by

Menteri Kelautan dan Perikanan Panen 300 Kg Bawal Bintang di BPBL Batam

BATAM (HK) – Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (MKP-RI), Edhy Prabowo, mendukung masyarakat Batam dan Kepri ke depan, untuk dapat membudayakan lopster, sebagai potensi perikanan di daerah.

Sehingga, pengembangan budidaya lopster itu dapat meningkatkan taraf perekonomian serta kebutuhan protein dan gizi. Sehingga, generasi muda di Kepri pada umumnya bisa bertambah pintar dan cerdas cerdas.

“Kita mendukung masyarakat nelayan maupun pengusaha Batam dan Kepri untuk kedepanya, agar dapat mengembangkan potensi budidaya perikanan laut, dan perikanan di darat, sebagai salah satu sumber perekonomian yang kokoh, masyarakat. Sehingganya taraf kehidupan dan perekonomian masyarakat akan menjadi lebih baik,” kata Edhy Prabowo, Rabu (13/11) siang, ketika panen ikan laut di keramba jaring apung (KJA), Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL), Batam, di Setokok.

Selain itu, paparnya, peningkatan penghasilan ikan laut tersebut tentunya bisa meningkatkan persentase nilai pertumbuhan ekonomi daerah secara menyeluruh.

“Apabila perekonomian masyarakat di Batam serta Kepri meningkat, tentunya pertumbuhan persentase perekonomian pemerintah daerah juga meningkat pula. Karena APBD akan naik,” ujar Menteri Perikanan dan Kelautan RI ini.

Terkait adanya penggagalan dan penangkapan terkait aksi penyelundupan bibit lopster keluar negeri oleh aparat penegak hukum, jelas Edhy, tentu MKP memberikan apresiasi yang tinggi. Meski pun MKP sangat menyayangkan tindak lanjut dalam penanganan akhirnya.

“Saya sudah menerima informasi dari nelayan, para ahli perikanan, pihak terkait, serta media, tentang penanganan terhadap dipenangkapan hasil selundupan lopster, yang nilainya hingga miliaran rupiah, oleh aparat penegak hukum,” sebut MKP-RI.

Namun sayang, imbuhnya, di dalam penangan akhir terhadap ratusan ribu “bibit lopster” hasil penangkapan tersebut, dilepaskan kembali ke alam liar, tanpa dapat diselamatkan.

“Hasil penelitian para ahli perikanan, bibit bibit lopster yang dilepasliarkan ke alam liar, hanya satu persen saja yang bisa selamat dari biota laut lainnya,” ungkap Edhy Prabowo.

Artinya apa, sebut Edhy, tindakkan pelepasan liar itu, tidak dapat menyelamatkan bibit bibit lopster itu sendiri dari mahkluk pemangsanya.

“Nah, kalau lah demikian faktanya. Untuk apa dilakukan. Maka, lebih baik kita hibahkan dan dibudidayakan oleh masyarakat nelayan atau Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan), dengan persentase akan bisa diselamatkan hingga 70 persen lebih,” paparnya.

Artinya apa, tegas Edhy Prabowo, sayang kan, nilai ekonomi miliaran rupiah dari lopster akan hilang tanpa ada sebuah pemanfaatan secara ekonomis.

“Memang, hal ini atas kebijakan pihak menteri yang lalu dengan aturan main yang dibuatkan. Tapi, aturan tersebut akan bisa kita kaji ulang sebagaimana kebijakan dan program presiden RI, Joko Widodo, untuk peningkatan hasil laut serta perikanan, secara nasional,” terang MKP.

Dalam kunjungan kerja MKP-RI tersebut, turut dihadiri Dirjen Kementerian Perikanan, Wakil Gubernur Riau, Bupati Lingga, Bupati Meranti, Wakil Bupati Karimun, Wakil Walikota Batam, Stakeholder Kepri, Pengusaha Budidaya Ikan dari Dumai, Pokdakan Mitra Laut, masyarakat nelayan Batam serta sejumlah Pokdakan lain nya dari Kabupaten Karimun dan TPI.

Di dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor BPBL Batam, Toha Tusihadi mengungkapkan, peran BPBL ialah, bagaimana melakukan satu transfer teknologi perikanan pada masyarakat, khususnya di dalam membudayakan ikan laut, demi mendukung program perikanan nasional

“Di BPBL Batam, saat ini kami sudah berhasil mengembangkan pembenihan Bawal Bintang, kakap putih, ikan hias Nemo dan ikan Banggai dengan baik. Sehingganya sebagian dari hasil pengembangan itu, dihibahkan ke masyarakat nelayan melalui Pokdakan sebagaimana atas program pemerintah,” kata Toha Tusihadi.

Sedangkan untuk pelepasan kembali ke alam liar, ungkapnya, untuk kali ini melalui Menteri Perikanan dan Kelautan RI, Dirjen Perikanan dan stakeholder Kepri, kita melepaskan ikan sebanyak 3.700 ekor ikan, dengan berukuran dari 2 centimeter, atau berumur 2,5 bulan.

“Diantaranya 3000 ekor ikan Kakap Putih, 500 ekor Ikan Nemo serta 200 ekor Ikan Banggai. Sedangkan ikan yang dipanen hari ini adalah, sebanyak 300 Kilogram Bawal Bintang,” sebut Toha Tusihadi.

Sedangkan bibit ikan yang sudah dihibahkan ke masyarakat, ungkapnya, untuk tahun 2019 ini sudah sebanyak 125 ribu ekor. “Sementara itu untuk tahun 2020, jumlah permintaan dari kelompok budidaya ikan nelayan bertambah,” ungkap Kepala BPBL Batam ini.

Dari itu, imbuh Toha, kami BPBL Batam butuh tambahan dukungan anggaran, agar kita bisa memenuhi permohonan masyarakat nelayan untuk dapat melakukan pembudidayaan ikan.

“Insya Allah, tahun anggaran 2020 nanti, akan ada peningkatan jumlah bantuan bibit ikan ke kelompok budidaya ikan (Pokdakan), nelayan dan kelompok koperasi nelayan,” pungkasnya.

Sementara itu, dari Pokdakan Mitra Laut serta kelompok nelayan lainnya di Batam dan Kepri, berharap ke pemerintah pusat melalui Menteri Perikanan serta Kelautan, dapat memberikan mendukung dalam meningkatan pendapatan, maupun penghasilan masyarakat nelayan dari bidang usaha pembudidayaan, penangkapan, dan transportasi ikan laut di Batam dan Kepri.

“Kepri ini terdiri dari 96 persen lautan. Artinya apa, sumber ekonomi masyarakat Batam dan Kepri ini, tentu lebih terfokus kepada kelautan.
Maka, sarana serta prasarana perekonomian yang dapat dikembangkan masyarakat, tentu semua yang berkaitan dengan sarana lautan dan hasil perikanan dari masyarakat nelayan dengan melakukan pendampingan,” kata Nov Iwandra, Wakil Ketua Pokdakan Mitra Laut.

Sehingga, imbuhnya, apa yang diprogramkan oleh pusat untuk kesejahteraan di masyarakat nelayan, akan dapat diwujudkan dengan baik.
(vnr).

Comment

News Feed