by

Uji Nyali di Hutan Batu Sembilan Desa Pongkar Karimun

Karimun (HK) – Wilayah paling ujung sebelah utara Pulau Karimun Besar masih didominasi hutan yang lebat. Hutan di Karimun masuk dalam Kawasan Hutan Lindung Gunung Jantan dan Gunung Betina. Kawasan hutan itu berada di dua kecamatan yakni Kecamatan Tebing dan Kecamatan Meral Barat.

Hutan Karimun berjenis hutan tropis yang ditumbuhi pohon dengan ukuran besar dengan usia ratusan tahun. Selain memiliki kekayaan flora dan fauna khas hutan tropis, ternyata hutan Karimun juga banyak menyimpan misteri. Banyak cerita-cerita yang berkembang di tengah masyarakat, salah satunya misteri Batu Sembilan di Desa Pongkar.

Konon, Batu Sembilan merupakan makam 9 orang yang tertimbun di kawasan hutan Desa Pongkar, Kecamatan Tebing. Di lokasi tertimbunnya 9 orang itu dipasang 9 batu nisan. Sembilan orang yang tertimbun itu adalah penambang bijih timah dari etnis Tionghoa pada masa penjajahan Belanda.

Saat itu, penambangan dilakukan dengan cara-cara tradisional. Untuk mendapatkan bijih timah, penambang harus menggali perut bumi. Kualitas bijih timah pada masa itu sangatlah bagus. Makanya tak heran, bijih timah Karimun kala itu memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Makin ke dalam digali maka bijih timah yang ditemukan makin matang.

Karena penambangan dilakukan dengan cara tradisional, maka tingkat keamanan juga masih rendah. Pada saat dilakukan penggalian, maka tanah galian longsor hingga menimbun 9 orang penambang dan terkubur di kawasan tersebut. Hingga kini, lokasi itu dikenal sebagai Batu Sembilan dan masih menjadi cerita dari mulut ke mulut di tengah masyarakat Desa Pongkar.

Kawasan Batu Sembilan berada di sekitar aliran anak sungai pegunungan Karimun. Anak sungai ini membelah hutan lebat diantara dua perbukitan di sebelah kiri Desa Pongkar. Di sepanjang aliran anak sungai akan dijumpai gugusan batu granit dengan ukuran yang sangat besar. di celahnya mengalir air pegunungan nan jernih.

Air pegunungan ini merupakan sumber mata air bagi penduduk di Desa Pongkar. Air yang jernih dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, air kolam pemandian Tamara, objek wisata keluarga yang belakangan menjadi tujuan wisata bagi masyarakat Karimun, bersumber dari anak sungai ini.

Di kiri dan kanan anak sungai ini terdapat hutan yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Hampir semua pohon yang tumbuh di hutan itu memiliki batang yang lurus. Jika dilihat dari diameter lingkaran pohon dan kontur kulitnya, beberapa diantara pohon disana kemungkinan sudah berusia ratusan tahun.

Di atas anak sungai terdapat beberapa jalan setapak yang diduga bekas pencari kayu bakar. Semakin jauh menelusuri hutan, maka jalur setapak itu makin memudar, hingga hilang di tengah lebatnya rimbunan semak belukar atau resam. Jalur setapak itu berada di lereng bukit. Sedikit saja salah langkah, maka akan terperosok masuk ke dalam jurang.

Kondisi alam seperti ini memberikan tantangan tersendiri bagi para penggiat alam bebas. Seperti yang dilakukan lima pria yang hobi masuk hutan di Karimun diantaranya Deni, Sandi, Haikal, Jhonny dan Ilham menguji nyali dengan menelusuri anak sungai dan menerobos lebatnya belantara hutan Desa Pongkar, Sabtu (22/2/2020).

Haikal, salah seorang yang hobi masuk hutan rimba Karimun menuturkan, kisah perjalanan masuk hutan di kawasan Batu Sembilan Desa Pongkar, diawali dari pemukiman penduduk Desa Pongkar, terus menelusuri jalan setapak hingga menjajal bebatuan terjal yang banyak terdapat di anak sungai.

“Volume air anak sungai tersebut sangat kecil, mengingat sudah beberapa bulan ini Karimun dilanda kemarau panjang. Ketika berada di gugusan batu dengan dataran yang lumayan besar, perjalanan kami lanjutkan mengambil jalur sebelah kanan. Disana, kami menemukan jalan setapak bekas pencari kayu bakar,” ungkap Haikal.

Setelah melewati anak sungai, jalur yang dilalui mulai dijumpai tanaman semak belukar yang merambat atau resam. Jalur itu agak landai namun berada di tebing yang curam. Di sebelah kanan banyak ditumbuhi tanaman pandan dan juga rotan. Sementara, sebelah kiri terdapat jurang menganga, yang di bawahnya batu-batu cadas anak sungai siap menyambut.

Jika mengambil jalur sebelah kiri dari gugusan batu granit, maka akan ditemui tanjakan yang tegak. Pada awalnya, masih ditemukan jalan bekas pencari kayu bakar, namun makin ke atas yang ditemui hanya lebatnya semak belukar. Makin ke atas pendakian makin berat, sebab harus membuka jalur baru.

“Di salah satu punggung bukitnya terdapat longsoran tanah. Kami terpaksa memanjat bidang tanah yang longsor itu dengan cara merangkak. Bidang tanah yang longsor itu akhirnya membuka pemandangan luas ke depan. Dari sana kami dapat menyaksikan Pulau Kariman Anak dan Pulau Takong Hiu serta hamparan Selat Malaka,” jelasnya.

Untuk perjalanan pulang, tim ini sepakat tidak melewati jalur semula. Mereka tetap memanjat hingga ke puncak dan memilih jalur yang berada di sebelahnya. Teryata, di balik perbukitan yang tinggi menjulang itu terdapat Bukit Pongkar yang dikenal dengan tower tiga. Mereka kembali pulang dengan melalui jalan aspal tower tiga itu. (ham)

News Feed