by

Rodi Ancam Laporkan Andi Cori #Ngaku Pernah Berikan Sejumlah Uang

TANJUNGPINANG (HK)- Rodi Antari, Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan Bidang Sumber Daya Alam (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPR) Provinsi Kepri, mengancam akan melaporkan Andi Cori Fatahuddin alias Cori ke polisi atas kasus pencemaran nama baik, saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (8/8).

Hal itu terkait salah satu keterangan Andi Cori kepada majelis hakim di PN Tanjungpinang.
Andi mengaku pernah memberikan uang kepada Rodi melalui orang dekatnya Sabaruddin alias Udin dalam bentuk pecahan mata uang asing senilai 10.000 $ dolar. Uang tersebut merupakan hasil penjualan pelat baja.

Namun tudingan Andi Cori itu langsung dibantah oleh Rodi. “Saya tetap pada keterangan semula, dan satu persen pun saya tidak ada menerima uang atas penjualan pelat baja tersebut,” ujar Rodi di hadapan majelis hakim.

Rodi Antari, dalam sidang tersebut, hadir sebagai saksi bersama Kadis PUPR Kepri, Abu Bakar, termasuk Staf Ahli Gubernur Kepri, Heru Sukmoro, beserta dua staf PUPR Kepri lainnya.

Usai sidang, Rodi sempat menyampaikan kekesalannya atas tudingan Andi Cori tersebut.
“Perkataan Andi Cori tersebut sudah mencemarkan nama baik saya. Saya tidak terima dan akan melaporkannya ke polisi,”kata Rodi pada sejumlah wartawan.

Sebelum sidang, Andi Cori sempat meluapkan kemarahan dan ancamannya kepada salah seorang petugas pengawalan dari Kejari Tanjungpinang. Hal itu, karena ia tidak mau diborgol sesuai standar operasional prosedur (SOP) tahanan jaksa pada saat keluar dari sel tahanan Pengadilan Negeri Tanjungpinang untuk menjalani sidang.

“Tunggu saya keluar nanti,” ucap Cori bernada keras yang diborgol bersama terdakwa, Andrie Usmar saat keluar sel menuju ruang. Namun sikap Andi Cori tersebut membuat petugas jaksa ini berang dan menantang balik.

Dalam sidang kali ini, saksi Rodi Antari yang juga PPTK dalam kegiatan proyek pembangunan Jembatan I Dompak senilai ratusan miliar APBD Kepri tahun 2012 tersebut menunjukan sejumlah bukti dokumen atas kepemilikan plat baja, sisa pembangunan proyek Jembatan I Dompak tersebut menjadi milik Pemprov Kepri.

Hal tersebut setelah PT Nindya Karya selaku pemenang pekerjaan proyek mengajukan gugatan, setelah Pemprov Kepri tidak dapat melanjutkan kegiatan proyek, dikarenakan anggaran yang tidak tersedia.

Berdasarkan hal itu, jelas Rodi, akhirnya PT Nindya Karya melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tanjungpinang karena tidak melakukan pembayaran di tahun 2012. Berselang waktu sehingga hakim menjatuhkan putusan memerintahkan Pemprov Kepri untuk membayar ganti rugi sebesar Rp40 miliar kepada PT Nindya Karya.

“Dari hasil gugatan berakhir perdamaian, setelah Pemprov Kepri bersedia membayarkan kerugian yang dialami PT Nindya Karya sebesar Rp35 miliar, sehingga plat baja sebagai
kontrak yang telah dibeli oleh PT Nindya Karya menjadi milik Pemprov Kepri,” kata Rodi.

Pembayaran tersebut, lanjut Rodi, telah dihitung oleh BPKP melalui pembutan Berita Acara (BA) serah terima dari pihak PT Nindya Karya kepada Pemprov Kepri.

“Salah satu item yang dihitung oleh pihak BPKP, termasuk sisa plat baja tersebut yang menjadi milik Pemprov Kepri,” ungkap Rodi.

Rodi menyebutkan, setelah proses pembayaran selesai kepada PT Nindya Karya, kemudian Pemprov Kepri melanjutkan pembangunan Jembatan I Dompak dan dimenangkan oleh PT Wijaya Karya (Wika) pada tahun 2014 hingga selesai dilaksanakan.

Menyangkut tentang plat baja sisa pembangunan Jembatan I Dompak yang hilang, Rodi mengatakan pihaknya sempat melihat adanya pihak yang mengangkat plat baja itu mengunakan mobil lori crane oleh Andi Cori Patahuddin dan kawan-kawan

“Namun ketika saya tanyakan, mereka jawab sudah izin dari Kepri I (Gubernur, Nurdin Basirun-red),” kata Rodi.

Mendapat jawaban tersebut, Rodi lantas memberitahukan kepada pimpinannya, yakni Abu Bakar selaku Kepala Dinas PUPR. Namun saksi Abu Bakar menyampaikan, pihaknya sudah menyampaikan kepada Kepri I, hal itu ternyata tidak benar.

“Pak Gubernur bilang, dia tidak ada memberikan izin terkait pengangkatan plat baja tersebut,” sahut saksi Abu Bakar.

Terdakwa Andi Cori Patahudin sebelumnya bersama rekan-rekannya (sidang terpisah) melakukan penjualan pelat baja sisa proyek pembangunan jembatan 1 Pulau Dompak tersebut ke beberapa titik penampungan.

Diantaranya, 24 keping ketempat penampungan besi tua di kilometer 18 Kijang, Bintan milik Arifin alias Au senilia Rp100 juta.

Selain itu, pelat baja spesifikasi lebar lebih kurang 1500 mm, panjang lebih kurang 6100 mm, dan tebal lebih kurang 30 mm dan berat lebih kurang 1.700 Kilogram milik Pemprov Kepri tersebut juga dibawa ke tempat atau gudang milik saksi Among di Kolometer 5 bawah Tanjungpinang sebanyak 63 keping senilai Rp380 ribu, dan 12 keping kepada saksi Sugi Rp150 juta di kawasan Pelabuhan Tanjung Unggat.

Akibat perbuatan terdakwa Andi Cori dan terdakwa Andru Usmar, bersama-sama saksi Syaiful, Sabarudin dan saksi Juliyanta, termasuk saksi La Mane Pemprov Kepri mengalami kerugian kurang lebih Rp. 630.000.000.

Perbuatan terdakwa sebagaiamana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (1) angka 4 KUHP, dan subsidair Pasal 362 KUHP. (nel)

Comment

News Feed