by

Pak Tricky

  • Cerpen: Fery Heriyanto

Kami biasa menyapanya ‘Pak Tricky’. Dia begitu dekat dengan warga, baik tua, muda, anak-anak, wanita, maupun pria. Pak Tricky suka menolong saat ada warga yang butuh bantuan. Setiap hari lelaki paroh baya itu melintas di jalan-jalan komplek perumahan. Pagi, biasanya dia sarapan di warung Mbak Ijah. Saat siang, dia ada di pangkalan ojek atau pangkalan taksi plat hitam di depan komplek perumahan. Sedangkan kalau malam, dia biasa ngopi di kedai Bang Ed. Atau, jika ada kawan, dia main domino di pos ronda bersama beberapa warga.

Pak Tricky sudah bermukim di komplek perumahan sebelum kami tinggal. Bahkan, menurut banyak warga, lelaki 50-an tahun itu, sudah tinggal sebelum perumahan dibangun. Konon, dulunya dia buruh saat perumahan dibangun. Lalu, ketika proyek selesai, dia tetap tinggal di gudang material bangunan di sudut komplek dekat parit besar. Karena lahan gudang itu diperuntukan untuk fasum, atas kesepakatan warga, Pak Tricky dibuatkan rumah kecil disitu, sekalian bisa membersihkan fasum dari semak dan rumput liar.

Meski kesehariannya lalu lalang di komplek perumahan, Pak Tricky dapat honor dari RT atas jasanya ikut membantu ronda. Tiap bulan kabarnya dia mendapatkan honor yang bisa untuk hidupnya sebulan. Selain itu, dia juga kadang dapat “tips” dari warga saat dia diminta membantu, apakah perbaiki atap rumah, mengecat rumah, potong rumput, dan lainnya. Tak jarang dia menolak tips yang diberikan warga. Alasanya, dengan diberinya dia rumah kecil di fasum itu, dia sudah merasa senang. Dengan diterimanya dia menjadi warga komplek perumahan, dia sudah sangat bahagia dan berterima kasih.

“Nggak usah repot-repot, Pak. Jika ada yang bisa saya bantu, akan saya kerjakan. Tak usahlah ada amplopnya,” ucapnya pada seorang warga saat diminta untuk mengecat pagar rumahnya yang sudah mulai pudar.

Namun begitu, warga yang memberikan tips juga ikhlas. Saat sudah dipaksa, mau tak mau Pak Tricky terima juga tips warga tersebut.

Tidak sedikit juga warga yang percaya pada dia. Misalnya, minta bantu bayarkan listrik, air, jemput anaknya pulang sekolah, dan menjaga rumahnya jika ada yang pulang kampung. Intinya, Pak Tricky ibarat menjadi “staf umum” jika di sebuah perusahaan. Apapun yang menjadi kebutuhan dan yang perlu dibantu untuk warga, dia siap.

**

Suatu hari, ada pemuda datang ke komplek perumahan. Dia bertanya apakah ada warga di perumahan kami yang bernama “Cohyo”. Seingat kami, tidak ada warga komplek yang bernama seperti yang ditanyakan itu. Saat ditanyakan lebih lanjut tentang ‘Cohyo’, pemuda itu tidak bisa menyebutkan secara utuh profil orang yang dicarinya itu. Sebab dia pun belum pernah bertemu orang yang dicarinya itu. Setelah saling bertanya sesama warga dan tidak mendapatkan nama yang dicari, pemuda itu pun pamit. Kami menganggap dia salah alamat.

Namun, beberapa hari kemudian, dia datang lagi dan menanyakan nama yang sama. Kali ini dia membawa foto yang sudah agak kabur. Namun, sayang foto tersebut tidak begitu jelas. Saat ditanya dari mana pemuda itu, dia menjawab bahwa dia mendapat tugas dari ayahnya mencari pamannya yang sudah lama tak pulang.

“Ayah saya mengatakan jika paman kami ini sudah tidak pernah pulang sejak 43 tahun lalu. Awal-awal dia merantau, dia sempat berkirim kabar pada kakek dan nenek kami, jika dia ada di kota ini,” ucap pemuda itu.

Lalu, lanjutnya, setelah beberapa tahun setelah itu, pamannya itu tidak pernah lagi berkirim kabar. “Komunikasi terputus,” ucapnya.

Dilihat dari penampilannya, pemuda itu tampak dari kalangan orang berstatus sosial tinggi. Sebab, penampilannya lumayan rapi, tutur katanya cukup baik. Dan dia datang dengan kendaraan yang terbilang mahal.

“Ketika kakek kami meninggal, paman itu tidak pulang. Selama ini, keluarga sudah mencoba mencari tahu keberadaan beliau, tapi tidak pernah bertemu,” ucapnya lagi.

“Sampai keluarga besar ayah berkesimpulan jika paman kami ini sudah meninggal. Dan sudah mengikhlaskan beliau,” terang pemuda itu lagi.

“Namun, dua bulan lalu, ada warga desa kami mengatakan jika dia pernah melihat paman kami di kota ini. Keluarga ayah bagai dapat petunjuk. Namun, sebagian masih ragu. Lalu, setelah berembuk, saya ditugaskan untuk mencari tahu. Jika memang paman kami ini sudah tiada, minimal kami ingin melihat pusaranya,” paparnya lagi.

Namun, warga yang bicara dengan pemuda itu tetap tidak bisa membantu. Setelah cukup lama berbincang, pemuda itu pun pamit. Tapi, dia sempat meninggalkan nomor kontaknya, jika ada petunjuk soal keberadaan pamannya, dia minta mohon dikabari.

**

Suatu malam, beberapa hari setelah pemuda itu berkunjung untuk kedua kalinya, saat minum bandrek di kedai Bang Ed, seorang warga menyampaikan kedatangan pemuda itu pada warga yang ada di situ.

“Siapa warga kita yang bernama ‘Cohyo’?” tanya seorang warga.

“Rasanya tak ada. Yang baru pindah kemarin itu pun bukan itu namanya,” timpal yang lain.

“Sepertinya pemuda itu ingin sekali jumpa pamannya,” balas yang lain.

Tiba-tiba Pak Tricky datang. “Pak Tricky tahu warga kita bernama ‘Cohyo’?”

“Cohyo?” tanya Pak Tricky agak kaget.

“Kok kaget, kenapa, Pak?” tanya warga yang lain.

“Nggak apa-apa. Ada apa ya, Pak?” balas Pak Tricky.

Lalu, seorang warga menceritakan kedatangan pemuda yang mencari pamannya. Setelah mendengar keterangan warga itu, Pak Tricky, terdiam. Beberapa saat kemudian dia berkata, “Mungkin yang dicari pemuda itu saya, Pak,” jawab Pak Tricky agak pelan.

“Memangnya Pak Tricky bernama ‘Cohyo’?” tanya yang lain.

“Ini dia ada meninggalkan nomor teleponnya. Cobalah telpon,” kata warga pada Pak Tricky. Setelah mendapat nomor pemuda itu, dia langsung menelponnya.

**

Besoknya, sekitar ba’da Ashar, Pak Tricky dan sejumlah warga berkumpul di rumah Ketua RT. Mereka tengah menunggu keluarga Pak Tricky yang akan tiba seusai komunikasi malam sebelumnya.

Sekitar 30 menit menunggu, mobil warna putih tiba. Pemuda yang datang dua kali itu turun bersama tiga lelaki paroh baya. Pak Tricky sangat terkejut. Begitu juga lelaki paroh baya yang baru tiba itu. Sejenak mereka saling berpandangan.

“Mas Cohyo…!” ucap seorang dari mereka yang langsung memeluk Pak Tricky.
“Mas…Mas..lama mas tak pulang…!” ucap yang lainnya saling berangkulan. “Mas…rindu kami sama, Mas..” ucap mereka berurai air mata.

Beberapa saat mereka saling berangkulan dan menangis. Kemudian mereka saling bertatapan dan kembali berangkulan. Pak Tricky tak bisa menyembunyikan harunya. Kemudian warga mengajak tamu tersebut masuk ke rumah Ketua RT. Pak Tricky dan saudara-saudaranya seperti tidak mau dipisahkan. Mereka duduk berdekatan dan saling berpegangan tangan. Mata mereka masih basah oleh air mata.

“Alhamduillah, Mas..kami bisa bertemu lagi dengan Mas,” ucap yang agak muda.
“Lama Mas tidak pulang..semua mencari mas…rindu kami sama mas…” ujarnya lagi.

Pak Tricky tampak tak percaya. Digenggam eratnya tangan saudara-saudaranya itu. Setelah beberapa saat, salah  seorang dari tamu itu pun mulai bicara pada warga dan Ketua RT.

“Maaf, Bapak-Bapak…Beliau ini kakak kami. Beliau sudah merantau sejak masih remaja karena susahnya hidup di kampung,” terang lelaki yang berkaca mata.

“Sejak merantau, beliau tidak pernah pulang. Awal-awal ada berkirim kabar. Tapi, setelah itu, tidak ada lagi. Selama beliau tinggalkan rumah, kami merasa kehilangan. Sudah kami cari kemana-mana. Alhamdulillah, hari ini sudah kami jumpa,” papar yang lainnya.

“Maaf, apakah Pak Tricky bernama ‘Cohyo’?” tanya Ketua RT.

“Iya, Pak.. Di kampung dulu dan dalam keluarga, saya disapa ‘Cohyo’,” balas Pak Tricky.

“O..gitu. Tapi, kenapa disini dipanggil Pak Tricky?” tanya seorang warga.

“Nama lengkap saya Trio Cohyo Kyono. Lalu, oleh kawan-kawan dulu, saya disapa Tricky, diambil dari ujung-ujung nama saya. Nama itu melekat sampai sekarang,” jelas Pak Tricky tersenyum.

“Oooo..begitu…,” ucap warga berbarengan. Dan semua pun tertawa. ***

Perumahan Cendana, Batam Centre, 31 Januari 2019

Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater O USU Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri.***

Comment

News Feed