by

Merindukan Kefitrian Sejati

  • Oleh: Agustar, Eseis tinggal di Batam

Ketika rona semburat merah saga pengujung Ramadhan di ufuk barat mulai meredup di kaki langit, maka tuntas sudahlah perjalanan ibadah puasa kita di tahun 1441 H ini.

Bulan suci Ramadhan, dengan segenap catatan romantisme yang dikandungnya, termasuk goresan prestasi ibadah puasa kita semua, akan segera pergi takkan kembali lagi, meninggalkan kita untuk selama-lamanya menuju ke kutub keabadian sejarah. Kalau pun tahun depan akan datang lagi Ramadhan, tetapi bulan suci itu berada dalam dimensi waktu yang berbeda, yang tidak seorang pun dapat memastikan kita akan bisa menggapainya kembali.

Seiring dengan itu, gerbang Syawal pun akan segera merekah, dimana fajar Idul Fitri 1441 H akan menyambut kita dengan diiringi oleh takbir dan tahmid para hamba, membahana memecah ruang angkasa, memuja dan memuji kebesaran Sang Maha Perkasa. Pertanda hari kemenangan itu telah tiba. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.

Entah sudah berapa kali ritme peristiwa religius ini melintas dan berlalu di tengah-tengah kehidupan kita. Namun sayangnya, tidak selamanya mampu kita sikapi dan renungi secara religi dan hakiki. Idul Fitri sering kita asosiasikan dan sosialisasikan secara kerdil dan rigid. Karena kita lebih tertarik pada romantisme kultural Idul Fitri ketimbang nuansa kontemplasi estetika nilai teologisnya. Dengan kata lain, perspektif Idul Fitri cenderung kita pentaskan dalam format budaya keagamaan, bukan manifestasi nilai-nilai agama itu sendiri. Akibatnya, Idul Fitri hanya tersemarakkan dalam bentuk ritus, tanpa disertai perhitungan tanggung jawab moral-teologisnya.

Meskipun dalam bingkai protokol kesehatan Covid-19, barangkali terlalu “hina” jika nilai Idul Fitri hanya kita presentasikan dalam format pakaian baru, ketupat lebaran, tukar menukar parcel, hingar-bingar bunyi petasan dan segala asesoris hedonisme duniawi. Idul Fitri lebih tinggi derajatnya dari segala bentuk gegap-gempitanya pesta hura-hura pasca Ramadhan.

Simbolisme religius Idul Fitri tidak bisa diwakili oleh klise-klise kultural halal bil halal yang sering menjadi panggung foya-foya sehabis berpuasa. Karena tidak bersentuhan sama sekali dengan dialektika baik nilai sosial maupun teologis yang sesungguhnya dikandung dan dituntut oleh konteks nilai Idul Fitri itu sendiri.

Idul Fitri bukanlah monopoli mereka yang berpakain baru, punya makanan serba lezat, bisa pulang ke kampung halaman. Atau bukan pula milik mereka yang secara kenes larut dalam ritus basa-basi saling memaafkan ala tradisi kebudayaan kita selama ini dalam berhari raya. Tetapi Idul Fitri adalah milik hamba Allah yang tingkat kepatuhan illahiahnya menyubur, mentalitas religiusnya membaik, perspektif dimensi khilafiyahnya bersifat makruf dan langit-langit rohaninya penuh taburan nuansa taqwa, setelah sebulan penuh ditempa oleh kesucian Ramadhan.

Sehingga Idul Fitri adalah kepunyaan mereka yang telah berhasil “lulus menjadi manusia” sejati kembali. Anak manusia yang terlahir kembali dari rahim sejarah pengembaraan rohaninya dalam mencari keredhaan-Nya dan menemukan simpul-simpul kebenaran nilai-nilai Illahi, sehingga jatidiri dan etos kemakhlukan insaninya menjadi semakin paripurna.

Sungguh teramat panjang rentang sejarah realitas wacana keagamaan kita terperangkap dalam sangkaan-sangkaan kerdil tentang kesucian Idul Fitri. Mengapa ketika peta pemahaman agama semakin meluas dan gairah keimanan semakin meningkat, tetapi Idul Fitri masih tetap kita aktualisasikan secara konservatif dan rigid sebagai kelegaan personal dan kegembiraan sosial sesaat dalam bentuk budaya konsumtivisme?

Bukankah hal ini bermakna bahwa ajaran agama berupa puasa Ramadhan terkesan sebagai pengekangan atau keterpaksaan ritus, bukan kepatuhan religius yang dilandasi keimanan? Kemudian ketika kekangan tersebut dilepaskan, maka kita pun tenggelam dalam euforia “balas dendam” nafsu-nafsu?

Tidakkah fenomena seperti ini sangat bertolak belakang dengan konteks nilai Ramadhan yang mengajarkan “nilai-nilai menahan” dalam berbagai aspek untuk diimplementasikan di luar bulan suci Ramadhan?

Sangat disayangkan, justeru di hari raya Idul Fitri sering terjadi proses sublimasi nilai-nilai. Gerbang Syawal yang semestinya merupakan langkah awal dari pemantapan jatidiri untuk menapak ke hari esok, tetapi sering kita kotori dengan sangkaan-sangkaan takhayul tentang ajaran agama melalui perilaku foya-foya dan kemubaziran yang sangat bersinggungan dengan kekufuran.

Kita mempertontonkan kembali sepak terjang kita yang sebenarnya, wajah bopeng kita sesungguhnya yang penuh keserakahan, kecurangan, kecongkakan, asosial, asusila, penuh tipu daya dan trik dalam merampas hak-hak orang lain.

Idul Fitri menurut filosofi syariat agama adalah hari kemenangan. Kemenangan yang fitri (suci) melalui proses pembasuhan kedekilan masa lalu dengan metode berpuasa. Tetapi melalui sebuah perenungan jujur dan bening; berhakkah kita untuk memperoleh kemenangan tersebut, jika level dan kualitas puasa Ramadhan kita baru pada tingkat elementer, sebatas tidak makan dan tidak minum dari subuh hingga maghrib? Sementara kita masih belum sanggup melaksanakan puasa sosial, puasa politik, puasa agar tidak menggunakan pedang kekuasaan untuk menindas sesama manusia dan menjegal teman seiring?

Manusia, dari dimensi filosofis ego-nya, adalah kanak-kanak yang tak pernah dewasa sepanjang hayatnya. Kanak-kanak yang dinamika kehidupannya selalu dikendalikan oleh egosentrisme diri. Subjektivisme dari ego tidak lain dari hasrat keakuan untuk senantiasa ingin menang, ingin menguasai, ingin mendominasi dan hegemonik antar sesama. Perilaku homo homini lupus, “kanibalisme” antar sesama manusia, merupakan catatan yang tidak pernah usang dalam prasasti kehidupan anak manusia.

Berabad-abad kehidupan telah berlangsung, namun panggung peradaban umat manusia tidak pernah terbebas dari pertarungan egosentrisme kemanusiaan, baik dalam format individu maupun kelompok. Manusia saling mempertarungkan dan mempertentangkan ego idiologi, ego politik, ego agama, ego ekonomi dan ego etnisnya. Untuk itu manusia saling tumpas, saling jegal, saling injak bahkan saling cincang dalam dinamika kehidupannya. Panggung peradaban umat manusia tidak lain dari arena persaingan atau rivalitas ego. Persoalan kalah-menang, kuat-lemah, superior-inferior, menguasai-dikuasai telah menjadi target dari entitas peradaban manusia yang tak pernah terkoreksi oleh perjalanan sejarah peradaban itu sendiri.

Kemenangan dalam peta pemahaman budaya manusia adalah bagaimana menciptakan kekalahan terhadap pihak lain. Menang berarti membuat pihak lain tidak berkutik sehingga bisa dikuasai. Sementara kekalahan identik dengan kelemahan dan penderitaan. Inilah idiom-idiom semu dalam pergulatan egoisme kemanusiaan. Kemenangan seperti ini adalah kemenangan semu, artifisial, temporer, sehingga bukanlah kemenangan yang sejati.

Kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan atas kekalahan orang lain. Kemenangan sejati adalah kemenangan menghadapi diri sendiri dalam menaklukkan ego dan nafsu yang berkobar-kobar. Bukankah sabda populer Rasulullah SAW mengatakan bahwa kemenangan agung itu hanya bisa diperoleh melalui peperangan sengit melawan nafsu sendiri? Peperangan tersebut telah kita laksanakan sebulan penuh melalui metode puasa Ramadhan. Hakikat puasa Ramadhan adalah upaya untuk memerdekakan diri dari segala kungkungan (jajahan) ego dan nafsu sendiri untuk memperoleh kembali kefitrian diri yang sejati. Karena kefitrian inilah yang sebenarnya dicari=cari dan dirindukan oleh jiwa manusia yang hakikat eksistensinya fitri (suci).

Kemenangan sejati adalah kefitrian yang sejati. Kefitrian sejati merupakan perjalanan sunyi jiwa seorang hamba memasuki gerbang “perjalanan kembali”. Idul Fitri adalah telah tiba suatu “perjalanan kembali” dari kondisi tidak fitri ke suasana fitri kembali. Dari keadaan yang penuh coreng moreng menuju bersih kembali laksana bayi yang baru dilahirkan. Idul Fitri adalah momentum untuk menjaga kefitrian sejati agar tidak dicemari kembali oleh polutan hedonistik duniawi, sehingga jiwa yang fitri akan tetap suci sampai ke tempat pembaringan akhir. Selamat Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir batin. **

News Feed