by

Pandemi Global dan Ujian Kesabaran

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa sebuah kesedihan, nestapa bencana, penyakit, hingga duri mengenai dirinya, kecuali Allah SWT, dengannya akan mengampuni kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari)

Musibah yang sedang terjadi saat ini sebetulnya teguran yang indah kalau disikapi dengan mata nurani, disentuh dengan pendekatan muhasabah, dikelola dengan kedewasaan, diterjemahkan dengan Rahman-Rahim Allah.

Adalah wajar diingatkan oleh Pencipta dan penguasa Penggenggam bumi, langit dan seisinya, supaya kita cepat-cepat kembali ke jalan Tuhan, menyingkirkan semua kealpaan, kemaksiatan, kemusyrikan dan kesombongan.

Pandemi Global hanyalah segelintir kecil fenomena alam dalam bentuk musibah yang menakutkan. Jika kita bandingkan dengan berbagai musibah dalam sejarah para Nabi dan Rasul. Umpamanya saja musibah banjir dimasa umat Nabi Nuh AS, musibah kutukan manusia menjadi kera di masa umat Nabi Musa AS, dan banyak musibah lainnya yang dapat kita baca dalam sejarah kehidupan manusia. Dari sudut pandang theologis (baca: iman) semua peristiwa itu adalah alamiyah, temporal dan berubah sesuai dengan kehendak Allah swt. Banjir Nabi Nuh as, adalah bersifat alamiyah dan tidak kekal, karena hanya Allah SWT yang kekal maka banjir seperti di zaman umat Nabi Nuh AS, akan berulang kembali. Begitulah semua bencana dan peristiwa alam akan terus berulang kembali sesuai kehendak dan kendali yang Maha Kuasa.

Semua musibah dan peristiwa alam itu, merupakan pelajaran bagi umat manusia. Dan kadang musibah itu hadir dalam bentuk teguran dan kadang dalam bentuk cobaan. Musibah dalam bentuk apapun adalah karena Allah SWT masih ingin mencucurkan kasih sayang-Nya kepada makhluk di bumi ini. Dialah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah:2). Tentu saja ini hanya bagi orang-orang yang bersabar.

Semua fase-fase kehidupan ini merupakan rangkaian skenario kehendak Allah SWT, agar hamba-hambanya bisa menikmati makna yang terdalam dalam setiap peristiwa di dalam hidup ini sehingga sampai kepada arti kehidupan sejati. Misteri hidup ini penuh dengan makna, begitupun musibah yang sedang melanda dunia hari ini. Bagi orang beriman apapun yang dikehendaki Allah SWT, bagi mereka tidak ada yang menakutkan apalagi sampai putus asa dalam menghadapinnya. Di hati mereka kehidupan dunia ini adalah amanat sekaligus rahmat untuk mencapai nikmat.
Dengan menyakini dunia adalah amanat Ilahi, maka prestasi apapun yang kita raih, entah harta ataupun kedudukan semua itu akan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT.

Menurut Al-Junayd Al-Bagdadi, bencana adalah pelita para arif, pengingat para murid, kebaikan bagi kaum Mukmin, dan kebinasaan bagi orang-orang yang lalai. Oleh sebab itu untuk menghadapi bencana seberat apapun Allah SWT tetap memberikan jalan keluar diantara banyak jalan diantaranya jalan sabar. Sabar merupakan energi batin yang melahirkan kekuatan. Oleh sebab itu, diantara banyak ragam kekuatan, baik yang fisik maupun mental, kita diminta mampu memahami dan meyakininya sesuai petunjuk Allah SWT.

Apabila sabar dipahami sebagian kekuataan dan daya batin dalam menghadapi kesulitan, maka pandemi global sebagai musibah tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Dalam hal ini tidak ada jalan lain disamping dengan berikhtiar sungguh-sungguh kita serahkan hasilnya kepada Yang Maha berkehendak.

Saat ini semua bangsa sedang melaksanakan ikhtiyar (langkah strategis) menghadapi musibah ini. Dengan sabar, apapun yang disarankan dan yang diperintahkan oleh pemimpin agama ataupun pemimpin negara wajib kita lakukan dengan sabar, karena Allah SWT sedang menguji kesabaran kita. Allah SWT sedang membuka pintu rahasianya dibalik musibah yang menimpa kita. Allah SWT sedang berdialog dengan batin kita yang paling dalam. Apakah kita mampu menjemput kebahagiaan di balik kesabaran itu atau sebaliknya kita gagal dalam ujian dan cobaan ini karena tidak bijak menyikapi dan bahkan tidak menghiraukan teguran Allah SWT kepada kita.

Sabar tidak identik dengan kelemahan, tetapi sabar merupakan “kemampuan menekan gejolak hati demi mencapai yang baik atau yang lebih baik”. Untuk itu, ditengah-tengah situasi saat ini tentu yang lebih baik adalah menahan diri dengan tetap sabar mengikuti arahan dan perintah para pemimpin kita demi keselaman bangsa dari wabah virus yang sangat berbahaya ini.

Sabar adalah salah satu diantara adab orang beriman. Maka orang yang sabar tergolong orang-orang yang beradab. Namun, yang kita khawatirkan adalah hilangnya adab dalam masyarakat, sehingga kesabaran sulit untuk diwujudkan.
Kalau adab tidak adalagi dalam arti sudah hilang sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. al-Attas dengan menyebut the loss of adab (hilangnya adab) maka efek buruk dari fenomena musibah ini sulit untuk diatasi bersama. Maka, sebagai bangsa Indonesia adab tidak asing dalam kehidupannya. Dan bahkan kata adab merupakan rumusan dasar Negara sebagaimana dalam Pancasila pada sila ke-dua, yaitu Kemanusiaan yang adil dan Beradab.

Ringkasnya, untuk menghadapi musibah ini, perlu nilai-nilai adab, yaitu kesabaran yang tulus dari setiap masyarakat. Sabar yang kita maksudkan ini bukan ajakan untuk mengabaikan kenikmatan hidup, atau merasa puas dengan yang sedikit. Tetapi ini adalah ajakan untuk mendidik jiwa, apa dan kapan hendaknya ia berkeinginan dan merasa butuh, serta kapan pula harus mencampakkan keinginan dan kebutuhan.

Ini adalah upaya memadukan antara kebutuhan dan lawannya, dan berupaya sekuat tenaga guna meraih kemenangan yaitu kebahagiaan dibalik musibah sebagai anugerah yang Maha Kuasa.

Dalam konteks inilah Alquran mengingatkan bahwa, “Tidak satu peristitwa pun yang dialami seseorang, kecuali telah ada dalam pengetahuan Ilahi, sebelum peristiwa itu terjadi. Yang demikian itu amat mudah di sisi Allah, supaya kamu tidak bersedih, atas luputnya satu harapan dari jangkauanmu, dan tidak pula terlalu bergembira atas apa yang dianugerahkan kepadamu. Allah tidak senang kepada setiap orang yang angkuh lagi membanggakan diri.” (Q.S. 57:23).

Inilah lentera yang menjadikan bangsa ini mampu bersikap benar dan wajar, baik ketika susah maupun ketika senang demi untuk mengejar harapan. Dan ini pula yang mampu menghindarkan diri dari sikap arogansi yaitu sikap yang tidak sungguh-sungguh seakan-akan musibah adalah lelucon yang mengundang tawa seperti sindrom yang diderita oleh yang kehilangan harapan.

Untuk itu mari kita tanamkan bahwa kesabaran adalah jalan kemenangan. Meraihnya tidak mudah, ia membutuhkan kekuatan dan kesungguhan dari seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Hanya dengan kesabaran musibah dan bencana global ini dapat kita atasi disamping upaya –upaya konkrit dari pemerintah dan unsur-unsur masyarakat lainnya.

Semoga bangsa Indonesia khususnya, dunia umumnya sabar dalam menghadapi musibah dan segera terhindar dari pandemi global yang menakutkan ini. Aamiin ya Rabbal ’alamin.***

News Feed