by

Isra’ dan Mi’raj Membuka Tabir Makna Kehidupan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir.S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW) pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS Al Isra’: 1)

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa penting dalam khazanah keislaman terutama perjalanan hidup beragama bagi umat Muhammad SAW. Karena Isra’ Mi’raj adalah kejadian luar biasa yang mempertemukan antara unsur-unsur ketuhanan dengan unsur-unsur kemanusiaan, antara unsur-unsur faktualitas dan unsur spritualitas dan bahkan memadukan antara unsur-unsur alam nyata dengan alam gaib, maka itulah sebabnya peristiwa ini tak terjangkau oleh kemampuan aqal manusia.

Dalam kehidupan alam nyata di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan sifat dan potensi kemanusiaan yang tersimpan dalam bingkai ego yang paling mendasar. Disisi lain kehidupan nyata manusia membutuhkan bimbingan dan petunjuk untuk meluruskan tindakan egois yang dilakukan. Sehingga daya bathin manusia dapat melemah dan konplik antara kepentingan ego yang mendominasinya dengan kepentingan iman atau nurani yang sangat esensial.

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan Spiritual yang mengandung dua makna yang dilambangkan dalam dua fase alam kehidupan manusia. Yaitu fase alam kehidupan nyata dan fase alam kahidupan di alam gaib. Pada fase alam pertama digambarkan dengan perintah Allah SWT kepada Muhammad untuk menata kehidupan jasmaniyah dengan mebersihkan hati melalui Ibadah dan amalan-amalan hati lainnya seperti bersyukur atas karunia Allah swt dalam hidup ini. Sebagai umat Muhammad tugas kita pada fase ini adalah untuk mengabdi menyerahkan diri kepada Allah SWT. Manusia harus selalu mendekati Allah SWT dengan tulus melalui pengabdian. Tanpa hal itu manusia akan kehilangan orientasi kehidupannya. Manusia mesti mengisi waktu dengan mendekat dengan Allah SWT melalui ibadah, dengan selalu merasakan kehadiran Allah dalam hidup. Kita diminta menyadari bahwa Dialah memberi kita segala kemuliaan, meleyapkan segala kehinaan, memberi rizki untuk kehidupan kita, menghidupkan hati untuk zikir kepadaNya dan menjadikan kita sebagai hambaNya. Maka , “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan HambaNya.” ( Muhammad SAW).

Ketika manusia menjadi Hamba Allah SWT, bukan hamba dunia, hamba harta, tahta dan wanita . Ketika itu seseorang sudah sampai ketingkat hamba yang sebenarnya maka Allah swt akan menunjuki adab-adab pengabdian, menjelaskan kepada hambanya jalan ibadah, kemudia Dia melihat sang Hamba dan mendatanginya dengan kelembutannya. Tidak ada satupun gerak dan diam kita kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada tatapan mata dan lintasan fikiran kecuali terwujud dengan kuasa-Nya. Dia berfirman (QS Yunus:61) yang artinya: “ Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). “(QS Yunus:61).

Oleh karena itu dalam fase perjalanan kehidupan ini kita dituntut tidak terlalu sibuk dengan makhluk sehingga melupakan khaliq. Inilah muraqabah, yang membawa sang hamba kepada puncak makna kehidupan ini. Sibuk dengan Allah merupakan inti muraqabah, karena kita menyadari bahwa Allah mengetahui dan mengawasi seluruh proses perjalanan hidup ini. Sehubungan dengan hal ini alangkah indahnya ungkapan seorang arif mengatakan; “ Tuhan, sungguh buta mata yang tidak melihat-Mu, sungguh merugi hamba yang tidak menjadikan cinta-Mu sebagai pengawasan-Mu”.

Perjalan Isra’ meliputi segala kebaikan, menghancurkan segala kemungkaran. Dan disa’at itu sang hamba hanya melihat kebaikan sebagai anugerah Rahmat yang di syukuri. Perjalanan hidup akan diwarnai oleh cahaya hati yang senantiasa melihat kebenaran. Menapaki jalan lurus menuju keharibaan Sang Khaliq. Langkah hidup sang Hamba terasa pasti tanpa ada keraguan dan bisikan yang menyesatkan. Ketika itulah kita sedang berada dekat dengan-Nya. Ya kita dekat dengan Allah dan Allah pun dekat dengan kita. Sebab itu “ Wahai Muhammad Jika Hamba-Ku bertanya tentang Aku katakan bahwa Aku Dekat dengan mereka” (QS;2: 186)

Fase kedua adalah perjalan di alam gaib yang menjadi symbol perjalanan Mi’raj, yaitu fase dimana Allah SWT sudah berada di sekelilingnya, di dekat hamba-Nya. Yaitu menaiki tangga singgah sana kegaiban dan pada fase ini aqal tidak dapat menjangkau apalagi memetakan secara logis -rasional. Aqal manusia buntu untuk mendekatinya. Ilmu pengetahuan tidak sanggup mengungkapnya. Namun Allah swt mencintai hambanya dengan memberikan petunjuk melalui keyakinan yang tulus sehingga singgah sana kegaiban Tuhan dapat difahami dengan bahasa Iman yang kuat. Di sini iman menjadi tolok ukur keberadaan manusia. Dengan keimanan yang sempurna sang Hamba akan tenggelam dalam penyaksian kehadiran-Nya. Untuk menuju ke arah itu salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah melalui zikir. Yaitu zikir yang membuka pintu Rahmat dan mengundang cinta Ilahi. Para Ulama mengajarkan bahwa zikir cinta yang membuka pintu rahmat Allah SWT, berada di hati atau qalbu manusia. Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya: “Ketahuilah di dalam jasad manusia ada sesuatu mudghah (segumpal daging) apabila mudghah itu baik maka baiklah semua jasad manusia itu , dan apabila mudghah itu buruk maka buruk pulalah manusia itu , mudghah itu adalah Hati ( Hr. Muslim )”.

Dalam pertanggung jawaban amalan manusia di hadapan Allah , Allah SWT bukan menghukum hanya amal lahiriyah dalam bentuk perbuatan yang jelek tetapi juga niat yang tersembunyi dalam hati manusia. Sebagaimana Firman Allah SWT( Qs . 2 : 225) : Yang artinya : “Allah tiada menghukum kamu tentang sumpah dengan tiada sengaja , tetapi Allah menyiksamu terhadap apa yang dilakukan oleh hatimu. Allah Maha pengampun lagi penyantun ( Qs. 2. 225 )”. Dan dalam Qs. 17: 36 yang artinya : “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati masing-masing akan dipertanggung jawabkan (Qs, 17 : 36 )”.

Manusia diminta untuk meluruskan niatnya , karena niat sangat menentukan kebaikan manusia dan niat itu bersemayan di hati . Hati yang dalam bahasa Arab disebut dengan Qalb masdar dari Qalaba yang artinya membalikkan, mengubah ,menganti . Sedang intransitifnya adalah taqallaba yang berarti bolak-balik, berganti-ganti,berubah-ubah. Oleh karena itu Imam Ja’far Assadiq membagi perubahan hati itu menjadi 4 macam yaitu : Pertama; Hati yang tinggi (bukan tinggi hati) disebabkan oleh Zikir . Kedua; Hati yang terbuka ( Apabila ridha kepada Allah) , Ketiga ; Hati yang rendah( bukan rendah hati ) disebabkan oleh hal-hal selain Allah dan Keempat; Hati yang mati ( Karena melupakan Allah ).

Perubahan hati yang pertama dan kedua membawa manusia kepada ketentraman jiwa dan kebahagiaan hdup. Sedang perubahan yang ketiga dan keempat membewa manusia kepada kegelisahan dan kegalauan hidup. Oleh karena itu ketentraman hati dapat diperoleh hanya oleh orang yang beriman seperti firman Allah dalam Qs:13 : 28 ) : Yang artinya : ”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan megingat Allah hati menjadi tentram ( Qs.Ar-Raad 28 )”.

Dengan demikian maka jauhkan diri dari sifat : Lawwamah ( kegelisahan ) , Tama’ ( Tidak pernah merasa cukup ) Amarah ( Tidak pernah mengalah ), yang akan membuka jalan kepada Tuhan. Jangan lupa ayat yang selalu kita baca dalam setiap sholat yaitu surah Al-Fatihah ayat 6 dan 7 : Yang artinya : ‘’ Tunjukilah hati kami ke jalan yang lurus, Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka , sedang mereka itu bukanorang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat ‘’.

Seluruh manusia mengalami perjalanan hidup yang sama selama mereka hidup di dunia ini . Dalam kajian tasawuf perjalan itu ada yang berbentuk perjalanan fisik jasmaniah dan perjalanan non fisik rohaniah . Kedua bentuk perjalanan ini sama-sama menghemdaki keselamatan yang abadi dan bahagia di akhirnya. Dalam perjalanan ruhaniah para ahli tasawuf ( mistisisme Islam ) menyebut dengan thariqah . Thariqah ( jalan ) itu pada dasarnya tidak terbatas jumlahnya, karena setiap manusia harus mencari dan merintis jalannya sendiri sesuai dengan tarap kebersihan dan kemampuan hatinya atau qalbunya.

Perjalanan ruhani manusia menuju Tuhannya sangat tergantung kepada nilai dan potensi qalbunya dalam literature Tasawuf disebut dengan Maqam ( suatu stasiun atau tempat yang tinggi ) di hadapan Tuhan. Maqam yang sangat tinggi adalah maqam para auliya ( para wali Allah ) , para auliya’ ini sering disebut dengan Autad ( tiang-tiang pancang ) yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi , karena kehadiran merekalah Tuhan menahan murkanya . seperti dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar Rasulullah SAW. Bersabda : ‘ Sesungguhnya Allah SWT menolak bencana karena kehadiran ( para autad ) orag-orang saleh dari seratus keluarga tetangganya , kemudian Rasulullah membaca firman Allah dalam surat 2 : 251 yang artinya : “Sekiranya Allah tidak menolakan sebagian manusia dengan sebagian yang lain , niscaya sudah hancurlah bumi ini.

Petunjuk Allah SWT sudah jelas terbentang dihadapan kita baik yang zahir maupun yang bathin . Yang zahir dapat dilihat oleh mata seperti indahnya ciptaan Allah di alam ini, sedang yang bathin Allah menciptakan rasa yang tidak terhingga. Orang yang bersyukur terhadap petunjuk ini akan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya sedang orang yang mengingkari atau kufur terhadap petunjuk ini tidak akan mempu memahami kebesaran Allah dan bahkan akan semakin menjauh dari keagunganNya. Oleh karena itu Jalan syukur adalah jalan yang lurus dan jalan kufur adalah jalan yang sesat .

Jalan yang sesat itu adalah : 1. Sabilit-Taghud ( tirani ). 2. Sabilil Mujrimin ( Orang berdosa ). 3. Sabilil mufsidin ( Orang –orang pembuat kerusakan ) 4. Sabilil ghay (alan kesesatan ). 5. Sabilillaziina laa ya’lamuun ( Orang yang tidak mengetahui ). 6.Ghaira sabilil mu’minin ( bukan jalan orang yang beriman ). Maka yang diminta ditunjuki kepada Allah adalah Sabilil mustaqin/Siratal mustaqim.

Untuk menuju jalan yang lurus para ahli sufi membuka tirai kegaiban dengan melapangkan dan mengikis jiwa dan hati nurani dari kemelut dosa dan sifat kemungkaran ( tercela ) sesuai dengan maqam-maqam yang ditentukan . Jalan menuju Allah hanya satu sedang jalan menuju kesesatan sangat banyak untuk itulah kita selalu berdo’a dalam suat Al-fatihan setiap sholat supaya selalu ditunjuki kepada jalan yang lurus itu. Upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah merupakan hakekat dikuatnnya iman dalam dada manusia dan kekuatan iman itu akan selalu mengingatkan manusia kepada sang Maha Pencipta. Proses dan usaha manusia semacam itu kita kenal dengan zikir.

Menurut Imam Al-Wasithi Zikir ialah : Berusaha keluar dari kealpaan mengingat Allah SWT , menuju ni’matNya musyahadah ( menyaksikan kebesaran Allah ) yakni hilangnya rasa takut lantaran menggilanya rasa cinta kepada Allah . Sedang dalam bahasa yang sering kita fahami sesuai dengan pengertian ahli tafsir Zikir adalah ingat yaitu ingat kepada Allah. Hal ini seperti Firman Allah dalam surat Thoha ayat 14:Artinya: “Dan tegakkanlah/Dirikanlah Sholat untuk mengingat Aku“(QS; 20: 14 ).

Inilah puncak Mi’raj, yaitu menjemput Shalat yang dengannya Sang Hamba mengingat Sang Khaliq. Shalat merupakan ibadah yang paling utama, karena di dalamnya manusia menyebut penciptanya. Semakin banyak berzikir akan semakin terbuka pintu kegaiban Ilahi dan semakin jelas tujuan hidup manusia. Untuk itu Allah perintahkan manusia berzikir agar hidup manusia bermakna dan itulah hamba Allah yang sesungguhnya.

Dzikr adalah unsur yang sangat dalam dari ketaqwaan. Dzikr merupakan salah satu inti ajaran Islam. Dzikir adalah jalan yang mengantarkan manusia keharibaan Allah. Sebab itu Dzikir mempunyai dua fungsi bagi manusia : Pertama,Untuk menjalin hubungan ruhaniyah dengan Allah untuk memperoleh cintaNya . Kedua ,Untuk menghidupkan Iman yang ada dihati manusia agar selalu bercahaya dan tumbuh menjadi energi penggerak kehidupan . Orang yang tidak berdzikir adalah orang lupa dengan Allah sebagai zat yang maha kuasa . Padahal dzikir tidak mengenal ruang dan waktu , kapan dan dimanapun, maka kelalaian manusia akan dengan dzikir akan menodai iman yang dimilikinya. Allah SWT melarang kita lupa dengan-Nya seperti yang difirmankan-Nya dalam surat Al-Hasyr ayat 19 : Artinya : Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah , lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri .Mereka itulah orang-orang yang fasiq ( QS; Al-Asyar 19 ).

Dengan mengingat Allah Hati akan tentram Karena saat itu hati manusia sedang berada di dekapan Allah . Takobahnya seperti bayi yang menangis tetapi ketika didekap oleh Ibunya ia tenang dan tidak mengangis lagi karena sang bayi kembali kepada orang yang ada dihatinya yaitu sang ibu yang melahirkannya. Allah berfirman : Artinya : Ingatlah, hanya dengan m engingat Allah –lah hati menjadi tentram( QS: 13 : 28 ).

Dzikir yang dapat mengantarkan manusia kepada ketentraman hanya dengan beberapa syarat yaitu : Pertama, Al – Intifa’u bil ‘izhah / Dzikir yang diiringi dengan memanfa’atkan Nasihat (Perintah dan larangan ). Kedua, Al – Istibsharu bil- Ibrah / Dzikir dengan diikuti selalu mencari kebenaran dari pelajaran Agama ( Menambah kearifan ), Ketiga ,Az – zifru bitsamarihil – fikrah / Dzikir dengan diikuti oleh mendapatkan buah fikiran ( Tercapainya amalan yang benar ). Dengan cara demikian maka Dzikir dapat menentramkan jiwa siapa saja yang dikehendaki Allah . Karena dzikir membuka pintu rahasia kebesaran Nya bagi hambanya yang mau berfikir dan mau menghayati petujuknya yang maha bijaksana.

Orang-orang senantiasa berzikir baik dalam arti ucapan maupun dengan implementasi Ibadah , baik Ibadah wajib maupun ibadah sunnah, maka sang hamba berhak mendapatkan tempat yang mulia disisi allah SWT. Tidaklah mudah untuk mendapatkan tempat yang mulia itu . Biasanya para Hamba cinta dengan Tuahnnya mereka mengamalkan firman Allah dalam surat Al-Isra’ 79 :
Artinya : “Pada sebagian malam hendaklah kamu bertahajjud sebagaitambahan bagi engkau mudah-mudahan Allah mengangkat engkau ke tempat yang terpuji ( Qs Al-Isra’ (17 : 79 ).

Dengan demikian peristiwa Isra’ dan Mi’raj memberikan pelajaran penting bagi hamba Allah yang mau memikirkan akan ma’na tersenbunyi dari peristiwa itu, sehingga ia bersungguh sungguh memperoleh kemuliaan yang terungkap di dalamnya. Apabila sang hamba telah mendapatkan kemuliaan itu, maka kehidupan ini menjadi jalam menuju Rahmat dan ibadah akan menjadi ni’mat. Disinilah makna hidup sesungguhnya yang tersimpul dalam perintah ibadah yang menjadi tujuan Perjalanan Isra’ dan Mi’raj Muhammad SAW. ***

News Feed