by

Kekeringan Landa Padang, 10.000 Liter Air Dibagikan

PADANG (HK)-Pemerintah Kota (Pemko) Padang kembali mendistribusikan air bersih kepada warga yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Kali ini sekitar 10.000 liter air bersih yang dibawa dua mobil tangki didistribusikan kepada warga RT 04, RW 04 Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Minggu (22/9) sore.

“Hari ini, kita kembali mendistribusikan air bersih kepada warga yang kekeringan akibat kemarau. Lokasinya di Batang Arau, Padang Selatan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Padang, Sutan Hendra yang dihubungi Kompas.com, Minggu (22/9).

Sutan menyebutkan akibat kemarau panjang yang melanda sekitar dua bulan terakhir membuat warga kekurangan air bersih. Kemarau itu, kata Hendra membuat sumur warga kekeringan sehingga kekurangan air bersih.

“Mayoritas warga yang membutuhkan air bersih adalah warga yang menjadikan sumur sebagai sumber airnya. Karena kemarau, sumur mereka kering,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota menyalurkan 10.000 liter air bersih ke warganya yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Ada sejumlah titik di Kota Padang yang mengalami kekeringan dan membutuhkan air bersih seperti di Padang Selatan, Lubuk Kilangan dan lainnya.

Salah satu daerah yang disalurkan air bersih adalah warga yang berada di RT 01, 02, 03 dan 05, RW 05, Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Sebelumnya aksi yang sama telah kami lakukan di Padang Besi, Lubuk Kilangan dan sejumlah titik lainnya.

Juga Kekeringan

Kondisi serupa juga terjadi di Kulon Progo. Sumur warga mengering di Pedukuhan Junut, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Air tidak lagi mengalir ke rumah-rumah warga.

Kepala Dukuh Junut, Ngatijah, 45 tahun, mengungkapkan, warga mengandalkan sumur-sumur umum yang berada di daerah yang tinggi. Sumur sengaja tidak digali dalam, namun airnya berlimpah ruah pada musim hujan.

Warga memasang pipa dan mengalirkannya menggunakan selang 0,5 inchi menuju rumah-rumah di tempat yang lebih rendah. Airnya bisa dimanfaatkan puluhan kepala keluarga di Junut bagian lereng yang atas.

“Kondisi berbeda pada musim panas seperti sekarang. Sumur tidak mengalir. Terpaksa warga harus menunggu di mata air itu, mengisi jeriken, dan dipikul,” kata Ngatijah, Sabtu (21/9).

Bukit Menoreh tidak diguyur hujan sejak Juni 2019. Kawasan lereng menjadi tandus. Kebun-kebun berubah menjadi warna coklat karena guguran daun layu. Ngatijah mengungkapkan, kondisi seperti ini terjadi berulang kali terjadi tiap musim kemarau yang panjang.

Dusun mereka selalu menjadi salah satu yang paling parah hingga langganan memperoleh bantuan air bersih dari pemerintah maupun pihak ke-3. Warga Junut 200-an jiwa. Kebanyakan bekerja sebagai buruh tani di desa maupun kecamatan tetangga. Kontur dusun miring pada lereng bukit.

Mereka mendiami lereng bawah dan atas. Warga di lereng atas sebanyak 2 RT yang paling kesulitan air bersih. Debit mata air sumur semakin mengecil, mereka tak lagi menarik selang. Warga berduyun ke sumur dan antre dari subuh. “Yang kerja di sawah ladang pagi sampai siang, sorenya antre juga untuk ambil air bawa ke rumah,” kata Ngatijah.

“Sekarang kita nunggu di sana sambil nyiduki (menggunakan gayung) pelan-pelan sampai satu jeriken,” kata Ngatijah.

Ada yang menunggu sambil membawa tumpukan pakaian kotor. Tetapi rata-rata, tiap kepala keluarga antre untuk mendapatkan 15-35 liter air dengan jeriken. Mereka lantas menggendongnya hingga ratusan meter. “Setidaknya 2 jeriken per hari cukup. Hanya bisa untuk masak dan minum saja cukup, tapi kan perlu juga untuk cuci piring,” katanya.

Anggota Komunitas Relawan Sing Nganggo Wolu Selawe (Komunitas Renggolawe), Joko Martono mengungkapkan, tidak hanya Junut yang mengalami kekeringan dan kurangnya air bersih.

Masih ada 6 dusun dari 14 dusun yang ada di Purwoharjo yang juga mengalami kekeringan ekstrem. Terlebih memang di daerah itu berada pada ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Joko yang mantan Kepala Desa Purwoharjo ini mengungkapkan, selain Junut ada Dusun Plarangan, Puyang, Kalinongko, dan Bangunharjo. Rata-rata dusun didiami 70-130 kepala keluarga. Komunitasnya, kata Joko, kerap membantu memfasilitasi bantuan pemerintah agar sampai tepat sasaran pada masyarakat.

“Termasuk membantu meringankan warga yang kekurangan air. Kondisi ini kekurangan air, hari ini bisa dilaksanakan di masyarakat yang benar membutuhkan,” katanya.

Kepala Dukuh Junut mengungkapkan, kesulitan air di musim kering bahkan sudah dirasa sebelum tahun 2004 sampai sekarang. Banyak warga yang sudah menggali sumur antara 15-20 meter.

Tapi, pada puncak kemarau sumur tetap mati. Bantuan pemerintah pun jadi jalan keluar. “Ya terpaksa sabar saja seperti ini, setiap kali dropping harus bagi-bagi gini. Kalau tidak sabar antre ambil di sumur, dan harus nyiduki. Sekarang nyelang (menggunakan selang) berhenti. Sekarang bareng-bareng (sama-sama) ambil air ke sana,” katanya.(dtc/kcm)

Comment

News Feed