by

“Ikhtiar dari Ramadhan dan Covid-19”

  • Oleh: Dr.H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Setidaknya ada tiga yang menjadi sebab kenapa kita memuja dan memuji sesuatu? Pertama, karena ada keistimewaannya, seperti artis, karena kepandaiannya dalam berakting. Lalu, atlit, karena kehebatannya dalam berolah raga. Laut karena warnanya yang jernih dan biru, dll.

Kedua, seseorang dipuji karena jasa yang telah diperbuatnya atau kedermawanannya, seperti Rasulullah SAW, yang sangat berjasa membawa dunia ini dari kegelapan, kebodohan, atau jahiliyah, kepada cahaya petunjuk kebenaran (minazzulumati ilannur). Contoh lain, para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa kita dari penjajahan. Orang tua yang telah berjasa melahirkan, merawat dan membesarkan kita. Para guru, dosen, ustadz, yang telah mendidik kita menjadi insan yang berkualitas, Ketiga, karena kuasa yang dimilikinya sehingga dia bisa melakukan apa saja dengan kewenangan serta kekuatan yang dimilikinya, sehingga bawahannya menjadi takut.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Allah SWT memiliki semuanya, Allah punya keistimewaan, tidak ada satupun yang serupa dan setara dengannya. Allah SWT memberikan kita nikmat dan ramhmatNya yang tidak terhingga, sehingga kita bisa bernafas tampa membayar, menangkap ikan dilaut tampa menyemai bibit dan merawatnya.

Allah Maha Kuasa memberikan rezeki setiap saat dan waktu, semua makhluk yang melata didunia ini. Coba bandingkan dengan kalangan tertentu yang merasa dirinya kuasa dan jaya, diberi cobaan corona, ekonomi mulai merana.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Bahkan Nyawa kita ini Allah SWT sangat mampu untuk mencabutnya kapanpun Dia mau. Karena itu, mari kita perbanyak memuji Allah SWT, terutama pada pagi hari yang mulia, kita masih diberikan nikmat keimanan dan kesehatan. Nikmat yang besar dan banyak yang kita rasakan ini, merupakan bukti bahwa Allah Swt tiada pernah melupakan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Shalawat beserta Salam kita mohon kepada Allah SWT agar disampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Karena berkat perjuangan yang gigih dan penuh sabar yang telah beliau lakukan, telah berhasil membawa umat manusia dari zaman Jahiliyah kepada zaman Ilmiah, dari zaman yang biadab ke zaman yang beradab.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Puasa Ramadhan yang telah kita laksanakan sebulan penuh, seharusnya juga dapat membekas dan berkesan didalam kehidupan kita. Kita harus melestarikan nilai-nilai spritual Ramadhan, karena bulan Ramadhan hanyalah sebagai pembelajaran atau Training Centre untuk menghadapi kehidupan yang lebih nyata sebelas bulan setelah Ramadhan. Masa depan akan terus menjelang, hari esok akan segera datang, sebagai orang yang beriman tentu kita menginginkan adanya peningkatan dan perbaikan kualitas hidup kita, yang mengarah kepada sebutan insan yang bertaqwa.

Nilai ketaqwaan adalah muara dari segala amal sholeh dan amal ibadah yang kita lakukan. Ketaqwaan yang kita bina hendaknya memancar bukan untuk diri pribadi namun juga untuk masyarakat kita. Keadaan yang ada dihadapan kita saat ini, adalah medan yang harus kita tempuh dengan iman dan sabar. Dalam kondisi apapun, senang maupun susah, lapang atau sempit, kita wajib berusaha untuk menjadi orang yang bertaqwa. Ketaqwaan dan kesabaran adalah modal utama untuk menghadapi kondisi pandemi saat ini. Orang yang bertaqwa akan selalu istiqomah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Allah SWT telah berjanji bahwa barangsiapa bertaqwa pasti akan diberikan solusi dan jalan keluar atas segala persoalan kehidupan, termasuk pandemi virus Covid-19 ini. Untuk itu kesabaran sangat perlu kita pupuk, kita rawat dan pelihara, karena ujian akan berakhir dengan kemuliaan jika diiringi dengan kesabaran.

Para Kekasih Allah yaitu para Nabi dan orang–orang saleh, banyak menghadapi ujian berat, dengan kesabaran yang kuat, akhirnya mereka mendapat kemuliaan disisi Allah SWT. Misalkan, Nabi Yunus, dikarantina di perut ikan, akhirnya mendapati umatnya bertaubat. Nabi Yusuf dikarantina di penjara, akhirnya keluar menjadi Nabi dan Raja. Nabi Muhammad SAW melakukan karantina di Gua Hira selama 40 hari, akhirnya diwahyukan surat al- ’Alaq yang bisa membawa cahaya dan rahmat bagi seluruh alam.

Bercermin dari para kekasih Allah diatas, kita harus bersabar dan selalu memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT, semoga kita mendapat ampunan dan kemulian dari Allah setelah pandemi covid-19 ini.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Imbas dari perjalanan covid-19 sampai saat ini, banyak dari mereka merasakan kekurangan, kesempitan ekonomi, dan sebagainya. Di sini kita diajak untuk bisa berperan selayaknya kita merasakan apa yang dirasakan mereka pada saat ini. Berapapun yang bisa kita bantu, maka bantulah untuk dapat meringankan mereka.

Puasa Ramadhan telah mendidik kita untuk bersikap luhur, mengendalikan diri, hawa nafsu, menahan amarah tak tentu arah, maka dari situ akan berdampak melahirkan sikap mental yang perwira. Begitu juga dengan kebiasaan menahan lapar dan dahaga membayar zakat, berinfaq dan shadoqah akan melatih kita untuk memiliki kepekaan dan empati, serta timbang rasa kepada orang lain yang serba kekurangan.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Ada kisah menarik, suatu hari Sayyiduna Umar bin Khattab r.a. datang ke rumah Rasulullah. Setelah Umar mengucapkan salam dan diizinkan masuk, ia melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma, dan tikar itu menimbulkan bekas pada punggung Rasulullah. Melihat keadaan yang mengharukan itu, Umar bin Khattab menangis.

Lalu terjadilah dialog antara Rasulullah dengan Umar. “Mengapa engkau menangis, wahai putra al-Khattab?”, tanya Rasulullah. Umar menjawab, “Duhai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis. Tikar kasar ini sudah membuat punggungmu berbekas. Dan aku lihat hanya ini saja perabotan rumahmu. Padahal, engkau adalah Nabi Allah dan manusia pilihan-Nya. Apa yang Engkau pinta, pasti akan dikabulkan Allah SWT. Sementara di sana, yang namanya Kisra dan Kaisar, duduk bertatahkan permata, tidur berbantalkan sutra”.

Lalu Rasulullah berkata, “Orang-orang yang kau sebutkan barusan, adalah mereka yang disegerakan kesenangannya oleh Allah, padahal itu adalah kesenangan yang akan berakhir. Sementara kita, adalah kaum yang Allah tunda kesenangannya, untuk kesenangan akhirat kita. Perumpamaanku dengan dunia adalah, seumpama seorang musafir yang berjalan di musim panas. Lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon barang sejenak. Dia istirahat di bawahnya, lalu pergi meninggalkan pohon itu, melanjutkan perjalanannya”.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Betapa tinggi dan mulia akhlaq Rasulullah SAW, dan sangat layak untuk kita tauladani. Karena itu, bila kita menjadi orang yang sukses, kaya, maka kekayaan tersebut tidak membuat kita lupa berzakat, bersedekah, dan berbagi dengan orang-orang yang nasibnya berada di bawahnya. Jika menjadi pengusaha atau pebisnis, maka bisnis tersebut tidak membuatnya lupa mengingat Allah SWT, tetap sholat, puasa dan ibadah lainnya. Ia menjadi pebisnis islami. Jika menjadi penguasa, maka kekuasannya tidak membuat ia bertindak zalim, berlaku sewenang-wenang, dan mengkhianati kekuasaannya di hadapan Allah dan masyarakat. Ia menjadi penguasa yang amanah. Seorang Muslim yang sukses tidak bersikap eforia, lupa diri, dan kebablasan.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Selanjutnya hikmah terbesar dari Hari Raya Idul Fitri ialah tumbuhnya sikap bersilaturrahmi dengan sesama, saling memaafkan satu lainnya. Walaupun sebahagian dari kita tahun ini belum bisa pulang ke kampung dan mudik karena pandemic, namun silaturrahmi dengan keluarga ibu, ayah, isteri, suami, anak, dan saudara harus tetap kita pelihara. Covid-19 membuat kita semakin sadar akan pentingnya teknologi, melek IT. Bekerja dari rumah (work from home), belajar dari rumah dan tentunya juga silaturrahmi bisa dilakukan tampa harus bersua secara langsung atau Social distancing. Bagi kita yang bertemu langsung disini, tentunya juga selalu menjaga untuk tidak melakukan kontak fisik secara langsung seperti berpelukan (phisical distancing), Insyaallah tidak akan mengurangi inti utama nilai dari silaturrahmi tersebut.

Karena itu momen Idul Fitri kita jadikan sebagai langkah awal untuk saling bermaaf-maafan, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “ Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya, dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambungkan silaturahmi”.

Dan firman Allah SWT, yang artinya: Bersegeralah kalian meraih ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi kaum yang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 133).

Selain bersilaturrahmi, memberi maaf kepada orang lain juga termasuk akhlak yang mulia, maka hendaknya kita menjadi orang yang berjiwa besar untuk mau meminta maaf atau memberi maaf kepada orang lain, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-A’raf ayat 199, yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamd…

Semoga Allah SWT memberikan taufiq, hidayah, dan karunianya kepada kita, keluarga dan bangsa Indonesia. Selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan kesabaran. Dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, menjadikan iman kita semakin kuat, semakin rajin membaca, memahami, dan mengamalkan AlQur’an, selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan, sehingga kita semakin takut melakukan perbuatan dosa. Saling mengasihi dan menyayangi. Pemimpin semakin meyayangi rakyatnya dan rakyat selalu sayang dan patuh dengan para pemimpinnya.

Mari kita dukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, mari kita do’akan negeri kita dan seluruh dunia semoga segera terbebas dari wabah, pulih ekonominya dan sejahtera masyarakatnya. Aamiin…***

News Feed