang mana selama ini kita disibukkan dengan aktivitas dunia kita. Kita habiskan waktu dan umur ini dengan mengejar sesuatu yang belum tentu membahagiakan kita. Kita kejar dunia dan segala isinya , kita lupa dengan akhirat kita. Kita sibuk dengan dosa, kita lalai dengan ibadah. Kita kejar kesenangan dunia kita lupakan kebahagiaan surga. Maka pantas Allah SWT, mengingatkan kita dengan musibah dan bencana akibat dosa-dosa yang kita lakukan, dalam QS. As-Syuura ayat 30, Allah SWT ingatkan: Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syuura: 42:30).

Dengan sabar Allah SWT membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali pada-Nya. Allah selalu menanti hamba-hamba-Nya yang mau melabuhkan perahunya pada tepian lautan kasih sayang-Nya. Allah berfirman; Dalam QS. Al-Fatir: 45: Artinya: Dan jika sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi ini satu makhluk pun ( yang hidup); tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya (QS. Al Fatir; 45).

Dalam kondisi musibah seperti itu , kita telah melalui tahapan-tahapan malam Ramadhan dengan baik sehingga kita sampai di penghujung puasa dengan menjemput kemenagan di hari Idhul Fitri. Suka dan duka Ramadhan telah kita lalui, kita telah di izinkan Allah swt Yang Maha Pengasih dan Penyayang melewati malam-malam Rmadhan dengan rangkaian ibadah yang kita lakukan.

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini, kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi Yang artinya : “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: ‘Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka’.
Sesorang kemudian berseru: ‘Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan’. Kemudian Allah pun berkata: ‘Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak. Marilah kita ingat orang-orang yang kita cintai dalam hidup ini.
Kenanglah ayah-ibu kita, kakek-nenek, suami-istri, kakak-adik, tetangga, kekasih, atau siapa pun mereka yang pada hari ini tidak dapat berbagi bahagia bersama. Ada diantara mereka yang sekarang lagi diperantauan, lagi terbaring sakit atau ada yang sudah dipanggil Allah untuk menghadapnya. Kemanakah ayah atau ibu yang pada lebaran lalu memeluk dan menyambut uluran tangan kita dengan kasih sayangnya? Kemanakah kakek atau nenek, yang pada lebaran lalu masih mencium kita?

Kemanakah suami ibu atau istri bapak yang pada lebaran lalu masih bersama-sama dengan keluarga? Kemanakah kakak atau adik kita yang pada lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Kemanakah, tetangga, kekasih, sahabat yang lebaran lalu masih sempat menyalami kita dan mengirimkan kartu lebaran, mengucapkan selamat hari raya idhul fitri. Ternyata Ya Allah, hari ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami, tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf atas dosa-dosa kami kepada mereka. Tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul dirumah kami. Tetapi kami mohon Ya Allah masukkanlah rasa bahagia kepada mereka.

Bagi mereka yang sudah tiada, harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Sampaikanlah salam kami yang tulus kepada mereka. Ringankan beban yang menimpa mereka di alam kubur.

Segera setelah salat Ied ini, pancangkanlah tonggak silaturahmi dalam perjalanan sejarah kita. Selama ini, kita telah menanam pohon penuh duri di tengah jalan raya kehidupan. Semua orang yang melewati kita, kita tusuk mereka dengan duri-duri tajam kita, kita sakiti hati mereka. Kita cabik-cabik perasaan mereka dengan keangkuhan kita. Makin sering orang-orang itu hadir di depan kita, makin banyak luka-luka dalam jantungnya, makin banyak rintihan dan tangisannya.

Di antara mereka itu adalah orang tua kita, kerabat kita, teman sebaya, teman sekantor dan teman pergaulan dalam hari-hari kita. Temuilah mereka, kalau mereka masih hidup. Kita boleh jadi kecewa karena perilaku mereka. Marilah kita ma’afkan mereka dengan sepenuh hati. Jika ia adalah Ibu bapak kita kenanglah beban yang mereka tanggung untuk melahirkan kita dan membesarkan kita.

Jika mereka adalah sahabat dan orang-orang dekat kita ingatlah kebaikannya. Bersimpuhlah di hadapan mereka, bahagiakan mereka, sehingga kamu melihat lagi di wajah-wajah mereka senyuman tulus yang menyejukkan hatimu.

Mohonkan maaf kepada mereka karena selama ini ucapan dan perilakumu telah melukai mereka.

Kita telah bejuang untuk menjadi orang-orang saleh yang ta’at. Kita telah menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan. Setelah kita melaksanakan puasa, di akhir ramadhan kita di wajibkan membayar zakat fitrah ataupun zakat mal. Itu semua sudah kita tunaikan. Semua amalan itu hari ini kita serahkan kepada Allah SWT. Zakat yang kita keluarkan diharapkan akan menambah meringankan beban kehidupan orang –orang mikin. Apalagi di saat-saat sulit dan genting hari ini akibat musibah covid-19 yang belum berakhir.
Perjuangan kita selama Ramadhan telah berakhir. Seluruh rangkaian ibadah yang kita lakukan diharapkan menjadi ibadah terindah dan terbaik dalam hidup kita. Kita telah berjuang menahan hawa nafsu dengan ibadah puasa, kita berjuang mempertahankan luapan kenginaan berkumpul bersama dengan taat aturan pemerintah.

Semua itu kita lakukan hanyalah semata agar Ibadah Ramadhan dapat kita laksabakan dengan baik dan musibah global segera diangkat Allah SWT.
Mudah-mudahan , Idul Fitri tahun ini dan hari ini menjadi Idul Fitri yang terindah dalam hidup kita. Menjadi sejarah baru dalam kenangan kita. Menjadi momentum perjuangan yang tiada tara untuk menjemput kebahagiaan hakiki di sisi Allah SWT. Aamiin .*

News Feed