by

‘Menutup Pintu Wilayah’ dan ‘Tinggal di Rumah’ dalam Perspektif Ketaatan Beragama

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. SAg, MH, Kakan Kemenag Lingga

Ketakutan manusia sejagat tak terbendungi lagi. Sampai hari ini kita saksikan berbagai media medsos secara serentak memberitakan situasi dan kondisi dunia yang menegangkan dan mengusik ketenangan masyarakat di berbagai Negara mulai dari desa-desa sampai di kota-kota besar seperti Jakarta, Malaysia dan Singapura.

Kondisi ini terjadi tidak lain adalah akibat masih meluasnya wabah Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Bahkan kini puluhan orang meninggal, ada yang sudah sembuh, dan ratusan yang terinfeksi.

Seluruh Negara telah melakukan tindakan dan kebijakan untuk mengantisipasi penanganan melalui langkah-langkah strategis dalam penanggulangan wabah Virus Corona yang menakutkan itu.

Dunia sedang menagis, luapan kekesalan dan ketidak puasan masyarakat kepada pemerintah terus bermunculan. Walaupun pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan nyata dan strategis menanganinya dengan baik dan bahkan telah menyiapkan anggaran yang tidak kecil untuk biaya penangannya. Begitulah masyarakat, sebagai manusia mereka memiliki berbagai keinginan yang berbeda satu sama lain.

Disi lain mereka tidak sabar dalam memberikan kepercayaan kepada pemerintah dalam hal penanganannya. Disinilah pentingnya peran pemerintah dimana mereka sangat dituntut propesional dan sabar. Ketidak sabaran masyarakat dapat terjadi karena dalam hukum Social Crowd dinyatakan bahwa jika sekelompok manusia yang banyak mengalami kepanikan maka mereka akan tampil dengan gejolak emosi yang tak terkendali seakan-akan kebenaran itu ada pada mereka. Kondisi inilah sebenarnya yang akan dikendalikan dalam strategi Lockdown yang dilaksanakan oleh beberapa Negara yang teriveksi Virus.

Lockdown adalah mengendalikan mayarakat secara masal dengan menutup pintu-pintu akses antarbangsa, daerah dan wilayah. Strategi ini merupakan cara yang lebih mudah untuk mengendalikan arus masuk dan keluar masyarakat dari tempat yang aman ke tempat yang tidak aman atau sebaliknya dari tempat yang tidak aman ke tempan yang aman.

Pengamanan seperti ini sejak 15 abad lalu sudah diajarkan Rasulullah SAW. Ketika itu jika terjadi atau turuunnya wabah Ta’un Beliau memberikan petunjuk kepada para sohabat melalui sabdanya , “: “Apabila kalian mendengar Wabah Ta’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” ( HR. Bukhari Muslim).

Pada prinsipnya wabah (covid-19) tidak dapat dikendalikan walaupun dapat dideteksi gejala yang ditimbulkannya. Akan tetapi yang dapat dikendalikan adalah manusia yang menjadi sasaran virus. Mengendalikan masyarakat merupakan tugas pemerintah.

Karena virus ini dapat menular kepada siapa saja dan kapan saja selama bakteri virus belum dapat di musnahkan atau dihilangkan. Begitu cepatnya wabah ini berkembang maka penangannnya tidak cukup hanya dengan lockdown semata tetapi juga dengan cara Stay at Home. Untuk itulah pemerintah telah membuat kebijakan dengan menyampaikan edaran dan himbauan kepada seluruh masyarakat agar ikut secara bersama mengatasi penularan virus ini dengan tetap tinggal di rumah (stay at Home). Tindakan ini sangat penting untuk menjaga diri dari penularan virus yang mematikan itu. Begitu pentingnya tindakan ini sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan dengan Fatwanya bahwa tinggal dan menetap di rumah untuk menyelamatkan diri dari penyakit menular adalah sangat dianjurkan. Dan bahkan untuk kewajiban Ibadah jum’atpun dapat gugur dan digantikan dengan sholat Zuhur di tempat kediaman atau di rumah.

Hal ini sebagaimana dalam Fatwa No. 14 Tahun 2020 angka 3 huruf a : “ Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Fatwa ini berlaku dalam wilayah dimana pemerintah berserta seluruh komponen masyarakat menetapkan wilayah tersebut dengan status darurat yang tak terkendali, Apabila hal itu terjadi hukum darurat akan berlaku dan menjadi pilihan yang harus dilakukan dan dalam khazanah Islam disebut dengan al-Dharuriyat al-Khams.

Apabila status darurat telah ditetapkan maka tinggal di rumah sebagai upaya penyelamatan diri dari mara bahaya adalah wajib. Karena syari’at mengajarkan bahwa menjaga diri dari gangguan penyakit dan malapetaka atau bahaya lainnya harus menjadi prioritas utama . Penjagaan diri seperti ini sesuai dengan perintah Allah SWT kepada umat manusia agar memelihara diri dengan tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan sebagaimana petunjuk Allah swt dalam QS 2: 195 yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 2:195).

Mengamalkan perintah ini merupakan bukti keta’atan dalam bergama . Dalam khazanah keIslaman terdapat tiga asfek keta’atan yang tak boleh diingkari dalam beragama yaitu : Ta’at kepada Allah swt, Ta’at kepada Rasul saw dan Ta’at kepada Ulil amri minkum. Ketiga asfek keta’atan tersebut harus terwujud dalam keseluruhan asfek kehidupan manusia yang kemudian diatur dalam syari’at agama sebagai hukum dan perintah yang diwajibkan.

Sebagai negara yang mayoritas Islam, indonesia telah melakukan langkah bersama dengan unsur-unsur pimpinan Majelis Agama bersama pemerintah , mulai pemerintah pusat sampai pemerintah daerah, Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) dan seluruh pimpinan agama besar yang ada di indonesia . Hal itu dilakukan tidak lain adalah untuk mengambil kesepakatan bersama terhadap pencegahan wabah Covid-19 baik melalui petunjuk medis ataupun petunjuk agama. Seluruh komponen dan unsur pemegang kebijakan telah mengeluarkan aturan resmi sesuai dengan kewewenangan masing-masing. Melalui pengarahan Presiden RI yang kemudian ditindaklanjuti dengan mengeluarkan Edaran Mentri, Edara Gubernur, Edaran Bupati dan Wali Kota serta Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang kesemuanya memberikan bimbingnan dan petunjuk dan langkah antisipasi menghadapi wabah Civid-19. Kemudian secara bertahap pemerintah mengikuti perkembangan situasi dengan terus melakukan koordinasi antara pusat dan daerah. Sampai ertikel ini diturunkan dengan melihat kondisi semakin membahayakan pada akhirnya pemerintah melalui Menteri Luar negeri mengumumkan Indonesia dalam kondisi darurat, sehingga pemerintah secara bertahap memutuskan untuk Lockdown terhadap beberapa negara.

Dengan demikian Lockdown dan Stay at Home dalam kasus pencegahan wabah Covid-19 dalam hukum syariat bagi umat Islam merupakan perintah yang wajib dita’ati. Dan oleh sebab itu apakah Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang sudah ta’at dalam beragama atau tidak terlihat dari sejauh mana bangsa ini melaksanakan perintah dan himbauan pemerintah dalam kondisi seperti sa’at ini. Mudah – mudahan Allah swt jauhkan bangsa Indonesia dari wabah virus yang membahayakan ini agar ketakutan dan kecemasan negeri ini kembali pulih sebagaimana biasanya, aamiin ya Rabbalalamin.***

News Feed