by

Warga Resah, Solar di Tanjungpinang Langka

TANJUNGPINANG (HK) – Langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar terjadi di sejumlah titik Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri menimbulkan antrian kendaraan yang panjang, Selasa (3/9).

Begitu juga yang terjadi di SPBU Bintan Center Batu 9, tampak puluhan mobil jenis truck berjajar menunggu antrian mengisi solar di SPBU Tersebut. Fenomena itu membuat puluhan sopir truk mengeluh, hal ini juga terlihat di SPBU Batu 10, Tanjungpinang.

Salah satu sopir Pick-Up Air Bersih, Windra warga Batu 9 mengungkapkan sudah mengantri sejak pukul 13.00 Wib di SPBU Batu 10. Solar baru tiba di SPBU sekitar pukul 14.00 Wib, dirinya baru mendapatkan giliran mengisi hingga pukul 15.30 Wib. 

“Lebih kurang 2,5 jam mengantri di sini, terkadang sudah menunggu antrian lama, belum sempat terisi solar sudah habis. Kelangkaan dan antirain panjang ini sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir ini,” keluh Windra.

Windra berharap, kelangkaan BBM jenis solar tersebut dapat segera teratasi agar aktifitas kerja para supir bisa kembali lancar dan tepat waktu sampai di tujuan. Melihat kondisi ini, Windra menduga ada permainan, karena sebelum-sebelumnya tidak seperti ini dan lancar-lancar saja. 

“Dengan keadaan seperti ini kami mohon dengan sangat kepada pihak terkait untuk segera menangani kelangkaan solar ini, agar solar tidak lagi sulit didapatkan sehingga tidak menghambat dalam pekerjaan,” pintanya.

Sementara itu, Walikota Tanjungpinang Syahrul mengatakan antrian panjang di SPBU bukan karena kelangkaan BBM jenis solar. Namun hal tersebut terjadi karena adanya keterlambatan pendistribusian ke SPBU yang ada di Tanjungpinang.

“Saya sudang memanggil Pak A.Yani (Kepala Dinas Perdagangan Dan Perindustrian Kota Tanjungpinang) untuk duduk bersama membahas hal tersebut. Jadi bukan kelangkaan, tetapi mobilitas transportasi pengangkut solar ke SPBU itu yang lambat dan armadanya kurang,” ungkap Syahrul.

Dengan kekurangan itu, lanjut Syahrul pendistribusian solar harus ke Tanjung Uban dan keliling lagi di daerah Bintan, baru kembali ke Tanjungpinang. “Sehingga ada keterlambatan, jadi bukan solarnya tidak ada, stoknya tersedia, dan kuota tidak dikurangi. Cuman adanya keterlambatan dalam pendistribusian,” pungkas Syahrul. (rco)

Comment

News Feed