by

Dukung Prabowo Singkirkan Penumpang Gelap

Jakarta (HK)- Partai-partai koalisi pengusung Presiden Joko Widodo (Jokowi) kompak mendukung Ketum Gerindra Prabowo Subianto menyingkirkan penumpang gelap. Penumpang gelap ini dianggap sebagai pihak yang memanfaatkan Prabowo saja.

Isu soal penumpang gelap ini mulanya diungkapkan Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. Dasco menyebut ‘penumpang gelap’ itu mencoba memanfaatkan Prabowo untuk kepentingan mereka. Namun, menurut dia, Prabowo kemudian mengambil tindakan karena sadar telah dimanfaatkan.

Pernyataan itu dibenarkan politikus Gerindra Andre Rosiade, yang menyebut penumpang gelap itu bertujuan membuat situasi Indonesia kacau. Penumpang gelap juga ingin Jokowi disalahkan akibat kondisi itu.

“Orang itu ingin Indonesia chaos. Ingin Pak Jokowi disalahkan. Ingin Indonesia ini ribut. Pak Prabowo sebagai patriot dan negarawan menolak hal itu. Itulah penumpang gelap itu,” kata Andre Rosiade di Gado-gado Boplo, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (10/8).

Pada Minggu (11/8), beberapa partai koalisi pengusung Jokowi kompas mendukung Prabowo untuk menyingkirkan penumpang gelap. Salah satunya adalah PPP.

“PPP bersyukur bahwa pascapilpres ini Pak Prabowo dan teman-teman Gerindra juga bersikap tegas terhadap mereka yang masih terus dengan agenda dan cara-cara mereka itu, yakni dengan meninggalkannnya. Mereka menjadi tidak memiliki patron politik pada level nasional yang seperti sosok Pak Prabowo tersebut,” kata Sekjen PPP Arsul Sani.

Arsul mengatakan sejak awal PPP memang melihat indikasi adanya kelompok yang memanfaatkan Pilpres 2019 untuk kepentingan lain. Kelompok tersebut, menurut dia, menyebarkan politik identitas yang disertai fitnah dan hoax.

“PPP melihat bahwa dalam pilpres kemarin memang terindikasikan dengan jelas bahwa terdapat kelompok yang memanfaatkan pilpres ini tidak sekadar sebagai sarana kontestasi politik untuk memperjuangkan cita-cita memperbaiki rakyat dan negara ini. Tapi juga memanfaatkannya untuk kepentingan lain di luar itu, seperti memaksakan ideologi dan sistem politik tertentu dengan cara mengembangkan politik identitas yang disertai dengan fitnah, hoax, dan ujaran kebencian,” sebutnya.

Selain itu, PKB yang juga merupakan koalisi Jokowi turut angkat bicara. PKB meminta aparat penegak hukum segera menindaklanjuti isu tersebut.

“Info awal ini harus ditindaklanjuti agar tidak sekadar isu, agar hal-hal yang mengancam keutuhan negara bisa diatasi dengan cepat dan baik. Harus ada penegakan hukum yang baik,” kata Wasekjen PKB Daniel Johan saat dihubungi.

Daniel mengapresiasi sikap Prabowo yang kini disebut sudah menyingkirkan penumpang gelap tersebut. Namun, menurut dia, Prabowo dan Gerindra perlu mengungkapkan siapa penumpang gelap yang dimaksud agar masyarakat tidak menduga-duga.

“Kita apresiasi sudah terbuka dan menjelaskan kepada masyarakat, sehingga semua pihak juga bisa memahami persoalan secara jernih,” ucapnya.

Dukungan agar Prabowo menyingkirkan penumpang gelap juga datang dari PDIP. PDIP memuji kecerdasan dan kebijaksanaan Prabowo.

“Kita sangat hormat dengan otonomi Gerindra untuk menentukan sikap. Dan jika hal itu berdampak pada penghilangan kelompok penumpang gelap, maka itu karena kecerdasan dan kebijaksanaan ketum Prabowo Subianto,” kata politikus PDIP Eva Kusuma Sundari.

Eva berharap hubungan PDIP dengan Gerindra terjalin makin erat. Menurutnya, PDIP dan Gerindra memiliki kesamaan identitas sebagai partai nasionalis.

“Semoga ke depan hubungan PDIP-Gerindra makin erat, saling menguatkan melalui hubungan personal kedua ketum, karena platform kedua partai sama, yaitu nasionalis Pancasila,” ucapnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Ahmad Dasco, menjelaskan maksud pernyataannya terkait ‘penumpang gelap’ yang mencoba memanfaatkan sang Ketum Prabowo Subianto. Dasco menjelaskan ‘penumpang gelap’ itu bukan PA 212, namun dari eksternal koalisi.

“Saya nggak bilang (penumpang gelap) di koalisi 02, penumpang gelap bukan di koalisi 02. (Eksternal koalisi) iya, dan bukan PA 212, bukan ulama-ulama tercinta itu, bukan,” ujar Dasco, Jumat (9/8) malam.

Dasco kemudian mengamini pernyataan Ketum PA 212, Slamet Ma’arif yang menyebut ‘penumpang gelap’ itu bukan berasal dari kalangan PA 212. Dasco mengatakan Prabowo sosok yang cinta dengan ulama.

“Ya memang apa yang disampaikan PA 212 memang bukan, PA 212 kan juga banyak yang ya alumni 212 dan tentu para ulamanya, saya kan sudah bilang ada yang bilang harus yang dikorbankan emak-emak, ulama, kan Pak Prabowo nggak mau, kan Pak Prabowo cinta sama emak-emak dan ulama kan. Memang bukan mereka, memang bukan, klir,” tegasnya.

Anggota Dewan Pembina Gerindra Habiburokhman juga menegaskan yang dimaksud ‘penumpang gelap’ itu bukan ulama. Karena, si ‘penumpang gelap’ itu yang ingin mengorbankan emak-emak dan ulama.

“Soal penumpang gelap yang dimaksud Pak Dasco, yang jelas bukan ulama atau emak-emak. Justru dua elemen itu yang berpotensi dikorbankan oleh si penumpang gelap,” kata Habiburokhman.

Habiburokhman menjelaskan saat aksi 21-22 Mei banyak orang-orang yang agresif di lapangan. Dia menyebut ada oknum yang kerap memprovokasi agar ada bentrokan.

“Info yang saya dapat memang saat aksi 21-22 Mei banyak orang-orang tak dikenal yang terlihat sangat agresif di lapangan. Itulah makanya Pak Prabowo hindari aksi depan MK, karena khawatir makin banyak korban,” jelasnya.

Istilah ‘penumpang gelap’ ini awalnya disampaikan Dasco dalam pemaparan survei Cyrus Network di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8). Dasco mengatakan penumpang gelap itu gigit jari saat Prabowo ‘banting setir’.

“Tadi dibilang soal ‘penumpang gelap’, bukan karena kita singkirkan. Prabowo jenderal perang, Bos, dia bilang sama kita, ‘Kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan nggak terduga.’ Dia banting setir dan orang-orang itu gigit jari,” kata Dasco dalam pemaparan survei Cyrus Network di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8). (dtc)

Comment

News Feed