by

Investigasi Pungli Dendang Melayu – Memastikan Siapa Pelakunya

SAGULUNG (HK) — Indikasi Pungutan Liar (Pungli) yang terjadi di Dendang Melayu atau tepatnya di Jembatan I Barelang, ditanggapi serius Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam.

Kadisbudpar Kota Batam, Ardiwinata mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan investigasi, guna memastikan siapa pelakunya, apakah pribadi atau lembaga.

“Iya sudah kita dapat informasi tersebut, kita masih lakukan investigasi kelapangan,” kata Ardiwinata ke Haluan Kepri, Senin (19/8) siang.

Sebelumnya Pemko Batam menggenjot kunjungan wisatawan, tapi kondisi di lapangan belum didukung upaya semua pihak. Pasalnya masih ada oknum yang memanfaatkan situasi untuk melakukan Pungutan liar (Pungli) demi mengambil keuntungan pribadi, termasuk di kawasan wisata.

Seperti yang terjadi di kawasan wisata Dendang Melayu, atau Jembatan I Barelang hingga ketempat parkiran yakni meminta pengunjung membayar tarif Rp5 ribu sekali parkir kendaraan roda dua, sementara mobil ditarik Rp10 ribu. Dan beberapa bulan lalu, petugas parkir ilegal di lokasi tersebut sempat diamankan polisi.

Tidak hanya itu, di bawah jembatan yang terdapat dua saung yang menghadap ke jembatan dan dibangun oleh pemerintah, turut dipungut bayaran sebesar Rp25 ribu bagi yang ingin duduk di dalamnya.

Oknum yang mengambil pungli tersebut beralasan dirinya hanya menjalankan tugas dari Pemerintah Kota Batam.

“Saya hanya menjalankan tugas, kalau sewa bisa duduk sepuasnya,” kata oknum pemungut uang yang tidak mau menyebut identitasnya tersebut, Minggu (18/8) siang.

Berdasarkan informasi yang didapat, bahwa pengunjung yang memanfaatkan saung tersebut untuk berteduh, malah diusir. Bahkan, ingin duduk atau berteduh harus membayar biaya sewa terlebih dahulu.

Diketahui, ada 6 unit saung yang juga dibangun buka oleh pemerintah seperti 4 unit di pojok kiri Dendang Melayu dan 2 lainnya di dekat Tanjung Penarik. Bahkan, saung-saung tersebut terlihat sederhana dibanding dua saung yang dibangun pemerintah.

Namun yang parahnya, untuk saung yang dibangun tersebut dipatok sewa Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Sementara fasilitas lain yang tak lepas juga dari pungutan adalah toilet yang dikenakan bayaran Rp2 ribu.

Di lokasi oknum yang memungut tarif penggunaan toilet adalah seorang wanita paruh baya, pria dewasa, serta anak kecil.

“Saya kira gratis duduknya mas. Toilet juga bayar kok disana,” kata pengunjung di Dendang Melayu. (ded)

Comment

News Feed