by

LDK dalam Mengisi Pendidikan Islam di Kampus

  • Oleh: Deni Yupiki, Kaderisasi Forsi Universitas Ibnu Sina

Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) IV yang diadakan di Universitas Riau Kepulauan tanggal 7-8 Desember 2019 merupakan momentum untuk kembali merevitalisasi semangat Aktivis Dakwah Kampus (ADK) di Kepulauan Riau. Forum yang mempertemukan perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari hampir seluruh kampus yang ada di Kepulauan Riau ini merupakan ajang 2 tahun sekali yang difungsikan sebagai sarana komunikasi antar LDK guna membahas perkembangan dakwah di masing-masing kampus.

LDK sendiri muncul di Indonesia pertama kali oleh gagasan Muhammad Natsir dan teman–teman atas kegelisahan mereka terhadap kemunduran umat islam terutama pemahaman pada berbagai bidang keilmuan termasuk politik. Di saat yang sama, umat muslim yang belajar di berbagai kampus di Indonesia juga tidak memiliki pemahaman islam yang baik sehingga kurang mampu untuk mempresentasikan ajaran islam. Hasil usaha Muhammad Natsir dan teman-teman dalam pergerakannya yaitu mulai munculnya embrio LDK yang diawali dari kampus-kampus besar di Indonesia terutama Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak awal kemunculannya, LDK sendiri telah mengalami perkembangan pesat tak terkecuali di Kepulauan Riau. Dalam 15 tahun terakhir, bersamaan dengan semakin berkembangnya kampus-kampus di Kepulauan Riau baik negeri maupun swasta, telah ada sedikitnya 15 LDK yang tersebar di Batam, Bintan dan Tanjung Balai Karimun. Yang terbaru, dengan resmikannya Universitas Ibnu Sina (UIS), menjadi momentum lahirnya LDK dengan nama Forum Studi Islam (FORSI) UIS.

Kebutuhan kampus terhadap LDK dapat dilihat dari sangat kurangnya sarana pembelajaran Islam terutama pada kampus-kampus umum. Mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) biasanya hanya diajarkan pada semester 1 atau 6 bulan pertama perkuliahan. Kecuali mereka yang memang mengambil program studi yang berkaitan dengan agama Islam.

Dalam pelaksanaan kegiatannya sendiri, LDK memiliki beberapa tahapan dengan objek dakwah seluruh masyarakat kampus yang secara khusus ialah mahasiswa yang tergabung dalam keanggotaan LDK, maupun yang secara umum mahasiswa, manajemen, dan karyawan kampus. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Tahap Perkenalan dan Penyampaian
Dalam tahapan pertama ini, fokus kegiatan berada pada penyampaian pengetahuan keislaman. Tujuan dalam tahapan ini adalah memperkenalkan objek dakwah terhadap pengetahuan islam sekaligus menjadi peduli terhadap perkembangan islam. Ini merupakan bagian dari program syiar yang disosialisasikan dengan berbagai sarana.

Tahap Pembinaan
Fokus utama dalam tahapan ini berada pada mahasiswa yang telah bergabung menjadi anggota LDK. Tak menutup kemungkinan juga pada tahapan ini dilaksakan terhadap objek dakwah secara umum. Tahap pembinaan ini ditujukan guna membentuk pribadi melalui pendidikan berkala, serta dengan proses latihan pelaksaan amal-amal islam yang nyata dan pemberian pemahaman islam secara mendalam.

Tahap Pengorganisasian
Tahapan setelah pembinaan ialah saat dimana individu mulai bersinergi dalam mencapai tujuan bersama. Pada tahapan ini setiap individu akan dibagi tugas dan fungsinya sehingga pelaksaan dakwah dapat berjalan secara baik dan teratur.
Tahap Pelaksaan

Pelaksaan merupakan bentuk transformasi objek dakwah menjadi subjek dakwah. Pada tahapan ini individu yang awalnya dibina, ikut serta dalam memikirkan pelaksanaan dan menjadi pemeran dalam kegiatan dakwah.

Dalam perkembangan LDK, tentu dibutuhkan kerjasama antara manajemen kampus dan LDK itu sendiri. Manajemen kampus harus menyadari kebutuhan sarana pembelajaran islam yang tak berhenti hanya pada semester 1 dan LDK harus mampu menjadi sarana yang mengisi kekosongan itu. Diharapakan dengan sinergisitas itu, kampus mampu melahirkan ahli-ahli di berbagai bidang keilmuan dengan basis pemahaman Islam yang baik.***

News Feed