by

Refleksi Nuzul AlQur’an untuk Tadarrus Kehidupan

Oleh: H. Muhammad Nasir,S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (QS.Al-Hasyr 21).

Diantara banyak keistimewaan yang terdapat pada Ramadhan adalah diturunkannya Al-Quran di dalamnya sehingga ulama menyebut Ramadhan sebagai bulan Al-Quran (al-Syahru al-Quran).

Sebagai petunjuk (hudan ), Al-Quran berfungsi untuk menerangi jalan kehidupan manusia semasa hidup di dunia. Kehidupan dunia ini disediakan Allah SWT sebagai tempat mempersiapkan diri menuju akhirat tempat akhir kehidupan manusia. Sebagai bentuk persiapan menuju kehidupan akhirat, Allah SWT perintahkan manusia untuk memperbanyak membaca Al-Quran, sebagai amalan yang terpuji pada Ramadhan.

Sebagai orang beriman, tentu saja Al-Quran tidak hanya sekedar dibaca, apalagi untuk diperlombakan, tetapi jauh dari itu Al-Quran berfungsi sebagai panduan, pedoman, petunjuk dan sebagai sumber inspirasi kehidupan sampai akhir hayat.
Karena itu orang-orang beriman tidak berhenti hanya pada tadarus, kemudian berlomba-lomba untuk menghatamkannya tetapi yang lebih hakiki adalah petunjuk Al-Quran menjadi cahaya penerang dalam qalbu (aspek batiniyah) yang tertanam dalam kepribadiannya sehingga di hati mereka ada rasa kerinduan untuk membaca, mendengar, memahami, menghayati, dan kemudian mengamalkan dalam kehidupan. Inilah orang-orang yang beriman yang sebutkan Allah dalam al-Quran surat Al-Anfal ayat: 2 : yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Mereka adalah orang yang memiliki integritas yang tinggi, memiliki kemuliaan disisi Allah SWT mereka telah mampu menjadikan al-Quran sebagai perilaku , sebagai the Man of Qur’an, the Walking Quran. Mereka adalah orang-orang yang memiliki prinsip kebajikan dengan kesadaran dan komitmen ibadah ritual-vertikal yang diteruskan dengan komitmen aksi social-horizontal. Keseimbangan ibadah ritual dan sosial menjadi ciri menonjol dari kepribadiannya.

Dengan demikian Al-Quran bagi orang beriman, adalah perilaku bukan pernyataan, bukan hanya bacaan dan hafalan melainkan aktualisasi dalam sikap perilaku yang nyata. Membaca dan menghafal penting, tetapi jauh lebih penting adalah menalarkan dan mengamalkan Al-Quran kedalam formasi sosial melalui rancang bangun masyarakat yang ramah dan berakhlakul-karimah. Untuk itu pertanyaannya adalah bagaimana upaya kita untuk bisa menjadikan diri kita sebagai Al-Quran berjalan dalam realitas sosial yang sesak dengan polusi kejahatan kemanusiaan saat ini.
Sungguh kita masih menyaksikan, betapa banyak petunjuk Al Qur’an yang tercecer dan terabaikan dikarenakan kurangnya kesungguhan untuk mendatabburi dan mengamalkan Al-Quran.

Seakan-akan Al-Qur’an hanya tinggal lagu dan bacaan, Al-Quran hanya hiasan dinding yang disejajarkan dengan hiasan bunga dan poto-poto di tembok kamar rumah sehingga tidak memberikan pengaruh pada perilaku umat. Padahal petunjuk utama dan pertama bagi setiap pribadi bahkan masyarakat muslim itu, tidak lain berangkat dari ruh Al-Quran, the spirit of Qur’an yang harus mendarah daging menyatu dengan tarikan nafas kita semua.

Hidup bukanlah sekumpulan waktu yang dilalui dan juga bukan hanya berapa lama umur yang dimiliki, tetapi hidup adalah berapa banyak mengukir prestasi amal kebajikan. Maka bagi orang yang beriman prestasi utama adalah hidup dibawah naungan Al-Quran, hidup berdasarkan petujuk Al-Quran dan hidup dalam bimbingan Al-Quran. Ayat Al-Quran yang memerintahkan orang-orang beriman melakukan perjalanan dan menyebar di muka bumi (fantasiruu filardhi) menjadi pegangan dan pembimbing kehidupan. Melalui Al-Quran orang beriman ingin menjadikan dirinya kaffah, totalitas dalam mengarungi dan mereguk kenikmatan cinta surgawi, tidak akan meninggalkan sedikitpun keraguan bahwa jalan dan petunjuk hidupnya hanya bermuara dan berakhir dalam satu garis lurus, yaitu dengan Al-Quran.

Tetapi, alangkah nelangsanya jiwa ketika hari ini kita masih menyaksikan degradasi keimanan sebagian umat yang mengaku diri seorang muslim. Mereka terjatuh dalam naungan budaya kaum kafiri, yang menari-nari dibawah iringan gendang dan musik Dajjal, berpandukan ajran mistik –filosofik dengan mengagungkan nalar semata-mata. Mereka terjebak dengan patwa sekuleristik dan hedonistik yang setiap hari membingungkan langkah hidup ini. Hidup terasa sempit mengigit, hidup terasa sesak tak berjarak.

Mereka dengan bangga berjalan, berkarya, dan bernostalgia dengan hiruk pikuk tehnologi dan budaya tanpa norma. Seakan-akan hidup dunia tanpa akhir, tanpa batas. Mereka tidak lagi bisa membedakan mana dosa mana ibadah, mana pembela mana penjajah, nauzubillah min zalik. Untuk itu sudah saatnya kita kembali ke jalan Al-Quran (Qs. Al-Hadid 16 ): Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (Qs. Al-Hadid 16 ).

Jika kita sering bedialog secara cerdas dan jujur dengan Al-Quran tentu saja kita akan merasakan pantulan balik tentang kualitas pribadi dengan iman yang kuat, sehingga Al-Quran benar-benar merupakan konsultan bagi kehidupan untuk membangun agenda perbaikan di masa depan yaitu untuk membangun tata kehidupan yang beradap dengan landasan iman, ilmu dan amal.

Sebab itu sejak awal turunnya Al-Quran , perintah yang pertama kali disampaikan kepada Muhammas saw, bukan untuk mendirikan sholat , menunaikan puasa, membayar zakat, naik haji ke Mekah, atau perintah ritual lainnya, tetapi Iqra’ ( bacalah ) dengan Nama Tuhan-mu ,Baca dan renungkan ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta ini, termasuk ayat-ayat sosiologis dan psikologis yang dalam istilah Barat disebut sebagai “the iron law of history “.

Hati kita memiliki peran penting, mengendalikan seluruh gerak dan perilaku hidup ini. Karenanya, kita harus terus menjaga dan memelihara kejernihannya, melalui kalimat – kalimat dan ayat –ayat suci Al-Quran. Sebagaimana firman Allah QS. 14: 26 ) : Artiny : Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS 14:26).

Kita juga memiliki kewajiban menjaga cahaya hati agar tidak redup, dengan selalu membaca Al-Quran , baik dalam pengertian sederhana ataupun yang labih luas. Karena hati yang disirami dengan pengetahuan Qurani, senantiasa jelas dan terang melihat sesuatu. Hati seperti inilah yang disebut dengan hati yang bersih ( Qs. 26 : 89 ), hati yang tetap tenang ( Qs. 16 : 106 ), dan hati yang menerima petunjuk Allah SWT ( Qs. 64 : 11 ). Dari bentukan karakter hati ini, lahir perilaku penuh kelembutan dan kasih sayang yang luar biasa. Perilaku yang muncul dari hati yang terbimbing oleh Al-Quran, akan mencerminkan sikap hidup yang muliya yang di dicintai Allah dan di sayang manusia. Itulah tadarrus kehidupan yang menjadi tujuan Nuzulnya Al-Quran.***

News Feed