by

Puasa dan Reorientasi Ibadah

  • Oleh: Agustar, Eseis, bermastautin di Batam

Kita kembali memasuki bulan suci Ramadhan 1441 H, meskipun dalam kecamuk wabah Covid-19. Bulan yang penuh gairah untuk melaksanakan berbagai aktivitas ibadah. Sebelum terlalu jauh kita menghirup wanginya puspa Ramadhan, ada baiknya kita selalu melaksanakan evaluasi bersifat sistemik terhadap sikap dan perilaku kita dalam menghadapi bulan suci ini. Maksud saya, sebaiknya kita meluruskan visi dan orientasi kita dalam beribadah termasuk ibadah puasa. Sehingga ibadah kita tidak mengalami disorientasi baik dari segi teknis syariat maupun persepsi nilai teologisnya. Karena banyak diantara kita yang memperoleh ilmu agama hanya dari forum-forum pengajian belaka.

Sejauh ini, para pegajar dan penganjur agama dari dulu-dulu sampai sekarang, selalu memberikan gambaran bahwa berpuasa itu adalah “menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”. Atau, puasa adalah berlatih menahan nafsu dan menghayati penderitaan orang miskin. Untuk yang terakhir ini, tersirat makna implikatif bahwa puasa seolah-olah ditujukan hanya untuk orang-orang kaya. Padahal batasan kaya-miskin, berpunya-papa, sejahtera-melarat sungguh sangat relatif. Apalagi jika ditakar dengan tingkat kepuasan manusia. Tetapi apa boleh buat, inilah tingkat pengetahuan elementer kita bertahun-tahun tentang puasa.

Namun, sampai kapan kita harus bertahan dengan terminologi puasa formalistik ini? Ibadah puasa semestinya kita pahami dan sikapi secara kualitatif. Artinya, dalam perspektif yang lebih luas puasa adalah metodologi mencari kesejatian hidup. Puasa adalah media kontemplasi untuk bercermin pada realitas batin kita masing-masing. Puasa semestinya dijadikan ajang eksplorasi ke langit-langit ruhani untuk menemukan kedekilan-kedekilan seorang hamba yang selalu diperbudak oleh ego-nya. Kedekilan-kedekilan tersebut mesti dibasuh melalui kontemplasi spiritual berpuasa.

Dari situ kita mengharapkan munculnya sinyal kesadaran untuk melakukan peperangan terhadap hedonisme duniawi, hawa nafsu, keserakahan pada berbagai level, ambisius kekuasaan dan sifat-sifat arogansi kemanusiaan. Yang lebih esensi lagi, elemen-elemen ini diharapkan memantul pada segenap sepak terjang kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kalau perlu dilakukan reorientasi ibadah dalam persepsi pemahaman syariatnya.

Untuk itu menurut hemat saya, target pertama yang harus dicapai dulu dalam berpuasa adalah bagaimana kita harus “lulus kembali menjadi manusia”. Karena manusia sejatilah yang memungkinkan untuk beriman, sebab taqwa sebagai target point dari ibadah puasa hanya bisa dicapai dengan dimensi imani (Q.S. 2 : 183).

Bulan Ramadhan bagi segenap umat Islam di penjuru dunia ini boleh dikatakan sebagai bulan euforia (kesemarakan) ritual. Euforia ini tercermin dari penuh sesaknya masjid-masjid, mushallah-mushallah, surau-surau oleh para jamah yang melaksanakan ibadah. Euforia inilah yang hilang akibat wabah Covid-19 ini. Nuansa kontemplasi dan kekhusukan terasa di mana-mana. Intensitas ritualitas peribadatan umat bagaikan mencapai titik kulminasi pada setiap bulan Ramadhan. Kondisi seperti ini sungguh bertolak belakang dengan hari-hari biasa di luar bulan suci Ramadhan, dimana tempat-tempat ibadah di atas selalu diselimuti oleh kesepian.

Fenomena kesemarakan ini menarik sekali untuk dicermati paling tidak dari dua dimensi. Pertama, jika dikaitkan antara interaksi fungsional ritual dengan dialektika sosial yang ada dalam masyarakat. Ada semacam alienasi kultural antara kesemarakan ritual dengan realitas sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini nilai-nilai luhur ajaran agama seolah-olah terlempar dan terasing dari sikap dan perilaku pemeluknya sehari-hari.

Mengapa semakin mendalamnya pemahaman nilai-nilai agama serta meluasnya gairah ketuhanan tidak selaras dengan sistem manajemen kehidupan baik personal maupun kolektif? Misalnya, mengapa ribuan rakaat shalat yang telah kita lakukan sering tidak paralel dengan tingkat progresivitas kita dalam mencegah kemungkaran yang ada di sekitar kita? Padahal sudah jelas, indikator keefektivitas shalat adalah manifestasi pencegahan kemungkaran bagi pelakunya. Malah sebagian kita ikut andil menumbuhsuburkan kemungkaran-kemungkaran tersebut melalui legitimasi kekuasaan yang kita genggam, lewat pengaruh yang kita miliki atau dengan uang dan harta yang kita punyai.

Misalnya, kita mengutuk prostitusi, tetapi kita mefasilitasi keberadaannya. Kita memberi ijin pendirian night club, karaoke, panti pijat dan fasilitas hiburan malam lainnya. Kesemuanya itu kemungkinan menjadi kamuflase belaka untuk pemanjaan keliaran nafsu seksual manusia yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama.

Atau pada format yang lain, ibadah puasa senantiasa mengajarkan sikap altruistif dan keberpihakan pada kaum lemah. Berpuluh-puluh tahun secara berulang kita telah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Tetapi mengapa sikap kita tidak indikatif terhadap kemauan pembelaan kaum miskin dan papa? Justru dengan arogansi kekuasan, kaum lemah sering kita sudutkan secara represif melalui jargon-jargon yang bernuansa peminggiran. Padahal pada level format kehambaan, tidak ada perbedaan stratifikasi antara kita dengan mereka yang kita anggap kere dihadapan Allah Yang Maha Adil.

Mengapa fenomena-fenomena di atas terjadi, sementara di satu sisi kita begitu intensnya melaksanakan ibadah; shalat, puasa, zakat, haji serta amal-amal lainnya? Jawabannya hanya satu: kemunafikan kita dalam beragama!

Kedua, euforia ritual selama Ramadhan bisa mengindikasikan kesalahpahaman kita tentang “ruh” ibadah. Akibat kesalahan persepsi kita tentang orientasi ibadah, maka kita bisa terjebak dalam suasana euforia ritual belaka, bukan euforia bersifat spritual yang substansif-hakiki. Sehingga kita seolah-olah mengejar fatamorgana yang semu belaka. Ibadah tidak mengkristal dalam sanubari kita dan tak memiliki dampak pada perilaku. Bahasa menterengnya tak berpengaruh pada psiko-religius, psiko-personal dan psiko-sosial seseorang.

Ramadhan telah dijadikan Allah sebagai bulan penuh pengampunan, maghfirah dan penuh rahmat. Momentum ini telah kita terjemahkan secara salah kaprah dengan sifat aji mumpung sebagai “bulan bazaar amal” dari Allah untuk mengumpulkan pahala yang sebanyak-banyaknya. Padahal Tuhan tidak bermaksud menciptakan suasana transaksi imbal balik “amal-pahala” dengan manusia. Karena pada hakikatnya Allah tidak membutuhkan manusia, justeru sebaliknya manusialah yang memerlukan kasih sayang-Nya.

Demikianlah, ruh ibadah dalam peta pemahaman hidup kebanyakan orang adalah pahala. Akibatnya paradigma dan orientasi peribadatan targetnya adalah pahala. Mereka melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji dan amal-amal yang lainnya semata-mata demi pahala. Pahala telah ditakar dan diasosiasikan menurut pemahaman kebudayaan manusia sebagai laba.
Semakin banyak pahala, maka semakin paripurnalah seseorang sebagai hamba. Format peribadatan semacam ini adalah “peribadatan kapitalistik”. Terminologinya adalah konsep untung-rugi. Akhirnya, seolah-olah yang mereka Tuhankan bukanlah Allah, melainkan pahala itu sendiri.

Dalam bahasa syariat pahala adalah idiom (perlambangan). Perlambangan kasih sayang-Nya kepada para hamba. Manusialah yang sering salah persepsi terhadap idiom ini sehingga menterjemahkan sebagai iming-iming dari peribadatan. Karena diartikan sebagai iming-iming, maka ia harus dikejar dan diperebutkan, sesuai dengan pengalaman budaya manusia memperebutkan suatu keuntungan.

Padahal, pahala adalah dampak dari peribadatan, yang eksistensi, format dan wujudnya hanya Allah yang tahu. Jadi bukan tujuan dari ibadah itu sendiri. Tujuan dari ibadah satu-satunya hanyalah mengharapkan keredhaan Allah dalam format taqwa. Berserah diri menjadi titik orientasinya. Sehingga Allah memerintahkan umat manusia berpuasa bukan untuk mengumpulkan pahala, tetapi menuju kesejatian insan taqwa (Q.S. 2 : 183). Dalam konteks inilah diperlukan reorientasi ibadah; dari mengejar-ngejar pahala kepada meharapkan keredhaan Allah SWT.

Barangkali kita bisa bercermin pada seorang sufi, Rabiah Al-Adawiyah, yang menangis terisak-isak dalam untaian doanya: “Kalau ibadahku ini aku lakukan untuk mengharap surga-Mu, ya Rabbi, campakkanlah aku ke dalam api ganas-Mu. Kalau ibadahku ini aku lakukan karena takut kepada neraka-Mu, ya Rabbi, maka tutuplah rapat-rapat pintu surga bagiku…”

Rabiah melaksanakan ibadah bukan untuk mengejar pahala atau surga. Ia tidak merindukankan pahala, tetapi yang ia dambakan adalah mardhatillah (keredhaan Allah) semata. Rabiah tidak takut pada dosa dan neraka, tetapi yang ia ngerikan adalah kemurkaan Allah SWT.

Rabiah berupaya mencari kesejatian dan kebeningan hidup. Kesejatian itu terletak pada kepasrahan total kepada-Nya. Sehingga setiap detak jantung, denyut nadi, hela nafas dan kedip mata sekali pun lillahirrabbilalamin. Sebab memang, yang dicari oleh jiwa manusia yang fitrah bukanlah pahala, bukan surga, harta, kedudukan, pengaruh, atau bukan apapun jua, melainkan keredhaan Allah itu sendiri. Selamat berpuasa.***

News Feed