by

Bagi Hasil, Kunci Bank Syariah Lebih Gagah Berhadapan dengan Wabah

JAKARTA (HK)-Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari, mengatakan bank syariah cenderung menanggung risiko yang lebih kecil saat pandemi Covid-19 bila dibandingkan dengan kondisi bank konvensional.

Pasalnya, konsep dasar bank syariah adalah bagi hasil, sehingga secara alami dapat memitigasi dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19. Selain bagi hasil konsep dasar syariah juga harus adil, seimbang dan mashalat.

Ternyata ada beberapa produk bank syariah yang tidak sensitif terhadap pricing, sehingga tidak terdampak.  Misalnya simpanan dengan akad wadiah atau tanpa bunga. Dari tahun ke tahun simpanan akad wadiah rata-rata meningkat.

Kenaikan juga terjadi pada simpanan dengan akad mudharabah, yaitu simpanan dengan konsep bagi hasil. Simpanan jenis ini dinilai tidak akan terlalu membebankan biaya yang harus dikeluarkan ketika pendapatan bank juga mengalami penurunan.

Direktur Utama Bank  Mandiri Syariah itu menjelaskam,  Kuartal I 2020, bank yang dipimpinnya itu masih bisa membukukan laba sebesar Rp sebesar Rp368 atau melesat 51,53% dibanding periode yang sama tahun lalu (yoy). Kenaikan laba ini salah satunya ditopang oleh pembiayan yang mencapai Rp75,70 triliun atau tumbuh 9,14% dibandingkan kuartal I 2019 sebesar Rp 69,36 triliun.

Pembiayan di segmen consumer masih memberikan kontribusi yang paling besar. Seperti pembiayaan Kendaraan Berkah, Griya Berkah, Pensiun Berkah dan Mitraguna Berkah. Meningkatnya pembiayaan berdampak langsung pada pendapatan.

Pada pendapatan margin bagi hasil bersih tumbuh 6,33% (yoy). Semula, per Maret 2019 pendapatan tercatat Rp2,1 triliu, lalu menjadi Rp2,23 triliun per Maret 2020. Sedangkan pendapatan dari fee based income (FBI) meningkat 18,91% dari Rp429 miliar pada kuartal I tahun lalu menjadi Rp510 miliar pada Maret 2020.

BRI Syariah

Direktur Bisnis Komersial BRI Syariah Kokok Alun Akbar, menyatakan pandemi virus Corona pasti akan memberi dampak pada BRI Syariah. Namun tampaknya  dampak itu belum dirasakan selama Kuartal I 2020. Meski demikian memasuki Kuartal II pihaknya akan makin selektif dalam melakukan ekspansi bisnis.

Alih-alih mengalami kontraksi di saat pandemi, laba bank BRI di tiga bulan pertama tahun 2020 malah meroket 150%. Direktur Bisnis Komersial BRI Syariah Kokok Alun Akbar menyatakan laba bersih sebesar Rp75,15 miliar pada kuartal I-2020, dengan pertumbuhan 150% (yoy). Sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun lalu laba BRI Syariah hanya sebesar Rp 30,05 miliar.

Kokok Alun Akbar menjelaskan peningkatan laba tersebut didorong oleh pertumbuhan pembiayaan dan dana murah yang agresif. Pertumbuhan pembiayaan perseroan sepanjang Kuartal I-2020 mencapai 34,28% secara tahunan, menjadi Rp30,45 triliun. Sementara pertumbuhan dana murah naik 77,51% secara tahunan, menjadi Rp16,86 triliun.

Pertumbuhan dana murah perseroan, salah satunya berasal dari tabungan payroll yang tumbuh 46% (yoy) menjadi Rp 627,2 miliar. Tabungan payroll memang jadi salah satu fokus BRI Syariah. Sebab, diyakini mampu mendorong ekspansi pasar dengan potensi peningkatan penyaluran pembiayaan salary based financing. Saat pandemi, cash flownasabah tabungan payroll dapat terpantau, sehingga resiko penyaluran pembiayaan kepada nasabah payroll ini dapat ditekan.

Pembiayaan BRI Syariah di kuartal I tahun ini juga disokong oleh pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74% (yoy) menjadi Rp 20,5 triliun. Pembiayaan ritel ini termasuk segmen kecil menengah dan kemitraan, konsumer serta mikro. Di Kuartal I 2020, asset BRI Sariah juga meningkat 9,51% atau sebesar Rp42,2 triliun.

BNI Syariah

Bank syariah lainnya yang juga meningkat labanya saat wabah corona merebak adalah BNI Syariah. Sepanjang Kuartal I 2020, BNI Syariah mencatatkan pertumbuhan laba hingga 58%. Laba bersih bank ini per Maret 2020 mencapai Rp 214 miliar, naik dibandingkan per Maret 2019 senilai Rp 135,35 miliar.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, mengatakan pada tiga bulan pertama tahun ini belum terlihat dampak dari wabah covid 19 pada bank yang dipimpinnya. Bahkan, perseroan mencatat peningkatan aset 16,19% menjadi Rp 51,13 triliun dibandingkan Kuartal I 2019 senilai Rp 44 triliun.

Salah satu penompang kinerja BNI Syariah di awal tahun in adalah transaksi melalui electronic channel BNI Syariah. Tercatat transaksi di electronic channel mencapai 40,9 juta transaksi. Angka tersebut tumbuh sebesar 8% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yaitu sebesar 37,9 juta transaksi. Adapun nilai transaksi nasabah melaluielectronic channel pada Kuartal I-2020 mencapai Rp 33,5 triliun atau tumbuh sebesar 17,6% dibandingkan Kuartal I-2019 dengan nominal Rp 28,5 triliun.

ATM masih menjadi channel yang paling sering digunakan nasabah dengan proporsi transaksi sebesar 74,2 persen dari jumlah transaksi pada kuartal I-2020 melalui electronic channel atau sejumlah 30,4 juta transaksi. Channel dengan pertumbuhan paling signifikan adalah mobile banking yang tumbuh sebesar 142,3% dari 4 juta transaksi pada Kuartal I-2019 menjadi 9,8 juta transaksi pada Kuartal I-2020.

Melihat indikator kinerja di Kuartal I Abdullah optimistis BNI Syariah masih tumbuh pada pada tahun ini. Dijelaskan olehnya, BNI Syariah telah membuat proyeksi dengan merebaknya virus covid 19 ini. Membuat simulasi dari yang paling ringan, sedang, dan berat dengan stress analysis. Pada tantangan yang paling berat, stress analysismenunjukkan BNI Syariah masih bisa tumbuh.

BCA Syariah

Tak semua bank syariah mencatatkan pertumbuhan laba yang besar BCA Syariah, pada Kuartal I 2020 ini berhasil membukukan laba senilai Rp13,7 miliar naik tipis dari periode sama tahun lalu Rp12,4 miliar.

Selama tiga bulan pertama tahun 2020, BCA Syariah juga mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7,85% . Dari Rp 5,46 triliun per Maret 2019 menjadi Rp 5,89 triliun pada akhir Maret 2020.

Sementara, pembiayaan tumbuh sebesar 19,83%. Dari Rp 4,73 triliun di kuartal I 2020 menjadi Rp 5,67 triliun per akhir Maret 2020. Pertumbuhan pembiayaan tersebut juga berhasil mendorong kenaikan aset cukup tinggi yaitu 19,75% secara year on year (yoy) menjadi Rp 8,35 triliun.

Pesiden Direktur BCA Syariah John Kosasih mengatakan nasabah masih memercayakan dananya untuk disimpan di perseroan. Meskipun DPK hingga saat ini masih bertumbuh, BCA Syariah terus berupaya untuk melakukan asset and liabilities management.

Diakui olehnya, saat ini bank cukup sulit untuk menyalurkan pembiayaan, sehingga diupayakan tidak terjadi kelebihan dana. BCA Syariah juga berupaya tetap menyalurkan pembiayaan meski selektif, dengan menyasar sektor industri kimia untuk disinfektan maupun industri masker.

John mengingatkan perlambatan kinerja akibat dari wabah corona akan mulai terlihat pada Semester II 2020. Diprediksi pada periode ini merupakan puncak dampak dari penyebaran wabah virus corona (Covid-19).  [*]

sumber:sindo

News Feed