by

Kerja dan Cinta

  • Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Dari pembicaraan bagian personalia dengan sejumlah karyawan, diperoleh kesimpulan bahwa ada sejumlah staf tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Hal itu terbukti dari kinerja mereka yang tidak sesuai dengan harapan managemen.

Karena kondisi itu sudah menyangkut roda perjalanan perusahaan, akhirnya bagian personalia minta pertimbangan pimpinannya.

“Karyawan A mengatakan jika dia sudah tidak suka di posisi sekarang, Pak,” kata sang personalia.

“Baik, nanti kita carikan dia posisi yang cocok,” kata sang pimpinan.

“Sementara karyawan C mengaku sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk berada di posisinya saat ini,” tambah personalia itu lagi.

“OK, carikan pengganti dia dalam waktu dekat,” kata pimpinan kemudian.

“Lalu karyawan X yang selama ini berada di posisi asisten sepertinya mulai tidak konsentrasi. Setelah dilakukan dialog dengan beliau, diperoleh keterangan, ternyata yang bersangkutan sudah tidak mau dengan jabatan itu,” jelas sang personalia.

“Lho, kenapa begitu? Bukankah posisi itu yang dia inginkan dari dulu? Selama ini kinerjanya cukup baik? Kenapa bisa seperti itu?” tanya sang pimpinan.

“Sudah saya tanyakan hal itu, pak. Namun, Beliau tidak mau memberikan keterangan lebih rinci. Beliau hanya mengatakan jika dia sudah tidak betah ditempatkan di posisi itu,” ungkap sang personalia.

“Baik, yang lain bagaimana?” tanya pimpinan itu lagi.

“Sejumlah karyawan lainnya juga terindikasi mengalami kemunduran motivasi. Dari komunikasi dengan mereka, tim personalia memperoleh satu kesimpulan, rata-rata mereka bekerja tidak dengan rasa cinta,” terang personalia itu.

“Bekerja tidak dengan rasa cinta? Menarik juga dengan apa yang Anda katakan,” timpal sang pimpinan.

“Begitulah kesimpulan sementara kami, Pak,” balasnya.

“Apa langkah yang telah dilakukan?” tanya sang pimpinan lagi.

“Mereka diberikan motivasi, penyegaran, dan dorongan-dorongan untuk peningkatan kinerja,” terang personalia.

“Namun hasilnya masih sama seperti yang disampaikan tadi,” tambahnya lagi.

“Apa rekomendasinya?” tanya pimpinan.

“Sebelumnya direkomendasikan, saya minta pertimbangan bapak dulu,” jawab personalia.

“Baik. Begini, kerja itu adalah salah satu wujud nyata cinta. Jika kita tak dapat bekerja dengan rasa cinta, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu duduklah di gerbang rumah ibadah untuk menerima derma dari mereka yang bekerja dengan suka cita**).

**) Kahlil Gibran

News Feed