by

Covid-19 Mengetuk Pintu Kesadaran Semesta

  • Oleh: H.Muhammad Nasir, S.Ag, MH, Kakan Kemenag Lingga

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah SWT dan mematuhi kebenaran yang diwahyukan Allah (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 16).

Merebaknya wabah virus corona alias covid-19 di hampir seluruh belahan dunia saat ini, telah mengubah wajah dunia dengan wajah ketakutan. Tidak kurang dari seratus empat puluh negara yang telah terserang oleh wabah virus mematikan ini. Sehingga sebagian Negara terpaksa mengambil keputusan untuk menetapkan status negaranya sebagai Lockdown Corona walaupun Indonesia belum menetapkan keputusan sampai ke status tersebut, namun pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia tetap waspada dengan berbagai kebijakan pemerintah untuk siaga melindungi segenab warga negara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Untuk itu Presiden RI telah meminta masyarakat tak perlu takut berlebihan terhadap virus corona. Musuh terbesar sa’at ini justru adalah rasa cemas, panik, dan ketakutan yang berlebihan.

“Karena virus corona dari data yang saya terima 94% lebih penderitanya dapat disembuhkan,” ujar Presiden dalam video singkat yang diunggah pada akun resminya di Instagram, Kamis (5/3/2020).

Dibelahan dunia manapun manusia tetap selalu ingin sehat dan senantiasa memiliki keinginan untuk tenang dan nyaman dalam aktivitas hidupnya. Dan bahkan yang paling azazi, manusia sama-sama memiliki perasaan dan daya bathin yang sangat dalam akan kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Sa’at ini perarasaan nyaman itu seakan-akan berubah menjadi ketakutan dan kecemasan. Akibatnya ekspresi yang timbul dalam kehidupan masyarakat semakin menunnjukan sikap ketakutan dan kecemasan yang sangat kuat sehingga kepasrahan diri kepada Tuhan semakin dirasakan. Karena manusia adalah makhluk spiritual dan rasional sekaligus ia memiliki kesadaran azali yang fitri yang berkeyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai mahkluk yang berke-Tuhanan ia selalu meyakini bahwa segala sesuatu selalu berubah sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Virus corona adalah makhluk ciptaan Allah swt yang diciptakan sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan tujuan yang telah ditentukan-Nya. Manusia tidak sanggup ikut campur dalam menentukannya. Sebenarnya banyak makhluk Allah yang lain yang takdapat kita lihat dengan kasat mata yang tidak terhitung jumlahnya yang memiliki tujuan-tujuan yang tak dapat kita ketahui. Diantara banyak makhluk itu ada yang berbahaya dan ada yang tidak berbahaya bagi kehidupan manusia.

Covid-19 adalah termasuk makhluk Allah yang berbahaya bagi manusia dan bahkan dapat memusnahkan manusia secara perlahan-lahan.

Kekhawatiran masyarakat akan mudharrat yang lebih besar akibat wabah Covid-19 yang terus berkembang sa’at ini, tidak ada jalan lain dimana sebagai pemimpin negara wajib tampil untuk merumuskan kebijakan yang tepat dan bijak dengan tidak menimbulkan mudharrat yang lain. Untuk kasus wabah Covid-19 sebagian Negara telah melaksanakan langkah-langkah strategis upaya penangannya.

Karena Covid-19 adalah tergolong wabah virus yang cepat menular pencegahan yang tepat adalah sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah saw, melalui hadits beliau yang artinya : “Apabila kalian mendengar Wabah Ta’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (HR. Bukhari Muslim ).

Petunjuk Rasulullah SAW tersebut merupakan cara khusus yang sangat efektif mencegah sekaligus memerangi wabah covid-19 dan wabah penyakit menular lainnya. Cara penangan seperti inilah yang kita kenal sekarang dengan istilah Lock Down.

Dibalik rahasia penciptaan makhluk yang sedemikian itu, Allah swt berkehendak melindungi manusia dengan hukum-hukunya. Untuk itulah Allah turunkan hukum halal dan haram, wajib dan sunnah adalah untuk melindungi manusia dari bencana dan bahaya yang menimpanya. Setiap sesuatu yang diperintahkan, memiliki tujuan bagi kemaslahatan manusia. Manusia diminta menjauhi sesuatu yang haram, ini artinya dibalik hukum itu ada mudharrat yang akan menimpa siapa saja yang melanggarnya. Begitu sebalik nya dibalik perintah yang halal ada faedah yang akan diterima bagi siapa yang menta’atinya.

Sebab itu Allah SWT melarang manusia, memakan makanan yang haram , memakai dan menggunakan sesuatu yang haram untuk kepentingan hidupnya agar manusia itu dapat hidup sehat, nyaman dan aman dari bahaya yang akan menimpanya. Menurut ahli kesehatan lingkungan hidup, lingkungan manusia penuh dengan parasit (berbagai virus, sporadis, leptoseri, protozoa dan cacing pita dll), yang membahayakan dan mengancam kesehatan manusia termasuk diantaranya virus yang mewabah sa’at ini.
Beberapa hal yang dapat kita cermati terutama keterangan dari ahli kesehatan dunia terkait dengan virus ini adalah: Bahwa diantara parasit yang paling berbahaya adalah, pertama; hewan ciliate yang diberi nama antidium-colay yang dapat menyebabkan disentri plantidy yang ganasnya sama dengan disentri amuba. Sumber satu-satunya penyakit ini adalah babi. Penyakit ini hanya akan menyerang orang yang memelihara, dan menyembelih serta menjual beli daging babi. Kedua; Gelendong hati dan husus, yang berjangkit di Negara-negara Timur Jauh khususnya gelendong husus besar dan kecil yang banyak menyebar di Negara Cina, Jepang dan korea (Tafsir Quran Tematik : Dr.H.Mukhlis Muhammad Hanafi MA dkk: 2012).

Dengan demikian, jauh sebelum dunia kesehatan berkembang pesat seperti sa’at ini Allah swt telah mengingatkan orang yang beriman dalam QS. 2 : 172-173 , yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. . Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( QS. 2 : 172-173 ).

Manusia itu selalu saja lupa dengan dirinya dan sibuk dengan dunianya, dengan karirnya dan dengan kepentingannya, kadang tidak mengenal batas waktu untuk mengejar sesuatu yang menjadi cita-citanya. Siang dan malam tidak lagi menjadi halangan bagi perjalanan aktivitas keseharian nya. Manusia memang telah menghabiskan kehidupannya dengan mengejar waktu tanpa batas. Untuk keseluruhan aktivitas itu mereka mengenal hanya dengan satu kata kunci yaitu sibuk. Itulah kata yang menjadi sebutan bagi manusia-manusia super dalam mengejar cita-cita hidupnya. Hal ini termasu salah satu karakter manusia modern yang milenialisme, digitalisme dan informasisme. Akibat itu semua sedikit sekali yang sungguh-sungguh menyandarkan diri kepada ajaran Tuhan yang Maha Bijaksana.

Sebagai pandemi global , wabah Covid-19 menghantam fungsi-fungsi kehidupan manusia yaitu fungsi kesehatan yang selama ini dipertahankan . Kesehatan merupakan fungsi kehidupan yang vital dan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Menurut WHO kesehatan adalah sebuah pernyataan tentang keadaan fisik, mental dan social yang baik ( sejahtera ) secara paripurna; tidak hanya semata-mata berkenaan dengan tidak adanya penyakit atau kelemahan tetapi merupakan keadaan atau kualitas organisme manusia yang mampu menjalankan fungsinya dengan baik karena faktor genetika atau lingkungan (Soekidjo Noto Admoedjo: 2007).

Begitu vitalnya fungsi kesehatan , sehingga tidak ada jalan lain bahwa seluruh manusia di alam semesta ini sangat membutuhkannya. Manusia tidak mampu sepenuhnya menentukan apalagi memastikan kesehatannya tetap terjamin sampai akhir hayat. Karena dalam perjalanan waktu mansuia selalu berhadapan dengan factor lain ( Bencana Non Alam ) yang dapat menggorogoti dan memusnahkan kesehatannya, maka manusia selalu berusaha untuk memenuhi hajat kesehatannya secara maksimal, tetapi ternyata kebanyakan manusia tidak mampu melawan bencana itu.

Disinilah sesungguhnya titik kelemahan manusia yang sejatinya menggiring manusia untuk mengetuk pintu kesadarannya akan kebesaran dan ke-Maha Kuasaan Allah swt. Sebagaimana yang kita alami saat ini, banyak manusia yang tersentak lalu bangkit menghayatinya. Mungkin selama ini manusia-manusia modern yang hidup dalam dunia global ini selalu melupakan hal itu. Melupakan jati dirinya , jalan hidupnya dan bahkan tujuan hidupnya sehingga tidak menyadari akan kelemahan dirinya di hadapan Kekuasaan Tuhannya.

Kesadaran manusia akan kelemahannya , akan mengantarkan manusia kepada kesimpulan bahwa tiada satu pun yang tercipta di alam ini tanpa se-izin Yang Maha Kuasa. Apabila manusia sampai kepada titik kesadarannya disanalah ia akan memperoleh kebahagiaan yang menjadi dambaan setiap manusia. Dalam hal ini manusia sadar bahwa salah satu persyaratan hidup bermakna mesti mempunyai harapan dan usaha untuk selalu memperbaikinya. Walaupun banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Manusia harus mampu mengambil jarak dan mengambil sikap terhadap tantangan , hambatan dan situasi tertentu untuk mewujudkan tujuan hidupnya. Sehingga pada akhirnya manusia berkemampuan untuk selalu mengisi dan mengembangkan makna serta tujuan hidupnya yang sejati. Kemampuan manusia untuk mengambangkan makna hidup sangat tergantung kepada energi spiritual sebagai potensi suci yang dimilikinya. Memperkuat energi spiritual memerlukan semangat dan kemauan yang tinggi. Untuk itulah dalam setiap langkah dan fase kehidupan ini kita diminta oleh Sang Pencipta Yaitu Allah SWT, selalu memperbaiki tiga bentuk keadaan yang mana Allah SWT senantiasa memperbaiki keadaan kita.

Tiga keadaan yang mesti diperbaiki itu adalah, pertama, jika kita senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah swt, Allah swt akan memperbaiki hubungan kita dengan makhluk-Nya. Kedua, Jika kita senantiasa memperbaiki akhirat kita Allah swt akan memperbaiki dunia kita dan Ketiga, Jika kita senantiasa memperbaiki Ruhaniyah kita niscaya Allah swt akan memperbaiki jasmaniyah kita, termasuk diantaranya kesehatan yang kita jaga selama ini.

Oleh sebab itu dunia semesta akan menyadari bahwa, alam yang amat luas beserta seluruh isinya akan bertekuk lutut , tunduk dan sujud dihadapan penciptanya Yang Maha Kuasa. Inilah kesadaran universal yang diharapkan oleh seluruh ajaran para Nabi dan Rasul, Cuma saja manusia itu sendiri tidak menyadari dan bahkan mengingkari walaupun benar di hati. Allahu A’lam Bissawab.***

News Feed