by

Dakwah Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Sudah menjadi tradisi Islam sejak lama, setiap Ramadhan datang, umat Islam beramai-ramai mendatangi rumah ibadah (masjid atau surau) untuk melaksanakan shalat wajib ataupun sunnah, bertadarus, dan mendengarkan tausiyah. Tradisi ini merupakan bagian dari syiar Islam.

Sebagai bulan tarbiyah, Ramadhan efektif untuk meningkatkan ilmu pengetahuan agama dan amal shaleh. Untuk itu, setiap masjid/surau atau tempat-tempat lainnya selama Ramadhan melakukan dakwah yang biasa disebut dengan santapan rohani Ramadhan.

Selama ini dakwah dipahami dalam arti sempit yaitu ceramah atau pidato (attabligh). Makna ini terkesan bahwa dawah dilaksanakan dengan mengumpulkan banyak orang dalam satu forum yang sama.

Dalam kondisi ini, masyarakat atau jamaah dilarang atau dianjurkan untuk tidak berkumpul dalam suatu tempat atau majelis. Ini bukan berarti dakwah hilang atau tidak dapat dilaksanakan. Sebab itu pola dakwah harus dikembangkan atau dilakukan dengan reorientasi dari orasi ke transformasi dalam bahasa dakwah disebut Min al-Tabligh ila Tahwir al-Mujtama’ wa al-Hadharah al-Islamiyah (Dr.A.Ilyas Ismail,MA: 2018).

Perlu difahami bahwa ceramah hanyalah satu fungsi kecil dari dakwah. Dakwah tidak hanya dilakukan dengan bi al lisan tetapi juga dengan tulisan atau bi al kitabah, amal ma’ruf nahyi munkar, serta dapat juga dilakukan dengan jihad fi sabilillah, serta sikap dan prilaku alias keteladanan.

Di tengah umat Islam sedang berjihad melawan corona, saat kita dianjurkan tidak berkumpul dan menjaga jarak, maka pola dakwah apa yang dapat kita lakukan agar Ramadhan sebagai bulan tarbiyah dapat dilaksanakan dengan baik.

Ada yang dapat kita tawarkan adalah dengan mengembangkan pola dakwah yaitu:

Pertama, melakukan transformasi pola dawah bi al- Lisan kepada dakwah bi al kitabah atau tulisan. Para muballigh dapat menyampaikan ide-ide dan pesan moral agama melalui tulisan. Menulis adalah budaya Islam yang paling utama. Kita dapat membaca AlQu’ran, membaca hadits dan membaca sejarah hari ini adalah karena budaya tulis yang dikembangkan sejak zaman sahabat. Kita bisa mengenal ilmu pengetahuan hari ini adalah karena budaya tulis para ahli ilmu masa lalu.
Maka ada dua tradisi yang tidak boleh hilang dalam khazanah budaya Islam yaitu membaca dan menulis.

Kedua, melakukan transformasi dakwah dari media konvensional ke media sosial. Secara umum media komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian yaitu media kompensional atau media lama seperti media lisan dan media cetak, sedang media sosial adalah media digital dan media online. Media sosial merupakaan media daring berbasis internet dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, menciptakan konten, dan saling berbagi satu dengan yang lain. Saat ini yang umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia adalah blog, Facebook, Twitter, Wiki, WA, forum dan dunia virtual. Berda’wah dengan menggunakan medsos di tengah wabah Covid-19 adalah sangat tepat. Masyarakat atau jamaah Ramadhan tidak perlu datang berkumpul dengan banyak orang atau berkerumun, ini juga untuk menghindari penularan virus yang sedang menggejala.
Disamping itu materi dakwah akan tersajikan secara cepat ke seluruh masyarakat karena medsos tidak mengenal ruang dan waktu, komunikasi tidak berlangsung face to face tetapi dilakukan dan berlangsung secara virtual di ruang maya (cyber space).

Da’wah akan mudah dan cepat serta murah, baik dalam penyampaian maupun penerimaan karena medsos menggunakan system komuikasi digital yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki system komunikasi analog (ceramah).

Sekaranglah saatnya umat Islam harus memanfaatkan tehnologi untuk kepentingan dakwah. Islam agama terbuka menerima perkembangan tehnologi walaupun tehnologi memiliki sisi negatif yang tak dapat dipungkiri. Berdakwah akan lebih mudah, efektif dan efisien. Berdakwah melalui media internet umat bisa melakukan ritual keagamaan secara langsung dari tempat yang berbeda. Kenyataan ini telah memunculkan term baru yang oleh Compbell dinamakan, religion online dan online religion. Ini artinya bahwa menyampaikan pesan Agama kepada umat beragama mendapat perhatian besar umat serta menunjukkan bahwa sesuatu yang baru telah terjadi, yaitu bahwa ide-ide dan praktek agama bisa di-inported secara online oleh pengguna internet. Penetrasi internet kedalam kehidupan beragama memunculkan phenomena baru oleh Compbell (Heidi A.Compbell:2011) disebut sebagai agama jaringan (networked religion) artinya jaringan menggambarkan hubungan dan interaksi antara individu dan masyarakat yang merupakan adanya pergeseran social dan budaya masyarakat dalam realitas online maupun offline.

Disisi lain penggunaan tehnologi untuk mempermudah dakwah merupakan wujud rasa syukur terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Islam tidak phobia terhadap iptek, tetapi juga tidak cinta mati dengan mempertuhankannya (tehnopagan ).
Iptek diperlukan sebagai prasyarat pendukung kemajuan dan ditempatkan dalam kerangka ibadah sebagai realisasi perintah Allah swt, wahyu pertama, lima ayat dari surat al-‘Alaq , sekaligus sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan niKmat-Nya yang amat besar. Inilah dasar dasar perkembangan iptek yang direkomendasikan oleh Dr.Abdul Salam, Fisikiawan Muslim Pakistan, dimana ia mendorong penggunaan sain dan teknologi atas dua prinsip yaitu : Pertama: prinsip kerahmatan Islam, sebagaimana dalam QS. Al-Ambiya ayat 107: yang artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam“. (QS.21:107).

Dan Kedua, prinsip syukur atas nikmat dan anugerah Allah SWT, sebagaimana QS. Ibrahin: 7 yang artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. 14:7).

Dengan demikian, di tengah musibah covid-19 tahun ini mari kita manfaatkan teknologi untuk menjadi infrastruktur transendensi, yakni alat dan media yang bisa digunakan dan dikembangkan untuk menunjang pelaksanaan dakwah Ramadhan.
Tidak ada halangan bagi para Muballih/Muballighah untuk mengajak umat, membimbing dan mengayomi dalam bulan ramadhan yang sebentarlagi tiba. Mudahan-mudahan umat Islam tetap dapat melaksanakan ibadah puasa dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah memperdalam ilmu-ilmu agama sebagai bekal menuju kesempurnaan iman dalam kehidupan.

Kepada Allah kita bermohon pinta mudaha-mudahan Wabah Covid-19 segera hilang di bumi ini dan diangkat oleh Allah SWT, dan kita dapat kembali melaksanakan ibadah sebagaimana biasa. Aamiin.**

News Feed