by

Polisi Identifikasi Akun YouTube dan FB #Diduga Picu Rusuh Manokwari

Jakarta (HK)- Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri sudah mengidentifikasi akun media sosial yang diduga mem-posting video provokatif terkait mahasiswa Papua.

“Sementara dua, di YouTube dan Facebook. Itu lagi di-profiling,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (19/8).

Dedi menjelaskan konten video di akun YouTube yang dipantau sudah dihapus. Namun Dedi meyakini jejak digital video tersebut masih dapat dilacak.

“Meskipun di YouTube sudah dihapus, video tersebut, jejak digital akan didalami Direktorat Siber,” ujar Dedi.

Dedi menuturkan hasil penyelidikan sementara, kedua akun tersebut dimiliki orang yang berbeda. “Beda (pemilik). Sementara itu dulu,” imbuh dia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sepat melambatkan akses internet di beberapa wilayah Papua untuk mencegah hoax yang beredar terkait aksi massa di Papua. Pelambatan akses dilakukan secara bertahap.

Pelambatan akses/bandwidth sudah dilakukan sejak pukul 13.00 WIT. Mulai malam ini waktu setempat, akses telekomunikasi sudah dinormalkan.

“Sehubungan dengan situasi di wilayah Papua sudah kondusif, mulai malam ini, pukul 20.30 WIT, akses telekomunikasi sudah dinormalkan kembali. Dapat kami sampaikan bahwa tujuan dilakukan throttling adalah untuk mencegah luasnya penyebaran hoaks yang memicu aksi,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemkominfo RI Ferdinandus Setu secara terpisah.

Sementara Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo akan mempertemukan Gubernur Papua, Papua Barat, dan Jawa Timur (Jatim) di Surabaya. Tjahjo mengajak para gubernur itu bertemu untuk membicarakan terkait mahasiswa Papua di Surabaya.

“Baru saja saya telpon dengan Pak Gubernur Papua beliau akan segera mencari waktu tepat ke Jawa Timur ketemu dengan Gubernur Jawa Timur. Saya minta juga mengajak Gubernur Papua Barat dengan saling memaafkan saling ketemu saling silaturahmi,” kata Tjahjo, kepada wartawan di kantor, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (19/8).

Selain saling bertemu antar gubernur, dengan datangnya Gubernur Papua ke Surabaya dapat menyambangi para mahasiswa Papua. Tjahjo menilai pertemuan tersebut menjadi kunci saling komunikasi dan berdialog.

“Dan Pak Gubernur Enembe (Gubernur Papua) bisa ketemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang ada di Malang, di Surabaya, untuk berdialog akan baik karena kuncinya membangun komunikasi dan membangun berdialog dengan baik,” ujar Tjahjo.

Tjahjo tidak menjelaskan pertemuan tersebut kapan akan dilangsungkan. Namun Tjahjo menegaskan pertemuan tersebut akan terjadi Surabaya.

“Mungkin nanti akan ketemunya di Surabaya. Tidak (di Jakarta), lebih baik di Surabaya,” ucapnya.

Selain itu, Tjahjo menjadikan kerusuhan Manokwari sebagai pelajaran. Dia meminta semua pihak saling memaafkan dan tidak terprovokasi.

“Saya kira kasus Manokwari itu pelajaran kita bersama. Arahan Bapak Presiden jelas mari kita saling memaafkan, manusia kadang khilaf, yang penting jangan terprovokasi,” imbuh Tjahjo.

Tjahjo pun meminta kepada semua pihak untuk hati-hati di dalam menyampaikan pendapat. Semua pihak diminta menjaga pernyataannya agar tidak menyinggung pihak lain karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan agama.

“Saling memaafkan dan juga termasuk saya dan semua pihak harus hati-hati menjaga pernyataan, menjaga statement jangan sampai menyinggung perasaan siapapun karena negara kita negara yang beragam beraneka suku, kelompok agama yang tentunya sangat sensitif maka semangat saling memaafkan saya kira penting untuk dikedepankan,” pungkas Tjahjo.

Gelar Pertemuan

Saat bersamaan, sejumlah ormas di Surabaya yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Akbar (Silatbar) Arek Suroboyo mengadakan pertemuan. Mereka memastikan kondisi Kota Pahlawan aman dan tidak ada pengusiran warga Papua usai penyerbuan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan.

“Kita sudah berkumpul 7 tahun ya. Kita terdiri dari 35 elemen yang tergabung dalam Silatbar. Nah, dalam situasi ini kenapa kita berkumpul karena di dalam kami ada IKBPS (Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya),” kata ketua Pusura (Pemuda Surabaya) Hosli Abdullah kepada wartawan usai menggelar pertemuan di Jalan Yos Sudarso, Senin (19/8).

“Kemudian ada info yang saya kira tidak benar tentang adanya pengusiran mahasiswa Papua dari Kalasan. Kemudian ada intimidasi dan lain-lain,” imbuhnya.

Meski begitu, Hosli meminta agar masalah pembuangan bendera merah putih yang terjadi di asrama mahasiswa Jalan Kalasan harus diusut tuntas oleh aparat penegak hukum. Sebab, dengan pengusutan tuntas maka insiden tersebut tidak ditumpangi oleh kepentingan segelintir orang untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia.

“Kalau masalah pembuangan bendera itu harus diusut tuntas. Apalagi ingin memisahkan dari NKRI. Pasti itu semua orang bilang harga mati,” terang Hosli.

Hosli juga berharap kasus ini kemudian bisa diselesaikan secepatnya. Karena jika tidak dikhawatirkan akan berimbas menjadi sentimen antar suku.

“Dan ini keberagaman yang harus dibangun. Nah ini yang lagi ngetrend kan Papua. Ya mudah-mudahan tidak terjadi pada suku-suku yang lain ini kita akan mencoba menjalin komunikasi dengan IKBPS kemudian kami bisa mengobrol bersama bareng dalam silaturahmi akbar arek Suroboyo yang pada ujungnya Surabaya aman, kondusif dan tenteram. Nah ini yang dimaksud Jogo Suroboyo,” tambahnya.

Senada dengan Hosli, Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Pieter F Rumaseb yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan, kondisi Surabaya tidak ada masalah dan hidup rukun pasca-insiden penyerbuan di asrama.

“Yang perlu saya sampaikan pada saudara-saudara bapak, mama dan semua di Papua bahwa kondisi kita di Papua aman, tidak ada masalah, kita hidup rukun dengan warga kota yang lain bahwa jika ada informasi yang berkembang terkait adanya pengusiran warga Papua di Surabaya itu tidak benar,” ujar Pieter.

“Seperti tadi yang disampaikan oleh Cak dullah yang didampingi ormas yang tergabung dalam Forum Silatbar Arek Suroboyo. Kita sampaikan bersama bahwa kondisi Surabaya aman, damai dan kondusif. Jadi tidak ada pengusiran apalagi intimidasi dan sebagainya,” tambahnya.

Pieter juga mengimbau kepada masyarakat di Papua agar kembali beraktivitas seperti sediakala dan tidak terpancing dengan isu-isu yang berpotensi memecah-belah bangsa. Ia juga membantah tentang adanya isu meninggalnya warga Papua di Surabaya.

“Kami mengimbau agar beraktivitas seperti biasa tidak usah terpancing pada isu-isu provokasi yang berpotensi memecah-belah persatuan. Mari kita kembali beraktivitas dalam sehari-hari dalam hidup yang rukun, hidup yang damai dan hidup yang tenteram. Tidak benar ada yang meninggal. Itu hoaks,” pungkas Pieter.

Sebelumnya, kota Manokwari dilanda kerusuhan yang diduga dipicu oleh sentimen rasial yang terjadi sebelumnya di Surabaya. Saat ini kota Manokwari dan beberapa kota lainnya di Papua sudah kembali kondusif dan tenang. (dtc)

Comment

News Feed