by

Tinggal, Bekerja, dan Beribadah di Rumah dalam Prinsip Fiqih Prioritas

  • Oleh: H. Muhammad Nasi, S.Ag, MH, Kakan Kemenag Lingga

Jika dihayati ketiga istilah di atas dengan pikiran yang sedikit radikal, banyak hal yang bisa kita ambil hikmah bagi aktivitas sosial agama dalam kehidupan ini.

Ketiga istilah ini adalah perintah yang menyimpan aspek-aspek aktifitas dalam bentuk usaha yang dapat dilaksanakan oleh siapa saja. Ketiga istilah tersebut adalah strategi mengembangkan cara kerja dengan fokus di tempat tinggal.

Istilah ini muncul tidak hanya ketika wabah covid-19, namun sudah lama. Bahkan, kini ini aktifitas di rumah merupakan cara yang lebih efektif dan ekonomis. Kata kuncinya adalah ‘di rumah’. Mengapa dan ada apa dengan rumah?

Rumah adalah tempat yang paling nyaman, aman, dan bahkan yang paling menyenangkan. Jika kita baca dalam syariat Islam, Rasulullah SAW mengatakan rumahnya sebagai surga “Baiti Jannati” walaupun dalam arti rumah tangga, namun, yang jelas rumah adalah tempat yang paling indah dalam kehidupan manusia. Melakukan aktivitas di rumah yang menjadi anjuran saat wabah covid-19 berkembang, merupakan kebijakan yang tepat.

Pertama, tinggal di rumah (stay at home). Secara psiko-sosial, tinggal di rumah bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bisa menjadi sesuatu yang membosankan. Kapan di rumah menjadi sesuatu yang menyenangkan? Tentu bagi mereka yang yang memang mampu menciptakan suasana rumahnya sejuk, mengasyikkan, akrab, dan damai antarsesama penghuni rumah. Mereka menjadikan rumah bukan tempat singgah, melainkan tempat menikmati kebahagiaan hidup bersama keluarga.

Bagi mereka, pulang ke rumah adalah sesuatu kebahagiaan yang tak ternilai. Tipe mereka ini tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah. Mereka betah di rumah dan rumah adalah istana mereka.

Dan kapan pula rumah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan? Tipe rumah seperti ini biasanya adalah rumah yang jarang dijadikan tempat berkumpul. Mungkin karena penghuninya selalu sibuk di luar, sehingga rumah hanya sekedar tempat persinggahan.
Kebanyakan tipe penghuni rumah seperti ini adalah orang-orang modern yang kehidupannya selalu dikejar-kejar waktu dengan beban tugas yang kadang-kadang tak terpikul. Tidak jarang mereka mengeluh, kecapekan dan letih.

Bagi manusia seperti ini, tinggal di rumah adalah sesuatu yang sangat berat. Mereka dinilai tidak bisa membagi waktu dengan baik. Sehingga mereka kekurangan waktu untuk melaksanakan aktivitas hidupnya.

Sebenarnya mereka adalah orang-orang profesional, tetapi dengan dalih orang penting, mereka terseret dalam gelombang kehidupan yang melelahkan. Kehidupan seperti ini tentulah tidak kita kehendaki.

Kedua, bekerja dari rumah (work from home). Ini merupakan ikhtiar mengalihkan pekerjaan di luar rumah untuk dikerjakan di rumah. Dengan teknologi yang ada saat ini, pekerjaan di luar rumah bisa dikerjakan di rumah.

Ini hikmah dari kebijakan ini. Kita diminta menguasai teknologi untuk memudahkan aktifitas kehidupan. Teknologi bukanlah perkara baru. Dalam perpektif antropologis, teknologi itu sudah ada bersamaan dengan kehadiran manusia. Karena manusia dipandang sebagai makhluk yang lemah yang kehidupannya tergantung pada teknologi agar bisa bertahan hidup.

Bekerja dari rumah dengan menggunakan teknologi merupakan kemajuan budaya manusia yang mesti dikembangkan dan dipertahankan.

Ketiga, beribadah di rumah (worship at home). Menjadi pertanyaan besar, mengapa beribadah di rumah dan mengapa tidak di tempat ibadah (masjid, surau, dsb). Dalam kondisi seperti sekarang, kita tidak akan memperpanjang diskusi yang sifatnya perbedaan pendapat. Yang akan kita katakan adalah bahwa hukum Islam itu elastis dan fleksibel. Di dalam Islam perintah dan larangan di tentukan bertingkat-tingkat.
Misalnya, perintah ada yang bersifat anjuran (sunnah), dibolehkan (mubah), ditekankan untuk dilaksanakan (sunnah mu’akkadah), wajib dan fardhu (‘ain dan kifayah).

Sedangkan larangan ada yang bersifat dibenci bila dilakukan (makruh) dan ada yang sama sekali tidak boleh dilakukan (haram).

Demikian pula ada ajaran Islam yang bersifat ‘ushul (pokok/prinsip) dan ada yang bersifat furu’ (cabang). Kita tidak tujukkan contohnya disini.

Dari keseluruhan hukum Islam itu memiliki al- Maqashid as-Syari’ah, dengan tujuan mulia di sisi Allah SWT. Dalam kaitannya dengan hukum sosial kemasyarakat, pemahaman hukum itu sangat dipengaruhi oleh kondisi manusia atau umat yang melaksanakan syari’ah. Maka, ada hukum yang ditetapkan dengan konsep al-Mafsadat (kerusakan) dan al-Manfa’at (manfa’at).

Berdasarkan al-Maqasid as-Syari’ah hukum harus kembali kepada pemahaman yang lebih cenderung mendatangkan manfaat lebih besar. Pemahaman seperti ini oleh para ahli fiqih disebut dengan Figh al-Awlawiyyat yaitu memahami hukum-hukum Syari’at dengan mendahulukan hal-hal yang prioritas.

Untuk itu, jika kita kembali kepada anjuran untuk melaksanakan ibadah di rumah, terutama dalam kondisi ad-Darurah seperti sa’at ini, tentu tidak ada salahnya kita umat Islam taat mengikuti perintah dan anjuran pemerintah dan ulama kita. Karena perintah itu adalah berdasarkan berbagai analisis, pendapat, dan pengalaman para ahli dibidangnya dan diperkirakan akan lebih besar manfaatnya dari pada mudharratnya.
Itulah hukum prioritas yang semestinya ditaati dan dilaksanakan. Disamping itu, kita bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya tentu terus berdoa dan berharap agar bencana wabah covid-19 segera diangkat Allah SWT agar kita semua selamat dari ancaman yang menakutkan ini. Aamiin.***

News Feed