by

Warga Jambi Tak Melihat Matahari

Jambi (HK)- Sepanjang hari ini, warga Kota Jambi tidak melihat sinar matahari karena terhalang kabut asap yang kian pekat. Sejumlah warga menyebut kabut asap kali ini melebihi fenomena kabut asap 2015.

“Saya bisa pastikan mungkin kabut asap yang terjadi Minggu ini lebih parah dari fenomena kabut asap tahun 2015. Saya kira ini lebih pekat dari dulu,” kata Hendra, salah seorang warga Jambi yang juga ASN di kota itu, yang dikutip dari Antara, Minggu (22/9).

“Tidak ada matahari, sejak pagi,” ucapnya.

Sudah beberapa hari ini tidak ada terik matahari yang menerpa bumi Kota Jambi karena diganti dengan asap berwarna abu-abu di jalan. Bahkan sejak pukul 15.00 WIB hingga sore hari, langit Jambi berubah menjadi kuning akibat kabut asap itu.

Sementara itu, kabut asap juga menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut). Hal itu berdampak pada kegiatan operasional bandara.

Tak hanya operasi Bandara Kualanamu yang terganggu, tapi juga Bandara Silangit yang berada di Siborong-borong, Tapanuli Utara (Taput), Sumut. Seluruh penerbangan di bandara tersebut harus dibatalkan.

“Dikarenakan kabut asap, tidak ada pergerakan pesawat di Bandara Silangit. Semua airlines cancel,” ujar Kepala Bandara Silangit Iwan Sutisna, Minggu (22/9).

Total, ada lima penerbangan yang di-cancel di Bandar Silangit. Baik penerbangan dari maupun ke Bandara Silangit.

“Pesawat yang cancel hari ini, Wings Air IW 1297 KNO – DTB seharusnya berangkat pukul 08.20 WIB; Citilink QG-881 CGK – DTB; Citilink QG-021 HLP – DTB; Sriwijaya SJ 890 CGK – DTB cancel flight karena alasan operasional. Air Asia AK-411 KUL – DTB keberangkatan 11.25 WIB sempat mengudara namun akhirnya Return To Base kembali ke Kuala Lumpur dan akhirnya cancel flight,” ungkapnya.

Pembatalan jadwal penerbangan itu akibat dampak kabut asap yang mengganggu jarak pandang.

“Dikarenakan visibility, sampai saat ini berdasarkan laporan Unit Meteorologi dan Geofisika Bandara Silangit berkisar 1.500 meter,” tuturnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Pekanbaru. Empat pesawat batal mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru akibat kabut asap. Dari empat pesawat itu, ada yang kembali ke kota asal dan mengalihkan pendaratan ke kota lain.

Officer in Charge Bandara SSK II Pekanbaru Benni Netra mengatakan Batik Air 6856 dan Lion Air JT 296 mengalihkan penerbangan ke Hang Nadim, Batam. Sedangkan dua lainnya kembali ke bandara awal.

“Empat pesawat yang melakukan holding (berputar-putar di udara) divert (mengalihkan penerbangan),” kata Benni, yang dikutip dari Antara, Minggu (22/9).

Batik Air 6856, yang terbang sejak pukul 06.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta, sempat berputar-putar lebih dari dua jam lamanya di langit Pekanbaru sebelum akhirnya memilih terbang menuju Hang Nadim pada pukul 10.00 WIB. Hal yang sama dilakukan pilot Lion Air JT 296 dari Yogyakarta.

Sementara itu, Citilink QG 936 terpaksa kembali ke Bandara Soekarno-Hatta setelah sempat berputar-putar di udara akibat kesulitan mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru. Begitu juga Malindo Air OD 362 asal Subang, Kuala Lumpur, yang kembali ke Malaysia karena tidak memungkinkan melakukan pendaratan.

Di Jambi Minggu sore, sejumlah kendaraan roda empat menyalakan lampu kabut untuk memastikan aman di jalan. Tebalnya kabut asap juga ‘menghilangkan’ Jembatan Gentala Arasy, yang membentang di atas Sungai Batanghari, tepatnya di depan rumah dinas Gubernur Jambi.

Jembatan untuk pejalan kaki yang merupakan ikon Kota Jambi tersebut nyaris tak tampak di mata saat dilihat dari dekat Pasar Angso Duo Kota Jambi karena tebalnya kabut asap.

“Mungkin ini kabut asap paling pekat dalam beberapa hari terakhir ini di Kota Jambi, langit juga menguning. Saya berharap besok tidak lebih parah dan segera turun hujan,” ungkap Hendra.

Hal yang sama diungkapkan beberapa warga lainnya yang mengaku suasana Minggu sudah mirip dengan kejadian kabut asap pada 2015.

“Ya hampir mirip, bahkan di daerah Kumpeh Muaro Jambi , Sabtu kemarin, langit di sana sampai memerah, dan kendaraan harus menggunakan lampu besar,” kata Nana, warga Kota Jambi lainnya.

Kian Pekat

Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Jambi terlihat kian pekat di Medan, Sumatera Utara. Jarak pandang pun kian terbatas.

Pada Minggu (22/9) sekitar pukul 10.30 WIB, jarak pandang sekitar 400 meter saja. Situasi itu merata terjadi di seluruh 21 kecamatan di Medan.

“Sejak musim kabut asap ini, dua minggu belakangan, hari ini rasanya yang paling buruk,” kata Indra, salah seorang pengendara motor, di Jalan Sisingamangaraja.

Kendati kabut asap kian tebal, belum banyak yang terlihat menggunakan masker. Sebagian warga juga tampak bersepeda di sejumlah ruas jalan.

Kabut asap kiriman mulai melanda Medan dalam dua pekan terakhir. Biasanya, dalam sebentar saja, kabut lantas menghilang karena hujan yang turun, tapi beberapa hari ini hujan tak turun. (dtc)

Comment

News Feed