by

Si Karengkang

Cerpen: Fery Heriyanto

Sekitar 17 tahun lalu, ada seorang warga yang orang-orang di kampung menyapanya “Si Karengkang”. Jauh sekali dari nama yang diberikan orang tuanya yaitu ‘Luhur’.

Menurut cerita, sosoknya memang terkenal bandel dan usil. Dia sangat suka bikin ulah dan mengganggu orang. Diamnya hanya saat tidur. Ketika sudah bangun, ada-ada saja kelakuannya yang membuat orang marah.

Tanda-tanda kebandelannya sudah tampak saat pertama masuk sekolah. Rasa takut seperti anak-anak yang baru masuk dunia pendidikan tidak kelihatan sedikit pun. Berdasarkan cerita orang tuanya, ketika berada di lokal, saat anak-anak lain diminta untuk mengenalkan namanya ke depan kelas, dia tanpa diminta, maju sendiri dan mengenalkan diri.

Seminggu sekolah, dia sudah mulai mencubit temannya. Sebulan sekolah, ada laporan dari guru jika dia pipis di kelas. Anak kelima dari tujuh bersaudara itu, sudah juga dididik di rumah, baik dengan kelembutan maupun dengan rotan. Tapi, bandelnya bukannya berkurang, malah makin bertambah. Anak-anak seusianya takut dengannya. Ulah yang ditunjukannya kadang membuat keluargnya malu. Dia seperti tidak punya rasa takut.

Berbagai upaya telah dilakukan keluarganya agar Si Karengkang bisa patuh dan tidak berbuat usil. Bahkan langkah “tidak biasa” pun dilakukan. Tapi, hasilnya nihil. Si Karengkang malah makin menjadi. Pernah suatu kali ada orang datang ke rumahnya mengadukan perbuatan Si Karengkang. Saat dinasehati, bukannya makin patuh, malah sebaliknya. Sampai akhirnya, orang tua, dan kakak, dan adik-adiknya pasrah. Nama Si Karengkang pun terkenal.

***

Akhir-akhir ini masyarakat kampung resah. Soalnya, air sungai yang selama ini jernih, sejak beberapa waktu terakhir keruh. Kadang dalam satu waktu, warnanya kecoklat-coklatan dan sedikit berbau. Tersiar kabar, di hulu sungai ada aksi penambangan liar yang dilakukan oleh sekelompok orang. Menurut warga yang pernah mengintai ke lokasi itu, hutan yang selama ini dijaga oleh warga kampung, telah ditebang serampangan. Dan oleh orang-orang tersebut, tanah di kawasan itu digali. Konon katanya, ada emas yang terpendam di sana. Akibat air sungai keruh, ikan-ikan yang selama ini dibudidayakan warga di sungai, banyak yang mati.

“Kalau dibiarkan terus begini, makin sengsara kita,” ucap seorang warga saat rapat kecil di rumah kepala kampung.

“Kita harus laporkan persoalan ini. Jika tetap dibiarkan, tidak hanya air dan ikan yang mati, kita pun perlahan-lahan akan mati,” ucap yang lain.

Saat persoalan itu mengemuka, masalah lain juga muncul. Didapat kabar, sejumlah pemuda telah terjerat barang-barang terlarang. Dari sejumlah bukti, ada beberapa pemuda yang kedapatan tak sadarkan diri di gubuk tengah sawah. Dari pemeriksaan medis, barang haram telah merasuk dirinya. Untung masih bisa diselamatkan.

**

Keruhnya air sungai kampung kian mengkhawatirkan. Warga tidak bisa menggunakan air itu untuk keperluan sehari-hari. Bahkan ada isu yang beredar, air sungai sudah tercemar kadar logam yang tinggi. Persoalan itu sudah disampaikan pada pihak berwenang, namun langkah konkret belum juga dilakukan. Parahnya, para penambang mengklaim jika lahan yang mereka garap sudah mendapat izin.

“Izin dari mana!? Saya selaku kepala kampung, tidak pernah didatangi apalagi memberikan izin! Mereka sengaja mengadu domba kita!” ucap kepala kampung agak emosi.

Saat warga minta penambang memperlihatkan izin yang diperoleh, mereka hanya memperlihatkan beberapa lembar kertas bertulisan “diizinkan” dengan kop surat foto copy. Ketika salah seorang warga hendak memegang dan membacanya dari dekat, mereka langsung simpan “dokumen-dokumen” itu. Akibatnya, pertemuan dengan pihak penambang tidak memberikan rasa puas pada warga. Malah rasa curiga makin berkembang.

Suasana kampung terasa tidak nyaman. Masalah demi masalah terus menghampiri. Sudah sering dilakukan pertemuan termasuk melakukan komunikasi dengan pihak penambang dengan dimediasi pihak terkait, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Bahkan dihembuskan isu jika warga sengaja mencari masalah.

“Ini sudah tidak benar! Kita berada di kampung kita! Kita pula yang disudutkan,” ucap salah seorang warga yang emosi usai rapat yang kesekian kalinya.

Warga tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Sampai ada diantara warga mengusulkan dilakukan cara ala masyarakat, agar hutan, tanah, dan air yang selama ini menghidupi mereka bisa diselamatkan. Namun, usulan itu hanya bisa dilontarkan. Saat ditanya apakah warga siap melakukannya, sebagian besar dari mereka diam.

**

“Pak…! Pak…! tengok! Sungai meluap! Lari…! lari…! Ada air bah!”
Warga yang bermukim di tepi sungai saling berteriak minta yang lain untuk menyelamatkan diri.

“Cepat lari…lari!” Teriak yang lain. Sementara hujan lebat masih mengguyur kampung. Air mengalir begitu deras dari hulu. Arusnya menyapu semua yang ada di depannya. Masyarakat yang datang, berusaha menyelamatkan warga yang rumahnya mulai digenangi air. Tanpa mempedulikan harta benda, warga pinggir sungai dievakuasi ke tempat yang aman. Warga bahu membahu menolong mereka terutama para orang tua, anak-anak, dan wanita. Air deras yang mengalir tidak hanya berwarna coklat tanah, tapi juga membawa potongan kayu bekas tebangan dan gergaji.

“Lihat ini…! Lihat…! Mereka telah hancurkan kita! Mereka musnahkan kita!” teriak sejumlah warga sambil menunjuk-nunjuk kawasan hulu tempat pertambangan itu.

“Mereka hancurkan kita! Mereka hancurkan kita! teriak yang lain.

Suasana kampung benar-benar kacau di tengah hujan lebat itu. Rumah-rumah warga di sepanjang bibir sungai sudah terendam. Bahkan ada yang sebagian bangunannya sudah amblas digerus air bah.

**

Peristiwa air bah itu telah memantapkan niat warga untuk menertibkan aksi penambangan tersebut. Komunikasi dengan kelompok penambang tetap tidak menemukan titik terang. Mereka makin berkuasa atas lahan di kawasan itu. Pengaduan dan laporan yang selama ini disampaikan, sepertinya hanya diterima saja. Namun, tidak ada upaya untuk mencarikan solusi atas persoalan itu. Kemarahan warga telah memuncak.

Malam setelah peristiwa itu, tersiar kabar, jika salah satu rumah yang ditempati penambang itu terbakar. Konon, katanya ada yang sengaja membakar rumah itu. Dan warga kampung dituduh telah melakukannya. Warga dituduh mulai melakukan teror. Namun, setelah dilakukan pertemuan, tidak ada saksi yang bisa menunjukan jika warga kampung pelakunya. Bahkan bukti warga yang melakukannya juga tidak ada. Tapi, tuduhan itu terus disampaikan.

Dua hari kemudian, satu lagi bangunan penambang itu terbakar. Dan kembali, warga dituduh. Tapi, tetap tidak ada saksi yang melihat. Bahkan buktinya pun mereka tidak bisa tunjukan. Peristiwa itu kian memanaskan situasi warga kampung dengan para penambang itu.

“Jika tidak ada yang bertanggungjawab atas pembakaran itu, jangan salahkan kami.” Itu kalimat yang diterima warga. Kondisi kampung makin tidak tenang. Rasa takut dan cemas menyelimuti sebagian warga kampung.

Sehari setelah kalimat itu diterima, tiba-tiba satu lagi rumah penambang itu terbakar. Kali itu tidak hanya rumah, namun juga mobil, traktor, dan peralatan tambang ikut terbakar. Api begitu besar. Warga dengan jelas melihat bagaimana kalang kabutnya para penambang itu. Ada yang mencoba memadamkan api. Dan ada juga yang mulai ketakutan dan lari.

Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba Si Karengkang muncul di balik kepulan asap api yang membakar lokasi penambangan.

“Mereka telah hancurkan hutan kita! Mereka rusak kampung kita! Mereka binasakan hidup kita! Itu balasan untuk mereka!” ucap Si Karengkang tegas. Sejurus kemudian dia pun berlalu dari kerumunan warga. ***

*) Karengkang = bandel (bahasa Minang)

Batam, 2017

— Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater O USU Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri.***

News Feed