by

Menuju Puncak Kemuliaan dengan Ibadah Puasa

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Dalam ayat-ayat tentang puasa terdapat tiga petunjuk Allah SWT yang menjadi tujuan dan sasaran pelaksanaan ibadah puasa (QS:2: 183, 185 dan 186). Ketiga petunjuk itu sering dijadikan oleh para muballigh sebagai petunjuk dalam menjelaskan puasa sebgai ibadah yang amat istimewa dalam ajaran islam. Ktiga petunjuk itu adalah :

Pertama: ‘ La’allakum Tataquun’, ketaqwaan ; adalah petunjuk yang menjelaskan standar keta’atan seorang hamba kepada Tuhannya, Takwa merupakan kualitas jiwa yang Allah gunakan untuk membedakan kemuliaan yang akan diberikan kepada makhluk-Nya. Dengan ketakwaan, seorang hamba dapat selamat di dunia maupun di akhirat karena takwa merupakan bekal terbaik bagi seorang muslim dalam mengarungi kehidupan untuk menuju perjalanan ke akhirat.

Taqwa merupakan tujuan utama Ibadah puasa. Dengan takwa manusia akan terlindungi dari segala perbuatan buruk dan jahat dengan berpegang pada keseimbangan dan kekokohan akhlaq dan moral dalam batas-batas yang telah Allah tetapkan. Sehingga kebanyakan kegiatan ritual didalam Al-Qur’an selalu terkait dengan upaya meraih gelar takwa. Allah berfirman dalam QS. 2:183: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. 2 : 183 ).

Dengan taqwa manusia akan terbimbing hidupnya. Taqwa adalah derajat kemuliyaan di sisi Allah swt. Upaya meraih derajat takwa di sisi Allah SWT hanya mungkin berhasil apabila manusia berusaha dengan istiqamah mengikuti jalan-jalan dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu dengan puasa akan melahirkan manusia taqwa , dan dengan taqwa melahirkan manusia sempurna.

Kedua : “La’alakum Tasykurun” : Syukur , adalah yang menjelaskan bukti seorang hamba merasakan rahmat dan karunia Allah yang amat banyak, Menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah swt dengan disertai ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah swt. Sementara menurut sebagian ulama, Syukur adalah membuka atau menampakkan. nikmat Allah swt yang dikaruniakan padanya, baik dengan cara menyebut nikmat tersebut atau dengan cara mempergunakannya di jalan yang dikehendaki oleh Alah swt. Allah berfirman dalam (QS:2:185): Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ( Qs. 2 : 185 ).

Ibadah puasa akan membentuk kepribadian yang bersyukur, yaitu kepribadian yang senantiasa meyadari besarnya nikmat Allah swt dan akan selalu memuji-Nya. Kesadaran itu akan melahirkan jiwa yang tentram. Sehingga menjadikan seseorang senantiasa senang dan mencintai Allah swt, dalam bentuk ketundukan, kepatuhan dan keta’atan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 152 : Artinya : Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada Ku.( Qs. 2 : 152 ).

Muhammad Quraish Shihab menyebutkan bahwa syukur mencakup tiga sisi, yaitu:
Pertama ; Syukur dengan hati yakni menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan dari ilahi, yang akan mengantarkan diri untuk menerima dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut, kedua ; Syukur dengan lidah yakni mengakui anugerah dengan mengucapkan, al-Hamdulillah serta memuji-Nya, dan yang ketiga: Syukur dengan perbuatan yakni memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai tujuan penganugerahannya serta menuntut penerima nikmat untuk merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah swt.( Muhammad Quraisy Shihab : 1998 ). Dengan demikian syukur merupakan perintah untuk mengingat Allah swt melalui dzikir, hamdalah, tasbih dan membaca al-Qur’an dengan penuhpenghayatan, perenungan, serta pemikiran yang mendalam sehingga menyadari kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah swt. Menjauhi larangan yang Allah swt tetapkan, sehingga Allah swt akan membuka pintu kebaikan.

Ketiga; “ La’allahum Yarsyudun “. Yaitu kecerdasan . Kecerdasan adalah sebagai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia, kemampuan untuk menghasilkan persoalan baru untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau untuk menawarkan jasa yang akan menimbulkan penhargaan dalam budaya seseorang. (Campbell, dkk, 2006). Dengan berpuasa kemampuan aqal manusia semakin kuat. Karena dalam keadaan berpuasa manusia terdorong untuk selalu berkontemplasi , menghayati kedalam diri akan kehdupan ini.

Hal ini akan semakin kuat dengan perintah memperbanyak membaca al-Quran di akhir ramadhan. Sebagai kita ketahui al-Quran adalah sumber bacaan yang terlengkap. Membaca al-Quran akan berpengaruh langsung bagi fungsi-fungsi kesecerdasan manusia. Karena al-Quran banyak memerintahkan untuk menggunakan ‘aqal rasional untuk memikirkan alam ciptaan Allah di bumi ini. Dengan berfikir manusia akan cerdas, memiliki kemampuan untuk menata kehidupannya. Dari sinilah barangkali berkembangnya berbagai teori kecerdasan , sebagai yang disebut oleh Gardner bahwa kecerdasan minimal yang dimiliki seseorang meliputi delapan kemampuan intelektual yang berbeda , disebut dengan teori multiple intelligences. (Gardner:2003).

Kecerdasan tersebut terdiri atas: linguistik intelligence (kecerdasan linguistik), logical-mathematical intelligence (kecerdasan matematika dan logika), spatial intelligence (kecerdasan spasial), bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh), musical intelligence (kecerdasan musik), interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal), intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal), dan natural intelligence (kecerdasan natural), semua kecerdasan ini tidak tempatnya kita uraikan disini.

Tidak ada satupun perintah Allah swt kepada manusia yang sia-sia sebagaimana penciptaan-Nya yang tidak ada kesia-sian. Di dalam perintah terdapat manfaat yang besar bagi manusia, sebagai mana di dalam larangan terdapat mafsadat di dalamnya. Dalam perintah puasa banyak terdapat manfaat diantaranya puasa berfungsi membangun kecerdasan manusia. Kecerdasan adalah kemampuan general manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik dan tidak bertentangan dengan norma agama yang bersifat rasional. Selain itu, kecerdasan dapat juga diartikan sebagai kemampuan pribadi untuk memahami, melakukan Inovasi dan memberikan solusi dalam kehidupan ini. Menurut C. P. Chaplin: Kecerdasan adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif.

Puasa sejatinya membuka pitur –pitur baru bagi aqal untuk menembus dua alam ciptaan Allah swt yang maha luas ini. Yaitu alam Syahadah ( dunia ) dan alam gaib ( Barzah, Surga dan Neraka ). Kedua alam itu dapat dijangkau dan diketahui dengan petunjuk Allah swt. Inilah tugas manusia, dimana kita secara terus menerus mengabdi dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai ibadah diantaranya melalui ibadah puasa . Allah swt, berfirman dalam Qs : 2 : 186 :
Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka menjadi orang yang cerdas ( QS. 2 : 186 ).

Nah apabila tiga komponen tersebut , yaitu Taqwa, syukur dan Cerdas terkumpul dalam kepribadian manusia , maka dapat dipastikan setelah ramadhan akan terjadi perubahan besar bagi diri manusia. Yaitu lahirnya manusia –manusia baru yang memiliki jiwa dan kepribadian sempurna yang terkumpul dalam perilaku ( al-Akhlaqul Karimah), yaitu perilaku orang-orang saleh sebagaimana yang di wariskan oleh para Nabi dan Rasul. Itulah orang-orang muliya baik disisi Allah swt, maupun di hadapan makhluk-Nya. Kesanalah kita akan menuju dan semoga Allah perkenankan ibadah puasa yang sedang kita lakukan membawa kita menuju kemuliaan di sisi-Nya dan di sisi para hamba-Nya. Aamiin.***

News Feed