by

DPRD Dukung Pembudayaan Makanan Lokal

NATUNA (HK)- Anggota DPRD Natuna, Eri Marka mendukung program Pemerintah Kabupaten Natuna yang digagas oleh Dinas Ketahanan Pangan dalam membudayakan makan makanan lokal.

Hal ini kata Eri Marka karena pola konsumsi masyarakat sekarang yang mulai berubah dari makanan lokal ke yang lebih modern atau cenderung ke makanan cepat saji.

“Menyantap makan makanan lokal atau khas daerah perlu dilestarikan dan di budayakan. Seperti makanan yang bersumber dari sagu, ikan, ubi-ubian maupun dari sayur sayuran lokal,” ujar Eri Marka.

Eri Marka menyebutkan, hampir di setiap kesempatan sebagian besar masyarakat Natuna lebih suka menyantap makanan modern atau cepat saji ketimbang masakan yang diolah sendiri.

“Kalau dibandingkan dengan makan lokal atau makanan yang diolah olah sendiri, makanan cepat saji itu belum tentu aman dan sehat untuk tubuh,” sebut Eri Marka.

Selain itu dengan membiasakan menyajikan makanan khas daerah turut mendorong peningkatan ekonomi masyarakat terutama para petani.

“Dengan demikian, hasil pertanian masyarakat yang dijual di pasar seperti sagu, umbi-umbian dan lainnya tentunya akan laku dan juga meningkatkan ekonomi warga,” ujar Pilitisi Partai Golkar tersebut.

Untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten Natuna ini terang Eri Marka, tentunya diperlukan payung hukum atau regulasi yang sah seperti Peraturan Daerah (Perda).

“Untuk mendukung program tersebut tentunya dibutuhkan Perda atau payung hukumnya. Insya Allah di tahun 2019 ini juga akan kita bahas,” terang Eri Marka.

Ia menargetkan tahun 2020 nanti sudah ada Perda membudayakan makan makanan lokal.

“Target kita tahun 2020 nanti sudah ada Perda Membudayakan Makan Makanan Lokal,” imbuh Eri Marka.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Natuna, Sri Hariningsih ketika didampingi Kasubag Perencanaan, Eli Yanti dan Kasi Keamanan Pangan, Yulia Indah beberapa waktu lalu menerangkan dari 7 macam buah-buahan yang diambil sampel secara acak dari sejumlah pedagang di Kota Ranai setelah diuji cepat melalui Rapites diketahui ada yang terpapar zat kimia dan pestisida.

“Sebagian besar buah-buahan yang datang dari luar Natuna ada yang memakai zat pengawet. Hanya saja masih kategori sedikit,” kata Sri tanpa menyebut nama buah yang berformalin tersebut.

Selain itu tambah Sri, 9 macam sayur mayur seperti Bayam, Terong, Timun, Sawi, Cabe Merah, Cabe Hijau, Bawang dari perkebunan lokal juga didapati yang ada yang masih mengandung pestisida.

“Khusus untuk sayur mayur lokal tak ada yang berformalin. Hanya saja masih ada pestisidanya. Untuk itu kita imbau kepada masyarakat untuk mencuci bersih sebelum dimasak. Agar pestisidanya terurai serta tak termakan dan masuk dalam tubuh,” tambah Sri.

Jika zat kimia atau bahan pengawet dan pestisida masuk dalam tubuh dalam jumlah yang banyak, tentunya akan berdampak pada kesehatan tubuh.

“Makanya sayuran atau buah-buahan yang pakai pestisida dianjurkan untuk di panen dan dikonsumsi 15 hari setelah disemprot,” kata dia.

Kemudian lanjut Sri, Pemerintah Kabupaten Natuna melalui Dinas Ketahanan Pangan berupaya dan mengimbau kepada masyarakat untuk membudayakan makan makanan lokal.

“Budaya mengkonsumsi makanan lokal dapat melestarikan budaya daerah selain meningkatkan ketahanan pangan masyarakat,” imbuh Sri.

Bangga dengan makan makanan lokal merupakan bagian dari mendukung visi dan misi Pemetintah Kabupaten Natuna. Yakni mewujudkan Masyarakat Natuna yang Cerdas dan Mandiri dalam Kerangka Keimanan dan Budaya Tempatan.

“Dinas Ketahanan Pangan akan selalu mendukung visi dan misi Pemerintah Kabupaten Natuna untuk mewujudkan masyarakat Natuna yang Cerdas dan Mandiri dalam Kerangka Keimanan dan Budaya Tempatan,” ucap Sri. (fat)

Comment

News Feed