by

Kisah Guru Honor Ngajar Semua Mapel

Delianti Umasugi, salah seorang dari tiga guru honorer di SD di desa di Kabupaten Seram, Bagian Barat, dengan lebih dari 110 murid, mengatakan dia diminta untuk mengajar di kelas satu, kelas dua, namun karena kekurangan guru ia juga diminta untuk mengajar di kelas lain. Hampir tidak ada waktu istirahat bagi Delianti, karena harus mengajar pindah-pindah kelas.

“Saya mengajar kelas satu dan kelas dua ,sebenarnya tapi karena guru kelas tiga, empat, lima dan enam jarang masuk, (saya yang mengganti), jadi sistemnya ganti-ganti dan kalau ada yang masuk di kelas tiga dan empat, berarti saya masuk di kelas lima dan enam, pokoknya begitulah,” ceritanya.

Delianti membagi mengajar setengah jam di kelas 1, setenfah jam kemudian di kelas 2, dan setengah jam lagi di kelas tiga, begitu seterusnya. Ia merupakan lulusan perguruan tinggi di Ambon, memutuskan untuk kembali ke desanya setelah “menyaksikan anak-anak lebih banyak bermain di sekolah,” karena kekurangan guru.

Saat ini, kekurangan tenaga pengajar di Indonesia mencapai lebih dari 735.000, termasuk di daerah terpencil, menurut data dari Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Praptono. Mata pelajaran yang diajarkan juga tergantung situasi, cerita Adel. Di desa ini hanya ada satu SD dan satu SMP dan mereka yang ingin melanjutkan pendidikan biasanya pergi ke Ambon.

“Saya mengajar bahasa Indonesia, matematika, IPA dan lainnya. Pokoknya sesuai jadwal yang ada di ruangan. Kalau masuk kelas bertepatan sama mata pelajaran apa saja, sesuai jadwal,” katanya lagi.

Akibat kurangnya tenaga guru di SD itu, tujuh guru termasuk tiga honorer, tiga pegawai negeri sipil dan satu kontrak banyak siswa di kelas lima dan enam sekalipun yang belum bisa membaca, cerita Adel. “Saya tidak pikir honor, karena memang kita tidak bicarakan. Bagi saya, yang penting bisa mendapat kesempatan mengajar adik-adik kami di SD,” kata Adel dilansir dari aktivis perdamaian di Maluku yang melakukan kerja sosial baru-baru ini ke desa ini bersama anak-anak muda lain.

Penduduk desa di Seram Bagian Barat yang dapat ditempuh dengan kapal cepat selama tiga jam itu mayoritas adalah petani dan nelayan. Kondisi kurangnya guru di desa ini menyebabkan banyak anak yang ke sekolah namun hanya untuk bermain, kondisi yang telah terjadi bertahun-tahun. Banyaknya murid yang belum bisa baca dan tulis juga dikeluhkan Kepala Sekolah SMP, Hasan.

“Di SMP kendala yang beta temukan hanya ada pada siswa kelas 7. Karena mereka masih belum bisa baca tulis, jadi penerapan belajar baca tulis itu ekstra dilakukan untuk siswa kelas 7,” kata Hasan. Ia juga menambahkan kurangnya ketersediaan fasilitas penunjang untuk belajar termasuk buku-buku dan perpustakaan. (dbs)

Comment

News Feed