by

Rindu Rumah Ibu

Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Karena rindu yang kian tebal, lelaki 50-an tahun itu terbang dengan pesawat pertama. Mimpi yang kerap datang sejak beberapa waktu terakhir, telah mengajak langkahnya untuk segera sampai di kampung halaman. Kampung yang telah membesarkannya. Begitu juga dengan seluruh penghuninya yang selalu setia menunggu kepulangannya dari tanah rantau.

Sejak sang ibunda berpulang belasan tahun lalu, frekwensinya pulang ke rumah ibunya berkurang. Namun pagi itu, rindunya tidak terbendung lagi. Hari itu, segala janji dan aktifitas rutin, ditinggalkannya.

Sesampai di bandar udara, rasa ingin segera sampai di rumah makin kuat. Dan kurang 1 jam 45 menit, dia pun sampai di rumah yang aroma desanya tidak berubah sejak ditinggalkannya 34 tahun lalu. Dengan tergesa-gesa dia masuk rumah itu.

Namun, alangkah terkejutnya dia saat menjumpai hampir sebagian besar ruangan dalam rumah itu telah berubah. Kamar kayu di belakang tempat dia menghabiskan diri sepulang sekolah, tidak ada lagi. Dapur kecil dan ruang lepas dari anyaman bambu sudah diganti tembok dan keramik. Dan yang membuat dia makin terkejut, kamar ibu yang dulu tempat dia mendapat belaian kasih sayang, juga sudah tidak ada.

“Dek, kenapa bisa berubah seperti ini?” tanya dia pada sang adek yang memang menjadi penunggu “rumah tua” tersebut.

“Kayu dan anyaman bambu itu sudah lapuk. Kebetulan saya ada rezeki, saya ganti biar lebih baik,” jawabnya sambil membawa segelas teh hangat dan kue-kue kampung.

“Kenapa tidak memberitahu saya?” ucapnya dengan nada kecewa.

“Saya pikir abang setuju. Soalnya, sejak abang merantau, rumah ini makin tua. Dan lagi kamar abang dan kamar ibu tidak ada yang huni. Jadi saya bongkar. Jadinya seperti ini,” jelas sang adek.

Lelaki beranjak dari duduknya dan melihat ke belakang. Kandang ayam dan itik yang mengeluarkan suara ribut saat pagi dan ketika bertelur, juga tidak ada lagi. Begitu pula sumur tua di dekat situ, sudah ditutup dan diganti dengan halaman berkeramik mengkilat.

Dengan langkah gontai dia kembali ke dalam rumah. Kemudian dia berdiri di bawah foto sang ibu di ruang tengah. Lama dia menatap senyum hangat foto itu. Air matanya mengalir.

Melihat hal itu, sang adek terkejut.

“Kenapa abang?” tanyanya.

Dirangkulnya adik bungsunya itu.

“Saya sebenarnya sangat rindu dengan suasana rumah seperti saat ibu masih ada. Suasana itulah yang membuat saya selalu ingin pulang. Namun, kalau sudah diubah seperti ini, apa yang menggerakan saya untuk pulang?” ucapnya dengan bibir bergetar.

“Kalau rumah dengan keramik mengkilat seperti ini, di rantau sangat banyak. Bahkan lebih bagus lagi. Sejak ibu tak ada, setiap saat, saya selalu ingin merasakan suasana seperti dulu. Rumah ini sangat berjasa pada saya. Saya sangat rindu dengan rumah seperti dulu,” ucapnya dengan kelopak mata yang bergerak-gerak.

Setelah menyeka matanya, lelaki itu pamit dan beranjak pergi. Selama perjalanan menuju bandara, air matanya tumpah membasahi jalan yang dilaluinya. ***

News Feed