by

“Siap-siap Saja”

  • Oleh: Fery Heriyanto*)

“Kata sebagian orang, saat ini kita tengah berada pada zaman edan. Banyak dari kita bertingkah jauh dari aturan-aturan yang ada. Betul tak itu, Vin?” tanya Brur pada Vin, sahabatnya, saat mereka tengah duduk santai selepas Maghrib.

“Betul, Brur,” balas Vin singkat.

“Apa buktinya?”

“Buktinya banyak, Brur…Tengoklah, ada wanita mau tampil minim demi ketenaran. Ada oknum terlibat aksi kriminal. Korupsi merajalela. Ada oknum terlibat narkoba… Pokoknya banyaklah yang lain,” terang Vin.

“Kalau sudah begitu, apa yang terjadi sekarang ini?” tanya Brur lagi.

“Menurut aku, sebagian kita telah kehilangan rasa malu”.

“Iya, Vin, ya,” timpal Brur.

“Ya iyalah Brur. Saat mengaji dulu di surau, kita diajarkan jika rasa malu merupakan bagian dari iman. Dan rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan,” papar Vin lagi.

“Seandainya saja mereka memiliki rasa malu, kejahatan tidak akan mereka lakukan,” balas Brur.

“Jelas dong…Rasa malu bisa jadi pagar pengaman dari nafsu liar yang sulit terkendali,” imbuh Vin.

“Yang pasti, jika seseorang tidak lagi memiliki rasa malu, hatinya menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak nafsunya. Tak peduli apakah yang akan menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Bila seseorang telah sampai ke tingkat prilaku seperti ini, itu berarti jiwanya sudah terkikis,” terang Vin.

“Iya memang”.

“Padahal mereka juga tahu jika malu merupakan bagian dari budaya kita. Dan hal ini pun sudah diketahuinya sejak kecil dulu. Namun, akibat nafsu liar itulah rasa malu hilang dari dalam dirinya. Dan ingat, akibat besar akan muncul jika rasa malu sudah tidak ada lagi,” tutur Vin.

“Apa itu?”.

“Ya, ketika malu tidak lagi dikenakan sebagai busana kehidupan, maka siap-siaplah tersingkap semua aib-aibnya,” ujar Vin lagi.**

*) Wartawan Haluan Kepri

News Feed