by

Puisi yang Disempurnakan

Cerpen: Fery Heriyanto

Setelah diketiknya beberapa kalimat, kemudian dihapusnya lagi. Diketiknya lagi, lalu di-delete. Begitulah kala dia memaksakan diri untuk menulis sebuah puisi. Sudah beberapa kali kami berdiskusi tentang proses kreatif membuat sebuah karya sastra, namun, tampaknya itu belum dipahaminya utuh.

Dalam sejumlah kesempatan, kami sepakat jika sebuah karya sastra akan hadir jika ada ide, mood, dan hati yang galau atau gembira. Tapi, biasalah, kesepakatan itu ada saat diskusi saja. Lepas dari itu, semua buyar.

Menurut kawan-kawan dekatnya, sudah menjadi kebiasaan dia, saat waktu senggang, laptop sudah on di atas mejanya. Jika sudah begitu, dia akan larut beberapa saat. Ketika dia mampu menulis sebuah puisi, rasa puas tergambar dari wajahnya. Tapi, saat mengalami kebuntuan, maka makanan jadi pelampiasanya.

Tak heran, jika pulang kerja, ada sekantong snack yang dibawanya masuk kamar. Jika makanan tidak ada, dia segera ke dapur atau menuju foodcourt yang tidak jauh dari kediamannya. Disitu, semangkok bakso, atau mie ayam, atau nasi goreng, atau soup tulang akan menjadi menu favoritnya.

**

Aku biasa menyapanya, Nthy. Usianya mendekati 29 tahun. Namun, kecintaannya pada puisi cukup kuat. Dari biografi singkat yang dikirimkan saat sejumlah puisinya hendak diterbitkan di rubrikasi yang aku asuh, dia mengaku menyukai puisi sejak sekolah.

Dalam beberapa kali komunikasi, dia mengaku terkadang tidak “pede” mengirimkan puisinya ke media massa untuk diterbitkan.

“Nthy kadang malu, puisi Nthy sangat dangkal. Puisi anak-anak,” ucapnya suatu kali.

Tapi aku mengatakan, “Bisa saja membuat puisi dan mencoba mempublikasikannya, merupakan sebuah keberanian.”

“Itu menjadi semacam terapi untuk melampiaskan emosi. Bagaimana jadinya ide-ide itu hanya di kepala? Menempel terus dan dibawa kemana-mana pergi. Lebih baik dituliskan. Minimal perasaan lega. Syukur-syukur orang memberikan apresiasi. Kan jadi penambah semangat,” jelasku pada dia.

Dia mengamini hal itu. Pernah suatu kali, saat puisinya sudah masuk proses cetak, tiba-tiba dia telpon.

“Pak, aduh, maaf, nggak usah diterbitkan…”
“Lho, kenapa?”
“Puisinya nggak bagus…” ucapnya agak lemah dari ujung telepon.
“Nggak, bagus kok. Diksinya ada kemajuan,” ucapku memberi semangat.
“Iya, Pak..?”
“Benar…Pokoknya ada kemajuan,” ucapku kembali memberi dukungan.

Besoknya, setelah terbit, puisi dan ada foto wajahnya, langsung diposting di media sosialnya. Aku melihat banyak yang memberi “like”. Dan tidak sedikit pula yang memberi respos positif. Dia tampak senang. Dari balasan chattnya, aku melihat dia begitu gembira, bercampur bangga, dan penuh semangat.

“Terima kasih, ya, Pak, sudah memberi ruang pada Nthy untuk berkreasi,” tulisnya via WA malam harinya.

**

Sekitar dua bulan lalu, siang saat istirahat kerja, tiba-tiba dia datang ke kantorku. Dengan agak buru-buru dia langsung ke ruanganku.

“Pak, Nthy minta doa dan izin. Insya Allah, bulan depan Nthy menikah,” ucapnya saat duduk di depanku.

“Nthy berharap Pak datang. Ini undangannya. Mohon juga Pak sekalian jadi saksi. Nthy sudah sampaikan pada keluarga. Pak wajib datang,” ucapnya seraya menyodorkan undangan berwarna putih.

Aku terima undangan itu. Kami sempat berbincang beberapa saat. Lalu, dia pamit balik ke kantornya.

“Pak masih akan tetap buka ruang untuk puisi Nthy nanti kan?” ucapnya saat hendak meninggalkan kantorku.

“Selama Nthy mengirimkan puisi, selama itu pula Pak akan beri tempat,” ucapku. Dia tampak senang mendengar jawaban itu.

**

Esoknya, saat istirahat, dia telpon.

“Pak, maaf, Nthy ada puisi, tapi yang satu ini tak pernah selesai,” ucapnya dari ujung handphone.

“Kenapa?”
“Nthy pusing. Banyak kerja, belum lagi persiapan nikah,” katanya lagi.
“Nggak usah dipaksakan. Biarkan saja dulu. Fokus saja pada acara,” jawabku.
“Tapi, Pak…”
“Kenapa…?” tanyaku.
Dia diam sejenak.
“Kenapa, Nthy?” tanyaku lagi.
“Ngg..Nthy pengen puisi itu jadi salah satu kado kami,” ucapnya agak pelan.
“O..”
Dia kemudian diam lagi.
“Bisa Pak bantu?” ucapnya seakan memohon. “Bisa ya, Pak,” ucap setengah mendesak.
Aku menghela nafas.
“Pak…Bisa bantu kan?” ucapnya lagi seakan merengek.
“Baik, coba WA-kan segera,” jawabku.
“Betul, Pak?!” balasnya gembira. “Siap, Pak! Segera Nthy WA-kan! Makasih, Pak…Pak sehat-sehat ya,” ucapnya dengan gembira.

**

Memperbaiki puisi karya orang lain, rasanya bukanlah kapasitasku. Namun, saat ku baca bait per bait puisinya, terbayang bagaimana sibuknya dia saat ini. Terngiang pula ucapannya jika puisi itu untuk suaminya usai akad nikah.

Pelan-pelan aku baca puisi yang dikirimkannya itu. Aku pahami kata per kata. Kalimat demi kalimat. Entah kekuatan darimana, keyboard laptop ini bergerak merapikan diksi yang aku nilai kurang tepat.

Sepekan jelang pernikahannya, aku serahkan puisi itu. Setelah dibacanya, dia langsung menelpon. Dari ujung telepon, dibacanya bagian akhir puisi gubahan itu.

//terima kasih telah melahirkannya//

//Aku akan menjadi penyempurna kekurangannya//
//Aku dukung bakti dia pada ibunya//
//Aku akan utuh bersama dia//
//Dan kami akan bersama sampai Tuhan memanggil pulang//

“Pak, terima kasih ya,” tuturnya dengan suara agak tercekat.

“Pak, mohon aminkan bait-bait puisi ini ya,” ucapnya sesenggukan.

***

Batam, awal 2020, “oleh-oleh” dari Kantin Bang Et, Perumahan Cendana

— Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater O USU Medan. ***

News Feed