by

Refleksi MTQ 1441 H, Membangun Kebersamaan Menuju Masyarakat Modern

Sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat Muslim Indonesia menjadikan Musabaqah Tilawatil Al-Quran (MTQ) sebagai budaya religius untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai moral Al-Quran dalam masyarakat mulai dari tingkat Nasional sampai ke Daerah.

MTQ adalah wadah sekaligus momen tahunan bagi umat Islam melakukan serangkaian kegiatan ketangkasan dalam melaksanakan beberapa ketrampilan agama (syiar) yang sekaligus menjadi evaluasi terhadap pengembangan dan pemahaman serta pengamalan Al-Quran. Umat Islam meyakini bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup yang harus dibumikan dalam kehudupan bermasyarakat, dimanifestasikan, dan di amalkan secara konsisten baik secara pribadi ataupun kelompok.

Sejak dicanangkan sejak 1940 sampai kini, MTQ telah memberikan dampak positif bagi kehidupan beragama di Indonesia, khususnya kehidupan umat Islam. Dampak tersebut tentu tidak jauh dari misi profetik Al-Quran sebagai sumber inpirasi dan pedoman moral yang terkandung didalamnya.

Diantara nilai moral yang tertanam adalah sikap kebersamaan dalam keragaman yang dalam bahasa pembangunan disimpulkan dalam kalimat gotong royong. Dalam perkembangannya MTQ tetap menjadi budaya yang dipertahankan dari tahun ke tahun sampai saat ini.

Perkembangan masyarakat dengan pergeseran paradigma yang melanda umat beragama hari ini, sebagai akibat dari efek negatif poros globalisasi dan modernisasi yang merambah tidak hanya pada jalan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat juga pada kehidupan beragama. Pengaruh tersebut seakan-akan menimbulkan persoalan kehidupan yang menakutkan dengan berbagai kejahatan yang terjadi atau yang kita sebut dengan tirani modernisasi (kehidupan modern yang menakutkan). Kondisi seperti ini tidak dapat dibiarkan. Sebab itu agama (baca: Al-Quran) harus tampil dengan semangat perekat kautuhan berbangsa sekaligus menjadi filter terhadap bahaya modernisasi secara fungsional dan profesional.

Telaah rasional ilmiaah dan penghayatan ruhaniyah akan peran agama (Al-Quran) penting dilakukan, terutama berkaitan dengan bagaimana para pemeluk agama itu mampu beraktualisasi dalam pekembangan kehidupan yang terus melaju dengan cepat. Modernisasi kehidupan adalah keniscayaan yang tak bisa dielakan. Peran dan fungsi nilai agama (baca: Al-Quran) secara substansial mutlak ditantang. Kebersamaan dan keragaman terusik dengan faham liberalisme dan sekularisme. Akibatnya keutuhan, kekompakan, dan sifat kegotong royongan mulai menipis dalam pergaulan sosial. Dalam situasi kehidupan sosial seperti itu Ruh dan nilai Al-Quran dapat dijadikan perekat dan memperteguh kembali prinsif-prinsif kebersamaan dalam keragaman.

Disinilah ruh MTQ mesti ditempatkan. Karena Al-Quran bukan karya manusia seperti kitab lainnya, melainkan wahyu yang diturunkan untuk pedoman kehidupan manusia. Sampai hari ini dan bahkan sampai kapanpun Al-Quran tidak akan bisa di tiru, diubah ataupun bahkan dihilangkan di permukaan bumi karena dipelihara oleh Sang Maha Pencipta yaitu Allah swt sebagaimana Firman-Nya : Yang Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ( Qs. Al-Hijr 9).

Sebagai kitab suci, Al-Quran memberikan pedoman tentang maslahat kehidupan manusia secara menyeluruh, baik yang menyangkut dengan kehidupan peribadi, keluarga dan bahkan sampai kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Al-Quran berbicara dalam seluruh kontek kehidupan manusia, baik dalam kontek kehidupan peribadi, keluarga dan dalam kontek kehidupan bernegara . Karena pesan moral Al-Quran menyentuh seluruh asfek kehidupan manusia , tentu tidak diragukan lagi sudah barang tentu kita harus merujuk kembali kepada petunjuk Al-Quran tentang kehidupan ini termasuk bagaimana kita hidup bersama ditengah keragaman budaya, suku, bahasa dan agama.

Dalam kontek kehidupan modern saat ini dimana masyarakat dengan basis tehnologi dan ilmu pengetahuan yang maju dan sering disebut sebagai masyarakat milenial telah mengantarkan kita pada pergeseran nilai baik nilai-nilai sosial ataupun budaya . Umpamanya saja nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas pergaulan sosial kita sedikit demi sedikit sudah mulai hilang digantikan dengan sikap individualistik dan egoistik. Pergeseran nilai tersebut telah merambah masuk mulai dari kehidupan keluarga sampai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kontek kehidupan bernegara, umpamanya Indonesia (khususnya) secara masif menuju kepada perubahan struktur dan pola yang tidak seimbang. Banyak kesenjangan yang kita lihat dan saksikan Baik kesenjangan dalam berpolitik dan berekonomi, maupun kehidupan beragama . Hal tersebut tentu saja akibat dari hilangnya pola keseimbangan akibat benturan kepentingan yang pada akhirnya memporak porandakan nilai kebersamaan dalam masyarakat. Ini tentu pula tidak lepas dari akibat lain yang takterhindarkan dari akibat pergaulan dalam percaturan dunia global saat ini.

Secara struktur kemasyarakatan Indonesia adalah masyarakat plural dan beragam, namun tataran nilai kebersamaan dalam keragaman itu sudah mulai mengalami penyusutan dan bahkan sekan-akan terasa hilang. Oleh sebab itu tentu sangat tepat jika momentum MTQ tahun 2020 M/1441 H ini kita jadikan sebagai semangat baru untuk memperteguh nilai kebersamaan dalam keragaman ditengah proses pembangunan yang sedang berjalan saat ini.

Dilihat dari berbagai asfek, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk. Dari segi etnis, misalnya ada suku Melayu suku batak dan suku yang lainnya sehingga menjadi suku yang besar di tanah air ini. Masyarakat majemuk merupakan rahmad Allah SWT dan merupakan sunntatullah atau ketetapan Allah ( Allah berfirman): yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.( Al-Hujurat 13 ).

Tidak kurang dari 1.072 suku-suku derivative besar dan kecil yang berkembang di persada Nusantara kita ini ( Leo Suryadinata ; 2003 ). Dari segi bahasa , terdapat ratusan bahasa yang digunakan diseluruh wilyah Indonesia , yang tersebar kedalam beribu-ribu pulau yang dihuni oleh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke. Begitupun dari segi agama terdapat sejumlah agama besar dunia dan sejumlah sistem kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan networking nya masing-masing baik di dalam maupun di luar negeri. Kesemua itu memerlukan adanya suatu sistem yang dapat menjamin koeksistensi atau kerjasama dalam kemajemukan.

Dalam kontek seperti ini, 14 abat yang lalu Islam telah memberikan petunjuk kepada kita seperti yang dapat kita baca dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13 diatas. Untuk mewujudkan kebersamaan dalam keragaman khususnya dalam kontek kehidupan berbangsa dan bernegara sekurang-kurangnya terdapat dua perfektif besar petunjuk Al-Quran yang mesti kita amalkan dalam mewarnai kehidupan bersama dalam keragaman yaitu; Pertama; mengamalkan prinsif as-syu’ub, yaitu menerima eksistensi dan perbedaan suku bangsa lain sebagai anugerah rahmad dari Allah SWT. Kedua; nahdhariyah al-nahdha, yaitu menerima eksistensi kemanusiaan . Bahwa manusia merupakan ciptaan Allah swt yang memiliki kesamaan hak satu sama lain .

Dalam prinsip pertama Al-Quran menghendaki umat manusia menerima perbedaan sebagai eksistensi kehidupan. Perbedaan adalah ciptaan Allah swt, dan semua ciptaan Allah adalah anugerah terindah untuk manusia dan makhluk lainnya. Ini menunjukkan bahwa kehidupan ini menjadi indah dengan perbedaan dan menjadi nyaman dengan kebersamaan.Kemudian dalam prinsip kedua Al-Quran menghendaki bahwa keberadaan manusia adalah sebagai bukti kekuasaan Allah swt. Manusia di ciptakan memiliki hak-hak azazi yang harus diakui oleh siapapun juga. Melanggar hak azazi atau mengingkari hak azazi manusia itu sama artinya dengan mngingkari penciptaan. Dengan demikian eksistensi penciptaan harus dipandang sebagai hukum yang tak boleh dilanggar apalagi didzalimi.

Dari dua prinsif yang di ajarkan Al-Quran sangat jelas bagi kita bahwa keragaman (plural) merupakan sunnatullah dan anugerah Yang Maha Kuasa. Pluralisme masyarakat adalah salah satu ciri utama dari masyarakat multikultural seperti Indonesia. Dalam kajian para ahli sosiologi Indonesia disebut sebagai negara yang masyarakatnya pluralistik. Kata ini sering diartikan dengan masyarakat majemuk ( Nasikun; 1998 ).

Berdasarkan petunjuk Al-Quran, keragaman penting artinya terutama dalam semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Keragaman merupakan potensi strategis untuk mewujudkan pembangunan dan sekaligus sebagai rahmad Allah swt. Keragaman merupakan kekuatan atau energi untuk membangun kebersamaan .

Dengan adanya kebersamaan tercipta peluang atau kesempatan untuk mengekspresikan diri, hidup berdampingan , dan bekerjasama antar berbagai kelompok masyarakat. Hal ini tentunya sejalan pula dengan petunjuk Al-Quran untuk ber-taawwun (tolong menolong) saling bekerja sama dalam membangun kebaikan. Firman Allah SWT yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.( Qs.Al-Maidah : 2 ).

Dari ayat tersebut , terdapat pelajaran bahwa substansi kehidupan ini adalah untuk kebersamaan yang akan kita persembahkan secara peribadi kepada Allah swt. Substansi itu tidak lain adalah pola hidup Qur’ani yang dibangun atas dasar keragaman. Inilah ciri masyarakat Qurani , yaitu masyarakat yang mampu mengendalikan diri untuk kebersamaan dalam membentuk budaya dan peradaban yang berazaskan demokrasi. Masyarakat yang dibangun diatas prinsif gotong royong untuk kebajikan, sehingga sikap menghargai Hak Azasi Manusia akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping itu energi keragaman akan melahirkan tegaknya keadilan dan hukum, terwujudnya nilai budaya dan etos , kebersamaan, kesedrajatan, penghargaan atas keyakinan, kesempatan berprestasi, penghindaran tindak kekerasan fisik dan keyakinan, rasa aman dengan identitas dan sebagainya .

Akhirnya perlu kita sadari bahwa tujuan penciptaan , baik dalam tatanan kehidupan pribadi ataupun kelompok dalam pandangan Al-Quran merupakan tujuan mulya yang akan mengangkat derajat kemanusiaan , tetapi jika kita mengingkari tujuan penciptaan itu maka kita akan jatuh hina dan bahkan lebih hina dari binatang sekalipun .Untuk menuju kearah itu tentu membutuhkan tekat kuat mulai dari pribadi sampai kepada tekat bersama . Dimulai dari kesadaran diri sampai pada kesadaran kolektif . Untuk itu kita sangat membutuhkan daya dorong dan semangat, yang muncul dari diri masing-masing umat atau masyarakat. Kita mesti memperkuat sendi – sendi kekuatan iman atau aqidah secara menyeluruh ( kaaffah ), dan terpadu dalam setiap diri berupa ilmu dan amal . Disamping itu juga menghendaki usaha secara sungguh-sungguh dengan mensinergikan bebagai aspek sosial kemasyarakatan dengan meletakan keragaman sebagai peluang bukan sebagai ancaman. Hanya dengan demikian keragaman dalam kebersamaan dapat terwujud di tengah masyarakat yang multi kultur seperti Indonesia yang kita cintai ini. ***

News Feed