by

Rusdi Menangis Dituntut 15 Bulan Penjara Kasus Karhutla

TANJUNGPINANG (HK)- Rusdianto alias Rusdi (43), terdakwa dugaan kasus akibat kelalaiannya dengan sengaja membakar hutan dan lahan (Karhutla) di jalan Nusantara Kilometer 20, Desa Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Kamis (31/6) lalu, tidak kuasa menahan tangis setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut dirinya selama 1 tahun 3 bulan (15 bulan) penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (5/12).

Selain tuntutan tersebut, JPU Okky Fathoni Nugraha SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintan juga menjatuhkan hukaman denda kepada terdakwa Rusdi sebesar Rp10 juta, namun jika tidak dibayarkan dapat diganti dengan kurungan selama 3 bulan.

“Perbuatan terdakwa dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (4) Jo Pasal 50 ayat (3) huruf d UU RI Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan,”ucap JPU.

Mendengar tuntutan JPU tersebut, majelis hakim dipimpin Sumedi SH MH didampingi dua hakim anggota, Guntur Kurniawan SH dan Jhonson Sirait SH MH memberikan kesempatan untuk terdakwa maupun Penasehat Hukum (PH), Annur Syaifuddin SH yang mendampingi untuk menyampaikan pembelaan.

“Kami sepakat dengan pasal yang dituntut JPU tersebut, namun kami tidak sependapat dengan lamanya masa hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa. Untuk itu, kami mohon pertimbangan majelis hakim yang mulia untuk dapat meringankan hukuman atau hukuman yang seadil-adilnya bagi terdakwa,”ucap PH terdakwa.

Sementara terdakwa Rusdi sendiri ketika ditanyakan oleh majelis hakim tentang tanggapannya atas tuntutan JPU tersebut mengakui semua kesalahanya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut.

“Saya mengaku salah dan menyesali akibat kelalaian saya tersebut. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Saya mohon keringanan hukuman, karena saya merupakan tulang punggung bagi keluarga saya dalam mencari nafkah,”ucap terdakwa Rusdi dengan nada bahasa terbatabata dan berurai air mata dihadapan majelis hakim.

Dalam sidang terungkap, perbuatan terdakwa berawal, Kamis 31 Juli 2019 sekira pukul 09.00 WIB, memulai aktifitas di kebun milik saksi I Nengah untuk membuat patok batas kebun menggunakan cangkul.

Selanjutnya terdakwa membersihkan lahan tersebut menggunakan parang, karena merasa risih dengan banyaknya ranting di area tersebut dan mengumpulkannya, kemudian membakarnya menggunakan mancis gas. Setelah ranting tersebut mulai terbakar, terdakwa meninggalkan titik yang telah terbakar itu dengan melanjutkan pembuatan patok batas dari semen.

Pada saat membuat patok tersebut, terdakwa melihat api sudah menjalar dan membesar. Lalu terdakwa berusaha memadamkan api dengan mencari air. Namun karena air terbatas, api terlebih dahulu menjalar dan membesar hingga merembet ke wilayah hutan lindung Gunung Lengkuas.

Tidak lama kemudian, warga datang berusaha membantu memadamkan api bersama pihak Pemadam Kebakaran (Damkar) dan pihak kepolisian. Api akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas sekitar pukul 16.00 WIB, beberapa jam kemudian.

Selanjutnya, terdakwa dibawa oleh pihak kepolisian ke Polsek Bintan Timur, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Akibat kelalaian terdakwa membakar ranting, menyebabkan kebakaran kawasan Hutan Lindung seluas 1.071 meter pesegi dan Areal Peruntukan Lain (APL) bukan kawasan hutan seluas sekitar 6.841 meter persegi. Hal itu diperoleh berdasarkan pengecekan lapangan dan pengambilan titik koordinat lokasi kebakaran dan setelah dipetakan oleh petugas KPHP Unit IV Kabupaten Bintan. (nel)

News Feed