by

Dalam Keheningan

Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Kami biasa menyapa beliau “Pak Ketua”. Sapaan itu terlanjur lekat pada dirinya, karena memang dia dulunya Ketua RT di lingkungan kami. Meski sekarang tidak lagi menjabat, namun sapaan itu kadung melekat pada diri lelaki usia 60-an itu. Dan dia pun sepertinya nyaman dengan sapaan tersebut.

Akhir pekan kemarin, ba’da Isya, beberapa jemaah termasuk Pak Ketua, duduk santai dalam masjid. Seperti biasa, suasana seperti itu dijadikan untuk ngobrol, diskusi, atau menyampaikan sejumlah hal. Ketika itu ada seorang dari jemaah yang melontarkan pujian.

“Hebat betul tukang di rumah kami. Hanya dengan mendengar, dia tahu letak pipa yang bocor.”

“Itu karena dia berada dalam keheningan yang khusu’,” kata Pak Ketua.

“Dalam keheningan?” tanya seorang jemaah.

“Ya, dalam keheningan kadang kita akan bisa merasakan dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang kita pikirkan,” ujar Pak Ketua.

“Maksudnya bagaimana?”

“Maksudnya, cobalah untuk beberapa saat berada dalam keheningan. Rasakan apa yang menjadi keinginan kita. Lewat keheningan itu, kita bisa mendapatkan jawabannya. Seperti tukang pipa air di rumah saudara kita tadi,” terang Pak Ketua.

“Kok bisa seperti itu?” tanya yang lain.

“Setahu saya, si tukang pipa itu sangat khusu’ dengan pekerjaannya. Jika pikirannya galau atau suasana hatinya “ribut”, dia tak akan dapat menemukan pipa yang bocor. Namun, dengan ketenangan hati, konsentrasi dan kekhusukan, dia dapat tahu dimana kebocoran pipa itu,” terangnya lagi.

Namun, penjelasan itu belum juga dipahami jemaah tersebut.

“Contoh lain, ketika seseorang mencari jam tangan di tumpukan jerami dengan suasana hati dan pikiran yang galau. Sekeras apapun usahanya, dia akan susah mendapatkan jam tangan tersebut. Namun, bila pikiran dan hati tenang, jam tangan itu akan cepat ditemukannya. Karena apa? Lewat ketenangan, dia bisa mendengar bunyi putaran jarum pada jam tangan tersebut,” jelasnya lagi.

Semua terdiam sejenak.

“Untuk mencapai ketenangan dalam keheningan itu, memang sesuatu yang sulit karena kita kerap terjerumus dalam seribu satu macam kegaduhan,” papar Pak Ketua lagi.

“Dari hal-hal tersebut, mungkin itu pula hikmah dari shalat malam yang dianjurkan. Shalat itu dilakukan ketika orang disekeliling kita terlelap. Suasana sunyi dan kita berada dalam keheningan. Ketika itulah kita bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dalam keheningan itulah kita akan lebih merasakan kasih sayang dan kedekatan Allah SWT kepada kita,” terangnya lagi

Semua kembali terdiam.

“Tapi, mengapa dari kita banyak yang berat menunaikan shalat sunat malam tersebut?” ucap Pak Ketua bertanya. ***

News Feed