by

Theologi Kesehatan, Menguak Ketakutan Manusia pada Wabah Penyakit

Oleh: H. Muhammad Nasir.S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Gegernya dunia kesehatan akibat berkembangnya Virus Corona telah menyebabkan ketakutan masyarakat dunia (the shock of the worid community) termasuk Indonesia. Bagaimana dan apa penyebab virus corona ini berkembang secara medis belum memberikan jawaban secara pasti. Yang jelas, wabah virus ini muncul di negara China atau tepatnya di Wuhan.

Menurut laporan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng Mohammad Faqih, hingga kini belum ada laporan yang menyebutkan bahwa Novel Coronavirus atau Virus Corona, menjadi penyebab tunggal kematian para korban.

Virus ini baru pertama kali merebak di pusat kota Wuhan, China. Wuhan, China, menjadi lokasi awal ditemukannya kasus virus Corona 2019-nCoV dan terus menyebar di antara penduduknya. Dikutip dari CNN, virus Corona menyebabkan 300 kematian dan 14.300 kasus telah terkonfirmasi di seluruh China. Sementara, Indonesia baru saja memulangkan 238 warganya dari Wuhan akibat ketakutan wabah Virus Corona. Mereka ditempatkan di Hanggar pangkalan udara Raden Sadjad, Natuna, Kepri, sebagai lokasi observasi.

Pada Minggu, 02 Februari 2020, media China dan media lainnya menginformasikan lebih 14.201 orang telah tertular virus dan diperkirakan yang meninggal dunia lebih 56 orang. Akibat itu semua dunia tersentak dan ketakutan yang luar biasa sehingga dalam waktu singkat secara serentak negara-negara yang terlibat langsung mengambil langkah antisifasi terhadap pencegahan wabah virus tersebut .

Ketakutan manusia akan wabah penyakit (baca: Virus Corona) merupakan fitrah yang tak dapat dibantah. Sebagai makhluk hidup, manusia memiliki keinginan untuk tetap hidup dan sehat, baik secara fisik- biologis mapun psikologis atau dalam bahasa agama sehat jasmani maupun ruhani. Tidak ada satupun manusia yang ingin terganggu kesehatannya akibat penyakit. Oleh sebab itu kesehatan adalah sesuatu yang sangat penting dan mahal harganya. Kesehatan merupakan karunia Tuhan yang tak terhingga. Tetapi siapa yang bisa mengira bahwa karunia yang besar itu bisa saja rusak akibat penyakit atau dicabut dan diangkat oleh Sang Maha Kuasa. Lalu mengapa ketakutan seperti saat ini terjadi?

Sudah banyak dokter, para ahli kesehatan, dan bahkan pemerintah mencoba mengatasi permasalahan itu, tapi tetap masih menimbulkan ketakutan dan keresahan, sehingga ada yang menolak upaya pemerintah untuk tempat observasi dan isolasi warga yang bersentuhan langsung dengan daerah Wuhan (seperti di Natuna, Kepri).

Jika melihat informasi yang beredar baik media sosial maupun media elektronik, pemerintah sudah berusaha mencarikan solusi yang tepat namun apa yang diupayakan itu hanya mengandalkan kekuatan tehnologi dan ilmu pengetahuan yang terbatas, sehingga orgumentasi yang terbangun dalam usaha penanganan tersebut hanya bersifat rasional-analisis alias mengandalkan aqal sementara aqal manusia sangat terbatas dan kadang-kadang hanya mencerminkan keangkuhan manusia tanpa merasa ada campur tangan Tuhan.

Melihat kecenderungan masyarakat global dan dengan kemajuan teknologi transportasi dan era perdagangan bebas kini, interaksi sosial antarnegara tak dapat dibendungi sehingga bisa saja berisiko menimbulkan gangguan kesehatan dan penyakit baru atau penyakit lama yang muncul kembali dengan penyebaran yang lebih cepat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan dalam masyarakat. Inilah yang sedang kita alami saat ini, sehingga menyebabkan ketakutan masyarakat sedemikian rupa. Sekali lagi bahwa upaya pemerintah dan berbagai badan organisasi kesehatan telah melakukan upaya penanganan, baik dalam bentuk cegah tangkal penyakit terhadap faktor risiko kesehatan secara komprehensif dan terkoordinasi, maupun dengan melakukan kerjasama dengan unsur-unsur sumber daya, peran serta masyarakat, dan kerja sama internasional. Oleh sebab itu sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia telah berkomitmen melakukan upaya untuk mencegah terjadinya kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan itu sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Upaya ini tentu tidak lepas dari apa yang diamanatkan dalam regulasi internasional di bidang kesehatan, dengan menghormati martabat, hak asasi manusia, dasar-dasar kebebasan seseorang, dengan penerapan secara universal.

Karena kesehatan sangat erat kaitannya dengan fitrah penciptaan manusia, maka sudah sepatutnya upaya dan solusi terhadap problematika wabah Virus Corona tidak semata-mata hanya diupayakan melalui persefsi dan pendapat rasional pendekatan medis dengan mengemukakan data dan fakta kongkrit tetapi upaya yang dilakukan sejatinya disandarkan pada nilai keimanan dan keyakinan serta dasar ketuhanan yang kuat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa Dialah yang telah mentakdirkan wabah virus dan sederetan wabah lainnya di bumi ini. Dengan demikian berarti kita telah meletakan kembali kesadaran fitrah kita dan menyadari kelemahan dan keterbatasan manusia di hadapan Sang Maha Pencipta, tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak-Nya.

Apabila hal ini yang menjadi tolok ukur maka apapun aktivitas, usaha dan ikhtiar manusia maka tidak akan lepas dari dasar ketuhanan dan kepercayaan manusia itu. Disinilah urgensinya, bahwa kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan dasar-dasar ketuhanan dan keyakinan dan secara prinsip inilah yang kita sebut dengan Theologi Kesehatan.

Teologi dari bahasa Yunani; theos, yang berarti “Tuhan”, dan, logia, berarti ; “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana” atau kadang disebut ilmu agama adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Sedangkan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial, dan ekonomis (KBHI: 1987) Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan, dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan. Dengan demikian Theologi Kesehatan yang kita maksudkan disini adalah upaya pencegahan kesehatan akibat wabah virus yang melanda dengan tidak hanya mengandalkan kekuatan medis dan tehnologi modern semata tetapi upaya secara holistic melibatkan Kekuasaan dan takdir Ilahi sebagai sumber kekuatan dan keimanan dalam kehidupan manusia.

Kegelisahan manusia akan wabah penyakit merupakan sensitivitas kejiwaan yang paling esensial dalam diri manusia. Esensi ini muncul dari dalam diri manusia dan senantiasa berhubungan dengan keyakinan akan adanya kekuasaan Tuhan terhadap dirinya. Sejatinya manusia tidak ingin menderita, susah, sakit dalam hidupnya. Karena itu manusia selalu mencari jalan keselamatan diluar kemampuan dirinya. Keselamatn itu tidak lain adalah pertolongan dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.

Secara pradigmatik, hubungan antara Tuhan dan manusia terletak dalam dogtrin agama (baca: Islam) tentang Tauhid. Doktrin ini, sebagai mana dikatakan Al-Faruqi (1980) menjadi pandangan dunia (weltanschauung) yang memberikan penjelasan secara holistic tentang realitas kehidupan manusia. Dalam pandangan dunia tauhid, terdapat tiga prinsif penting tentang realitas.

Pertama, dualitas. Prinsif ini menyatakan bahwa realitas hanya terdiri dari dua jenis; khaliq dan makhluk. Dalam hal ini makhluk harus tunduk kepada ketentuan khalik. Kedua, ideasionalitas. Diantara khaliq dan makhluk terdapat hubungan ideasional yang memungkinkan manusia dapat memahaminya dalam pengertian immateri yang didalamnya terdapat ketentuan-ketentun yang aksiomatik berupa hukum alam (sunnatullah). Ketiga, teologi. Yaitu pemahaman manusia tentang keyakinan yang ada dalam kerangka relasi-relasi ideasional bukan bersifat positivistic atau materialistic, melainkan bersifat irrasional dan transendental. Pandangan yang disebut terakhir inilah kita maksud dengan prinsip tauhid dimana setiap realitas bersifat teleologis, artinya mempunyai tujuan transcendental yang erat kaitannya dengan keyakinan adanya Yang Maha Kuasa di luar diri manusia.

Dengan pandangan tauhid ini, dapat dijelaskan bagaimana seharusnya manusia menjaga kesehatan fisik, memposisikan diri dalam semesta penciptaan , dan bagaimana semestinya manusia memperlakukan nikmat kesehatan pada dirinya. Dalam ajaran Islam kesehatan adalah nikmat dari Tuhan yang wajib disyukuri. Konsekuensinya tidak lain bahwa manusia wajib menjaga dan merawat serta memelihara kesehatan secara seimbang antara kesehatan jasmani dan kesehatan ruhani.

Dalam upaya penjagaan keseimbangan kesehatan demikian itu diperlukan unsur kesadaran manusia itu sendiri, yaitu kesadaran yang muncul dari keyakinan adanya kehendak Tuhan di luar dirinya. Kesadaran ini merupakan refleksi iman yang tertananm dalam hati sanubari yang paling dalam.
Manusia tidak dapat membohonginya karena kesadaran bersifat fitrah-kodrati. Kesadaran ini merupakan fungsi jiwa, yang sekaligus menjadi aktivitas kejiwaan yang tiada berubah kapan dan dimanapun.

Sebagai mahkluk Tuhan manusia memiliki sifat dan watak selalu melindungi diri dari berbagai bahaya yang mengancam, termasuk ancaman kesehatan seperti viorus corona yang saat ini mewabah. Ancaman tersebut baik yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya.

Secara theologis manusia mempunyai tiga unsur yang perlu mendapatkan perhatian, perlindungan dan pembinaan yang seimbang, yaitu badan (jasad), nyawa (nafs), dan roh (ruh). Keutuhan seorang manusia manakala sudah memiliki ketiga unsur ini. Dari unsur-unsur tersebut , manusia menjadi makhluk yang seimbang dan sempurna penciptaannya. Dengan itu pula, manusia menjadi makhluk biologis sekaligus sebagai makhluk spiritual. Dua kapasitas ini memungkinkan dirinya mengakses dua dunia yang berbeda, yaitu dunia fisika dan metafisika, atau dunia lahir dan dunia batin.
Sekalilagi wacana perlindungan kesehatan manusia dan masyarakat di abat ini seringkali hanya menggunakan indikator-indikator fisik. Faktor spiritual-rohaniah seringkali diabaikan, dan bahkan banyak para pakar, dan para ahli kesehatan yang kita lihat di media sosial mereka hanya semata mengandalkan rasio dan teknologi dalam upaya penanganan kesehatan padahal dalam tujuan penciptaan manusia dan alam ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan Allah SWT.

Sebagian mereka berdalih karena faktor ini sulit diukur, sehingga ontologi kesehatan masyarakat mengalami kuantifikasi dan sekularisasi. Seolah-olah semua konsep kesehatan masyarakat yang berasal dari luar, seperti konsep kesehatan masyarakat yang ditawarkan oleh agama dan nilai-nilai budaya lokal cenderung tidak diakui. Ironisnya indikator dan kriteria kesehatan masyarakat lebih banyak diintrodusir dari negara-negara maju (Barat), yang background nilainya berbeda dengan nilai budaya Timur yang memiliki dasar Ketuhanan yang kuat.

Dalam perspektif agama (baca: Islam) upaya menciptakan kesehatan masyarakat menjadi satu paket dengan kumulatif ajarannya. Tanpa menyebut secara eksplisit kesehatan masyarakat, jika keseluruhan ajaran agama diterapkan secara konsisten di dalam masyarakat maka paling tidak dan bahkan secara otomatis akan berdampak langsung pada penyehatan masyarakat. Oleh sebab itu kita berharap pemerintah dan seluruh masyarakat dapat kembali mengurai persoalan wabah virus corona melalui pendekatan teologis, sehingga masyarakat kita tidak hanya menggerutu ketakutan dengan saling menyalahkan satu sama lain tetapi dengan bijak mengambil sikap dengan sadar bahwa apapun yang terjadi ada kaitannya dengan konsekuensi penciptaan manusia. Pada akhirnya menyadarkan kita bahwa apapun yang kita lakukan akan kembali akibatnya kepada kita semua. Semoga Virus Corona segera diangkat Allah SWT agar kesehatan masyarakat kembali seperti semula.***

News Feed