by

Menakar Peluang Soerya, Isdianto, Ismeth dan Ansar di Pilgub Kepri

Dinamika politik di Provinsi Kepri kian meningkat menjelang tiga bulan masa pendaftaran pasangan calon (paslon). Mereka yang punya kans maju di Pilgub Kepri makin gencar, termasuk berburu rekomendasi partai politik (parpol).

Rekomendasi ini makin bernilai, karena sudah tertutupnya ruang bagi calon perseorangan dan tidak adanya satupun parpol yang bisa mengusung paslon sendiri. Berdasarkan hasil Pemilu 2019, tidak ada parpol yang memenuhi 20 persen kursi (9 dari 45 kursi) DPRD Provinsi Kepri atau 25 persen perolehan suara sebagai syarat bisa mengusung paslon. Dari 10 parpol yang memperoleh kursi DPRD Kepri, PDIP dan Golkar sama-sama meraih 8 kursi, PKS dan Nasdem sama-sama meraih 6 kursi, Demokrat dan Gerindra sama-sama meraih 4 kursi, Hanura dan PKB sama-sama meraih 3 kursi, PAN 2 kursi, dan PPP 1 kursi. Dengan tidak adanya parpol yang bisa mengusung paslon sendiri, maka pilihannya harus koalisi.

Kemungkinan head to head, sebagaimana Pilgub 2015 lalu, sepertinya sulit terulang lagi. Apalagi sejumlah parpol berambisi mengusung calon sendiri.

Sebelum Partai Golkar melaksanakan Musda di Ranai, Natuna, 2 Maret 2020 lalu, diprediksi ada tiga bakal paslon potensial yang akan  maju di Pilgub Kepri. Mereka adalah Ismeth-Irwan, Soerya-Syahrul dan Isdianto-Marlin.

Dibanding kandidat lain, Ismeth Abdullah lebih dulu memastikan pasangan yang bakal mendampinginya, Irwan Nasir. Duet mantan Gubernur Kepri dengan Bupati Meranti yang juga Ketua DPW PAN Riau ini awalnya mau maju lewat jalur perseorangan. Namun hingga batas akhir penyerahan dukungan bagi perseorangan, tak ada satupun paslon yang memasukkan jumlah dukungan ke KPU Provinsi Kepri.

Kini, Ismeth-Irwan mengincar rekomendasi parpol sebagai harapan akhir bisa maju di Pilgub Kepri 2020. Pasangan ini kemungkinan diusung PAN. Namun dengan modal hanya 2 kursi, PAN harus bekerja keras membangun koalisi dengan partai lain untuk mendapatkan tambahan dukungan minimal 7 kursi lagi.

Sebelumnya diprediksi pasangan Ismeth-Irwan berpotensi diusung koalisi Partai Golkar dan Hanura. Mengingat Ansar masih gamang untuk diusung Golkar ke Kepri 1, meski pengurus tingkat kabupaten/kota menginginkannya. Ansar masih sayang dengan kursi yang baru diraihnya di Senayan.

Dengan modal 11 kursi, sudah cukup bagi Golkar dan Hanura untuk mengusung paslon, apalagi jika ditambah dengan PAN.

Namun, kabar terbaru pasca Akhmad Ma’ruf Maulana terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Kepri, Ansar didorong maju di Pilgub Kepri. Ia digadang berpasangan dengan Marlin Rudi.

Kolaborasi ini membuat peta politik makin dinamis. Golkar berkoalisi dengan Nasdem. Namun, muncul pertanyaan, apakah Golkar yang kini dinakhodai Ahmad Ma’ruf Maulana bisa “berkawan” lagi dengan Muhammad Rudi yang notabene adalah Ketua Nasdem Kepri?

Sementara itu, Isdianto yang kini menjabat Plt Gubernur Kepri dan Marlin-istri Walikota Batam yang juga Ketua DPW Nasdem Kepri HM Rudi, berpotensi besar diusung Nasdem. Kelihatannya pasangan ini lebih sangat mungkin berkoalisi.

Nasdem yang punya 8 kursi hanya perlu tambahan satu kursi. Kalau saja jadi berkoalisi dengan PKS, maka ada kelebihan 5 kursi. Selesai.

Sinyal Isdianto berpasangan dengan Marlin makin benderang saat Ketua Umum Nasdem Surya Paloh hadir di Batam. Itulah momen ‘drama akhir’ hengkangnya Isdianto dari lingkaran Soerya dan PDIP.

Soerya yang sempat kecewa, pasca-ditinggal Isdianto, kini rajin bergerilya mencari pasangan pengganti. Sempat mencuat nama Bupati Bintan sekaligus Ketua Demokrat Kepri Apri Sujadi, Anggota DPR yang baru lengser dari kursi Ketua Golkar Kepri Ansar Ahmad, Walikota Tanjungpinang sekaligus Ketua Gerindra Kepri Syahrul, dan Rini yang merupakan anak mantan Gubernur Kepri (almarhum) Sani. Kini yang santer adalah Soerya-Syahrul.

Untuk partai pengusung, mantan Wakil Gubernur Kepri yang juga Ketua PDIP Kepri ini sepertinya tak terlalu pusing. Soerya dengan PDIP-nya sudah punya modal 8 kursi dan PKB dengan 3 kursi, cukup untuk mengusung paslon. PKB sendiri sejak awal telah mendeklarasikan berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung Soerya. Apalagi jika koalisi ini ditambah Gerindra dengan 4 kursi atau Demokrat dengan 4 kursi atau Golkar dengan 8 kursi, tentunya akan semakin kuat. (*)

News Feed