by

Sepuluh Malam Terakhir

Oleh: Dr. KH. Syamsul Yakin, M.A.

Aisyah berkata, “Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, biasanya beliau (Rasulullah SAW) menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta mengencangkan kainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim disebutkan, “Beliau bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir, tidak seperti malam lainnya.”

Di sepuluh malam terakhir ini terdapat beberapa momentum penting. Pertama, diturunkannya Alquran pada malam keberkahan, seperti firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya di malam keberkahan.” (QS. al-Dukhan/44: 3). Al-Qur’an yang turun pada masa ini adalah secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah.

Kedua, terdapat Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. al-Qadar/97: 1-4).

Nabi SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” HR. Ahmad).

Ketiga, kaum Muslim percaya bahwa pada sepuluh malam terakhir ini mereka akan mendapat “Itqun minannar” atau terbebasnya api neraka. Nabi SAW bersabda, “Bulan Ramadhan itu awalnya adalah rahmat. Pertengahannya adalah ampunan. Dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Terlepas perdebatan tentang otentisitas dan validitas hadits ini, yang pasti matannya memberi motivasi bagi kaum Muslim untuk berlomba meraih “hadiah” sejak sepuluh malam pertama hingga sepuluh malam terakhir. Dalam Tafsir Munir, Wahbah al-Zuhaili mengutip hadits ini terkait terbatasnya waktu berpuasa, yakni pada hari-hari tertentu.

Tujuan Nabi SAW membangunkan keluarganya di sepuluh malam terakhir adalah agar seisi keluarga mendapat pembebasan dari api neraka. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. al-Tahrim/66: 6). Jadi sepuluh malam terakhir ini memberi peluang buat kita masuk surga sekeluarga.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama al-Rayan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?”

Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Apabila mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga sepuluh malam terakhir ini menghantarkan kita untuk masuk surga sekeluarga.

Untuk itu mari kita membaca doa agar masuk surga sekeluarga, seperti diajarkan Allah SWT, “Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.” (QS. al-Mukmin/40: 8). Aamiin.*

(sumber: republika.co.id)

News Feed